Steven Gerrard baru-baru ini menyalakan api refleksi di dunia sepak bola Inggris. Dalam sebuah siniar bersama Rio Ferdinand, ia dengan jujur—dan tanpa tedeng aling-aling—menyebut bahwa generasi emas Inggris pada awal 2000-an adalah “para pecundang egois.” Ucapan itu seperti cambuk di tengah lapangan Wembley yang menyeramkan. Ia menuding bukan taktik, bukan pula kemampuan, tetapi ego yang membuat Inggris gagal bersinar di panggung dunia.
Gerrard mengakui, ruang ganti Inggris kala itu lebih mirip aula besar dengan sekat-sekat tak terlihat. Ada kubu Liverpool, kubu Manchester United, kubu Chelsea. Di satu sisi, Ferdinand dan Neville berbicara dalam logat Mancunian yang kental; di sisi lain, Lampard dan Terry sibuk dengan geng London-nya. Sementara Gerrard dan Owen membawa warna Merseyside yang khas. Semua berkumpul di bawah satu bendera, tapi hati mereka masih berpelukan dengan lambang klub masing-masing.
Kontras sekali jika kita menengok ke Spanyol pada era yang sama. Negeri yang juga lama terbelenggu rivalitas abadi: Real Madrid dan Barcelona. Dua kekuatan yang bukan hanya bersaing di lapangan, tapi juga dalam ideologi, politik, bahkan cara pandang terhadap sepak bola itu sendiri. Namun siapa sangka, dari dua kutub yang selama ini saling meniadakan, justru lahir sebuah kesatuan paling solid dalam sejarah modern sepak bola.
Sebelum tahun 2008, Spanyol lebih dikenal sebagai negara yang jago di babak kualifikasi tapi gugur di perempat final. Satu-satunya trofi besar mereka hanyalah Piala Eropa 1964—itu pun sudah lewat empat dekade lebih. Tapi semuanya berubah ketika Luis Aragonés, pelatih dengan rambut memutih dan sorot mata tajam, menyatukan skuad penuh bintang dari dua klub yang tak pernah akur: Barcelona dan Real Madrid.
Awalnya, tidak mudah. Di ruang ganti La Furia Roja, suasana kadang lebih panas dari derby di Santiago Bernabéu. Tapi ada satu hal yang membedakan mereka dari Inggris: mereka belajar menyingkirkan ego. Rivalitas tetap hidup di liga, tapi ketika mengenakan jersey merah marun Spanyol, mereka menjadi saudara seperjuangan.
Konon, Carles Puyol sempat ditunjuk sebagai kapten. Namun, demi menjaga keseimbangan, ia menyerahkan ban kapten itu kepada Iker Casillas, rivalnya dari Madrid. Sebuah gestur kecil yang menenangkan bara besar. Puyol tahu, dalam tim, kehormatan bukan soal siapa yang memakai ban di lengan, tapi siapa yang menjaga harmoni di dalamnya.
Hasilnya? Ketika Casillas menepis tendangan pemain Belanda di situasi yang tidak semua kiper bisa melakukannya dan membuat Spanyol tetap bernafas. Juga ingat sang maestro Iniesta yang membuat gol kemenangan yang menghantarkan Spanyol juara—dua momen yang menjadikan final 2010 simbol persatuan Madrid dan Barca di panggung dunia.
Dunia menyaksikan lahirnya sebuah era yang disebut The Golden Age of Spain. Dari Euro 2008, Piala Dunia 2010, hingga Euro 2012—tiga trofi besar dalam empat tahun. Di tengahnya, tiki-taka lahir dari laboratorium sepak bola Barcelona yang dimodifikasi menjadi filosofi nasional. Xavi, Iniesta, Busquets, Casillas, Ramos, semuanya bermain dalam satu irama: bola mengalir, ego disingkirkan.
Bandingkan dengan Inggris, generasi yang diisi Beckham, Lampard, Gerrard, Scholes, Ferdinand, Rooney—semuanya bintang, tapi tak satu pun yang benar-benar bersinar bersama. Gerrard sendiri mengaku, “Kami terlalu sibuk membuktikan diri sebagai yang terbaik, bukan memenangkan sesuatu bersama.”
Sementara Spanyol justru mengubah rivalitas menjadi timnas yang amat harmini. Para pemain Barca dan Madrid saling menutup celah, bukan membuka luka lama. Di situ kita dapat belajar.
Kini, Inggris mungkin sudah belajar dari masa lalu. Tapi sejarah akan terus mencatat bahwa sebelum ada “Southgate’s boys“, ada sekelompok pria di Spanyol yang menunjukkan bahwa bahkan musuh bebuyutan pun bisa menulis sejarah bersama—asal berani menurunkan ego.
Dan, seperti yang dikatakan Luis Aragonés pada 2008, “Kita tak perlu satu bintang di dada, kita butuh sebelas hati yang sama di lapangan.” Sebuah kalimat yang menjembatani Madrid dan Barcelona, dan selamanya akan menjadi pengingat bagi semua tim yang terlalu sibuk bersaing hingga lupa bagaimana caranya menjadi satu.
NU-Muhammadiyah yang mewakili arus utama Islam Indonesia harus semakin menancapkan jangkarnya di samudra Nusantara sedalam-dalamnya. Generasi baru dari kedua arus utama ini mesti berpikir besar dan strategis dalam upaya menjaga dan mengawal kepentingan keindonesiaan yang kadang-kadang terasa masih goyah.
Kalau bicara soal membentengi Indonesia dari ideologi yang sudah usang dan gak punya visi masa depan—baik untuk Islam maupun kemanusiaan—Muhammadiyah dan NU adalah kuncinya. Tapi jelas, tantangannya jelas tidak mudah. Kedua poros ini harus bisa lebih dewasa dan tenang dalam menyikapi dinamika sosial hari ini, supaya tidak gampang terjebak dalam salah paham yang sepele.
Esensi dari semua ini sebenarnya dalam selaki. Kalau kita mau melihat jauh ke depan memakai hati, NU dan Muhammadiyah itu harusnya jalan bebarengan. Mereka adalah benteng untuk menjaga Indonesia dari siapa pun yang berniat merusak bangsa, bahkan dari mereka yang suka bersembunyi di balik kedok agama.
Ibaratnya, kerja sama NU-Muhammadiyah ini mirip kayak taktik Timnas Spanyol tahun 2008 sampai 2012. Kombinasi yang kompak, visioner, dan punya satu tujuan kolektif yang jelas.
Ah. Sayangnya tidak semua bisa jadi Timnas Spanyol dan ini juga bukan urusan sepak bola.





Comments are closed.