Arsenal hingga saat ini masih bercokol di puncak klasemen liga Inggris. Tapi, bukan tidak mungkin klub bola asal Inggris ini melanjutkan puasa gelar kampiun liganya sejak tahun 2004, yang hanya nyaris digapai dalam tiga musim terakhir.
Asa juara Arsenal sempat menembus langit di awal April ketika memimpin sembilan poin dari rivalnya, Manchester City. Sekarang hidup matinya Arsenal harus ditentukan hingga pekan terakhir liga berakhir.
Musim lalu Arsenal ditikung Liverpool. Pada musim 2023-2024 mereka disalip Manchester City. Pun di musim 2022-2023 hal yang sama dilakukan oleh Manchester City.
Kini Arsenal kembali ke puncak klasemen setelah mengalahkan Fulham 3-0 di kandang. Sedangkan Machester City tertahan 3-3 ketika melawat ke Everton.
Para penggemar Arsenal, termasuk para pemain dan para staf, besar kemungkinan sudah siap untuk kembali menelan pil pahit yang sama di akhir musim ini karena kompetisi masih ketat. Namun setidaknya, ada beberapa strategi psikologi yang bisa membantu mereka untuk berjuang hingga titik darah penghabisan.
Trauma kejadian berulang
Setelah kekalahan beruntun melawan Bournemouth dan Manchester City, tim asuhan Mikel Arteta bisa menang meski dengan susah payah melawan Newscatle United 1-0.
Pola dari kekalahan beruntun tersebut sama. Arsenal kebobolan terlebih dahulu, lalu menyamakan skor, hingga akhirnya kebobolan lagi di babak kedua.
Hal ini seperti suatu gejala. Jika kita kebobolan di awal pertandingan, kita harus kerja keras untuk menyeimbangkan keadaan. Di parah waktu, para pemain yang seharusnya beristirahat terdampak dampak emosional untuk mengejar ketertinggalan sehingga menanggalkan pola pikir untuk menang.
Arsenal memang bisa dikatakan sedang di bawah tekanan yang mencekik. Dengan kata lain rasa cemas akan kekalahan lebih besar dari hasrat untuk menang.
Di sebuah klub sebesar Arsenal, pasti ada tim psikologis yang siap membantu. Berikut empat instrumen psikologis yang bisa digunakan untuk menjaga asa juara Arsenal hingga detik terakhir musim kompetisi.
1. Asah terus rutinitas
Konsistensi amat krusial bagi atlet karena prediktabilitas yang dihasilkan menciptakan ruang bagi pemain untuk menjadi performa terbaiknya.
Asumsi dasar konsep ini adalah jika kita terus berlatih hal yang sama, kita bisa memprediksi suatu hasil yang sama. Tidak peduli seberapa besar tekanan yang dialami, performa akan lebih stabil jika dibekali persiapan dan latihan rutin.
Rutinitas ini membentuk pola kebiasaan sebelum dan selama pertandingan seperti beberapa atlet mungkin lebih suka mandi, atau berdoa, melakukan visualisasi, atau bermeditasi sebelum pertandingan.
Selama pertandingan, banyak yang memilih untuk menarik napas dalam-dalam sebelum melakukan tendangan penalti (seperti Cristiano Ronaldo). Sementara yang lain mungkin memfokuskan pandangan pada satu titik di bola sebelum menembak.
Kuncinya adalah, psikologi olahraga membantu kesiapan atlet sejak sebelum pertandingan bergulir yang berpengaruh positif terhadap performa.
2. Berlatih untuk selalu sadar penuh
Tekanan mental dapat memberikan dampak yang sangat buruk pada para atlet.
Ketika mengalami stres emosional, tubuh atlet cenderung meningkatkan kadar kortisol (hormon stres), yang menyebabkan kekakuan otot. Hal ini dapat memengaruhi performa.
Untuk menanggulanginya, pakar pendidikan stres terkemuka, Jon Kabat-Zinn, mengembangkan metode pengurangan stres berbasis kesadaran. Ini adalah serangkaian teknik yang mencakup meditasi pernapasan, alokasi fokus penuh pada setiap momen, dan gerakan tubuh seperti yoga untuk meningkatkan pengaturan emosi.
Ketika diuji secara empiris pada atlet, meditasi ini menunjukkan efektivitas yang signifikan untuk meningkatkan fokus perhatian (kemampuan untuk memfokuskan perhatian pada suatu tugas sambil menghindari gangguan).
Penerapan teknik mindfulness secara terpisah atau dikombinasikan dapat membantu Arsenal mencapai konsistensi yang dibutuhkan di babak-babak akhir ini.
3. Berbicara pada diri sendiri tentang semangat positif
Rasa kurang percaya diri dan takut melakukan kesalahan dapat membuat atlet gugup di saat-saat genting. Hal ini memengaruhi pengambilan keputusan dan memperlambat eksekusi.
Contohnya, seorang bek sayap mendapatkan bola di sisi pertahanan dan mencari opsi. Ia dapat memberikan umpan terobosan untuk menembus lini pertahanan lawan atau mengumpan ke belakang kepada bek tengahnya.
Jika ia ragu-ragu dalam momen genting sepersekian detik ini umpan ke depan dapat dicegat dan umpan ke belakang mungkin mendapat tekanan, yang menyebabkan kesalahan fatal.
Untuk mengatasi keraguan diri tersebut, psikolog olahraga dapat mengajarkan atlet untuk mengubah pola pikir mereka dan menciptakan dialog internal yang lebih efektif untuk menyelesaikan tugas dengan lebih baik.
Riset membuktikan menginstruksikan diri sendiri bisa meningkatkan performa para pemain.
Dalam contoh di atas, yang perlu dilakukan bek sayap adalah, alih-alih memikirkan konsekuensi potensial dari tindakannya, cukup katakan pada diri sendiri untuk mengeksekusi umpan tersebut.
Jika dilakukan dengan benar, dialog internal yang instruktif dapat membantu para pemain Arsenal memilih opsi terbaik dan mengeksekusinya.
4. Harus bisa mengatasi tekanan
Sepak bola bisa amat kejam. Sedangkan sesi latihan cenderung berfokus pada keterampilan teknis dan taktis di bawah tekanan yang lebih rendah.
Namun, penelitian menunjukkan bahwa merasa cemas dalam sesi latihan membantu atlet mengatasi tekanan dengan lebih baik. Pemain yang berlatih di bawah tekanan cenderung berkinerja lebih baik daripada mereka yang tidak.
Oleh karena itu, pelatih Arsenal harus berupaya meningkatkan tekanan dalam sesi latihan sambil memastikan para pemain dapat bekerja sama dengan psikolog olahraga dan pelatih pola pikir.
Persaingan dua kubu
Usai pertandingan melawan Newcastle, Arteta berkata:
Saya tidak berharap, setelah 22 tahun tidak memenangkannya, jalan menuju kemenangan akan mulus. Dan kami siap memenanginya.
Apakah mereka siap untuk itu masih jadi misteri. Namun, jika The Gunners ingin merasakan kesuksesan tertinggi di Liga Premier musim ini, kombinasi teknik-teknik ini mungkin dapat membantu mereka mengatasi tekanan, menghindari kegagalan, dan akhirnya mengangkat trofi.
Tentu saja dengan asumsi, Manchester City mengizinkannya. Apa yang akan terjadi pada Arsenal kelak di akhir Mei ini yang juga akan menjalani final piala champion Eropa? Kita tunggu saja hasilnya.





Comments are closed.