Pernahkah kita merasa telah berulang kali mengetuk pintu langit melalui doa, tetapi jawaban yang dinantikan tak kunjung datang? Pengalaman seperti ini tentu pernah dirasakan banyak orang. Kita memohon agar rezeki dilapangkan, tetapi kondisi ekonomi seolah tidak banyak berubah.
Kita meminta jalan keluar dari berbagai persoalan, namun cobaan justru terasa semakin berat. Bahkan, impian yang telah lama dipanjatkan dalam setiap doa pun belum juga terwujud.
Keadaan semacam ini tidak jarang menimbulkan rasa lelah, kecewa, bahkan kebingungan. Pertanyaan pun muncul di dalam hati, mengapa doa yang dipanjatkan belum juga dikabulkan? Apakah Allah tidak mendengar doa hamba-Nya? Lalu, bagaimana sebenarnya Islam mengajarkan kita menyikapi doa yang seolah tidak kunjung terkabul?
Ketika doa belum terwujud sebagaimana yang diharapkan, ada beberapa hal yang perlu kita lakukan.
Pertama, yang harus dibangun adalah husnuzan kepada Allah Swt. Seorang mukmin meyakini bahwa Allah tidak pernah mengabaikan doa hamba-Nya. Hanya saja, cara Allah mengabulkan doa tidak selalu sesuai dengan keinginan maupun waktu yang diharapkan oleh manusia.
Para ulama menjelaskan bahwa pengabulan doa memiliki berbagai bentuk. Ada doa yang dikabulkan secara langsung, ada yang ditunda karena mengandung hikmah tertentu, dan ada pula yang dikabulkan dalam bentuk lain yang lebih baik daripada apa yang diminta.
Sebab, boleh jadi sesuatu yang dimohonkan manusia tampak baik menurut pandangannya. Padahal, Allah mengetahui bahwa ada pilihan lain yang lebih membawa kemaslahatan bagi hamba-Nya.
Imam al-Bajuri menjelaskan:
واعلم أن الإجابة تتنوع فتارة يقع المطلوب بعينه على الفور وتارة يقع ولكن يتأخر لحكمة فيه، وتارة تقع الإجابة بغير المطلوب حيث لا يكون في المطلوب مصلحة ناجزة وفي ذلك الغير مصلحة ناجزة أو يكون في المطلوب مصلحة وفي ذلك الغير أصلح منها
Artinya, “Ketahuilah bahwa pengabulan doa memiliki berbagai bentuk. Terkadang apa yang diminta dikabulkan seketika. Terkadang dikabulkan, tetapi ditunda karena mengandung hikmah tertentu. Terkadang pula doa dikabulkan dalam bentuk yang berbeda dari apa yang diminta, karena apa yang diminta tidak mengandung kemaslahatan yang nyata, sedangkan pada hal lain terdapat kemaslahatan yang lebih besar. Atau, apa yang diminta memang mengandung kemaslahatan, tetapi Allah memilih memberikan sesuatu yang lebih baik daripadanya.” (Imam al-Bajuri, Tuhfatul Murid Syarh Jauharat at-Tauhid, (Indonesia, Dar Ihya’ al-Kutub al-‘Arabiyyah, tt), hlm. 92).
Kedua, kita juga perlu menyadari bahwa Allah Swt. mengabulkan doa sesuai dengan waktu yang Dia kehendaki, bukan menurut waktu yang kita inginkan. Tertundanya pengabulan doa bukanlah pertanda bahwa Allah mengabaikan atau menolak permohonan hamba-Nya, melainkan bagian dari hikmah dan kasih sayang-Nya dalam menetapkan waktu yang paling baik.
Sering kali manusia merasa telah siap menerima apa yang dimintanya. Padahal, Allah lebih mengetahui kapan seorang hamba benar-benar siap menerima nikmat tersebut. Oleh karena itu, apabila doa belum juga dikabulkan, seorang mukmin hendaknya tetap berbaik sangka kepada Allah serta meyakini bahwa penundaan itu menyimpan hikmah yang mungkin belum dapat dipahami pada saat ini.
Nasihat tersebut sebagaimana disampaikan oleh Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari:
لا يكُنْ تَأخُّرُ أَمَد العَطاء مَعَ الإلْحاح في الدّعَاءِ موجبَاً ليأسِك فهو ضَمِنَ لَكَ الإجابَةَ فيما يختارُهُ لكَ لا فيما تختاره لنَفْسكَ وفي الوقْتِ الذي يريدُ لا في الوقْت الذي تُريدُ
Artinya; “Jangan sampai tertundanya waktu pemberian, meskipun engkau terus bersungguh-sungguh dalam berdoa, membuatmu berputus asa. Allah telah menjamin pengabulan doa pada apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan pada apa yang engkau pilih untuk dirimu sendiri, serta pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau inginkan.” (Syekh Ibnu Athaillah, Matn al-Hikam, [Mesir, Maktabah al-Azhar: 2012], hlm. 143).
Selanjutnya, ujian terbesar ketika doa belum juga dikabulkan adalah munculnya rasa lelah yang perlahan berubah menjadi keputusasaan hingga membuat seseorang berhenti berdoa. Padahal, doa merupakan ibadah sekaligus wujud penghambaan seorang hamba kepada Allah Swt. Selama seseorang terus berdoa dengan penuh keyakinan, ia tetap berada dalam kebaikan, meskipun apa yang dimintanya belum tampak terwujud.
Karena itu, jangan pernah berhenti mengetuk pintu langit. Teruslah berdoa dengan penuh harap, sebab segala sesuatu memiliki waktu yang telah Allah tetapkan. Tidak ada satu pun ketentuan-Nya yang datang terlalu cepat ataupun terlambat.
Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menjelaskan:
وإن تأخرت الإجابة فلا تستبطئ ما سألت، فإن لكلّ شيء أجلا، والدعاء لا يغلب ما سبق في المعلوم
Artinya, “Apabila pengabulan doa belum juga datang, janganlah engkau merasa bosan atau berhenti memohon. Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki waktunya masing-masing, dan doa tidak akan melampaui ketentuan yang telah ditetapkan dalam ilmu Allah.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, Al-Du’a wa al-Ma’tsurat wa Adabuhu, [Beirut, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: 2002], hlm. 20).
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa sikap seorang mukmin ketika doa belum juga dikabulkan adalah tetap bersabar, terus berikhtiar, dan senantiasa berbaik sangka kepada Allah Swt. Boleh jadi Allah menunda pengabulannya karena belum tiba waktu yang paling baik, atau justru menggantinya dengan sesuatu yang lebih besar manfaatnya daripada apa yang diminta.
Terlebih, pada hakikatnya doa bukan sekadar sarana untuk memperoleh apa yang diinginkan, melainkan juga wujud penghambaan, ketundukan, dan pengakuan bahwa seorang hamba senantiasa membutuhkan pertolongan Allah dalam setiap keadaan.
Oleh karena itu, jangan pernah berhenti berdoa. Teruslah memohon kepada Allah dengan penuh keyakinan, serta iringi dengan ikhtiar yang sungguh-sungguh. Jika hari ini doa belum terwujud sebagaimana yang diharapkan, yakinlah bahwa Allah sedang mengatur waktu dan cara terbaik untuk mengabulkannya.
Sebab, tugas seorang hamba adalah terus berdoa, berusaha, dan bertawakal, sedangkan hasil akhirnya sepenuhnya berada dalam kuasa Allah Swt. Wallāhu a‘lam.
—————
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan





Comments are closed.