Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Features
  3. Ancaman krisis ekologi, Peniliti UNNES kembangkan alat konversi udara jadi air bersih

Ancaman krisis ekologi, Peniliti UNNES kembangkan alat konversi udara jadi air bersih

ancaman-krisis-ekologi,-peniliti-unnes-kembangkan-alat-konversi-udara-jadi-air-bersih
Ancaman krisis ekologi, Peniliti UNNES kembangkan alat konversi udara jadi air bersih
service

3 September 2025 at 15:26 (Updated on 4 September 2025 at 12:27)

Inovasi baru untuk mendapatkan air bersih dengan alat pengubah udara menjadi air minum dari Universitas Negeri Semarang.

Alat Atmospheric Water Maker (AWM) dari Unnes untuk konversi udara ke air. (Unnes)
Alat Atmospheric Water Maker (AWM) dari Unnes untuk konversi udara ke air. (Unnes)

Peniliti Universitas Negeri Semarang (UNNES) mengembangkan alat yang mampu mengubah udara menjadi air minum bersih. Alat ini diharapkan bisa menjadi solusi bagi Masyarakat yang dilanda kekeringan.

Alat yang dikembangkan Samsudin Anis ini bernama Atmospheric Water Maker (AWM). Mesin ini mengekstraksi kelembapan dari udara melalui proses filtrasi dan kondensasi. Air yang terkumpul kemudian dimurnikan hingga memenuhi standar air minum, menghasilkan air yang aman untuk dikonsumsi.

Gagasan ini lahir dari seringnya terjadi kekeringan di wilayah selatan Jawa dan kawasan timur Indonesia, daerah-daerah yang kerap menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih.

Samsudin mengatakan teknologi ini dirancang untuk menjadi penolong bagi warga yang mengalami krisis air. Ia berharap perangkat ini dapat menjadi inovasi nasional, mengingat Indonesia belum memiliki teknologi serupa.

“Ide ini berasal dari masalah nyata yang dihadapi masyarakat. Di beberapa daerah pesisir, termasuk Kalimantan, air memang banyak tetapi berupa air payau. Alat ini diharapkan bisa menjadi solusi,” ujar guru besar Unnes tersebut, diakses dari laman resmi, Rabu, 3 September 2025.

Untuk mengembangkan risetnya, Samsudin telah bekerja sama dengan perusahaan elektronik untuk menyiapkan produksi massal perangkat tersebut. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat langkah dari laboratorium menuju pasar, sehingga AWM dapat diakses oleh rumah tangga dan masyarakat di berbagai wilayah.

Mesin ini dirancang untuk digunakan baik di sektor publik maupun medis. Di rumah sakit dan fasilitas kesehatan, air yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan terapeutik dan klinis. Sementara bagi masyarakat umum, AWM berpotensi menjadi sumber air minum di rumah, kantor, hingga fasilitas publik.

Dengan ancaman kekeringan yang diperkirakan semakin parah di tahun-tahun mendatang, Atmospheric Water Maker bukan sekadar terobosan teknologi. Alat ini menawarkan solusi berkelanjutan dan inovasi yang berdampak nyata sesuai tantangan yang dihadapi masyarakat.

Faktor penyebab krisis air bersih

Dosen Fakultas Saintek UIN Sunan Kalijaga Noor Saif Muhammad Mussafi dalam tulisannya memaparkan hasil penelitian dari pakar hidrogeologi BRIN (2019), bahwa fenomena krisis air di Jawa ditengarai akan mengalami puncaknya pada tahun 2040.

Setidaknya ada tiga faktor, ancaman krisis air tersebut akan semakin nyata. Pertama, ketidakseimbangan antara persediaan dan permintaan air bersih. Dalam hal ini jumlah penduduk di pulau Jawa yang lebih dari separo populasi nasional dan masih terus bertumbuh tidak diiringi dengan peningkatan stok air. Apalagi dua tahun terakhir tren curah hujan di pulau Jawa cenderung mengalami penurunan.

Kedua, faktor antropogenik. Yaitu perilaku lalai manusia yang berpotensi menyebabkan bencana. Diantara perilaku antropogenik terhadap air yaitu (1) eksploitasi air untuk kebutuhan rumah tangga dan industri dan (2) alih fungsi lahan secara masif tanpa memperhatikan dampak ekologis. Ketiga, pencemaran air karena sampah dan limbah industri. Aktivitas keseharian rumah tangga seperti mandi dan mencuci pakaian, jika tidak dikelola dengan baik, dapat menyebabkan pencemaran sungai.

Di samping itu limbah industri yang tidak diolah secara cermat berpotensi mengandung bahan kimia beracun, logam berat, dan zat-zat berbahaya lainnya sehingga dapat menurunkan kualitas air, merusak ekosistem sungai, bahkan membahayakan kesehatan manusia.

“Berdasarkan fakta dan data tersebut, maka diperlukan kesadaran ekologis sebagai aksi nyata dalam mengantisipasi peluang bencana tersebut. Kesadaran ekologis dapat ditopang melalui berbagai kanal salah satunya mengaktivasi pengetahuan keagamaan kita terhadap fiqih ekologi,” tulis Noor Saif Muhammad Mussafi dikutip dari laman resmi.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.