Sat,29 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Banjir Bandang Nepal Tewaskan 389 Orang, 910 Masih Hilang

Banjir Bandang Nepal Tewaskan 389 Orang, 910 Masih Hilang

banjir-bandang-nepal-tewaskan-389-orang,-910-masih-hilang
Banjir Bandang Nepal Tewaskan 389 Orang, 910 Masih Hilang
service

Kathmandu, Arina.id Banjir bandang dahsyat menerjang wilayah utara Nepal pada Rabu (26/8/2026), setelah longsoran es dan batu dari kawasan Himalaya memicu aliran air, lumpur, dan material debris dalam jumlah besar. Bencana di kawasan perbatasan Nepal-Tiongkok itu menewaskan sedikitnya 389 orang dan menyebabkan 910 orang masih dinyatakan hilang di Nepal.

Di sisi lain perbatasan, tiga orang meninggal dunia dan 558 orang masih hilang di wilayah Tibet, Tiongkok. Dengan demikian, total korban meninggal di Nepal dan Tibet mencapai 392 orang, sedangkan jumlah orang yang belum ditemukan mencapai 1.468 orang.

Banjir bermula di kawasan Lhende Khola, dekat perbatasan Nepal-Tibet, sebelum aliran air dan material longsoran bergerak menuju Sungai Bhote Koshi dan selanjutnya memasuki sistem Sungai Trishuli. Gelombang banjir menerjang permukiman, jalan, jembatan, kendaraan, dan sejumlah fasilitas pembangkit listrik.

Kawasan Rasuwa menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Permukiman Timure dan Syapru Besi diterjang material lumpur, batu, dan air dalam jumlah besar. Selanjutnya, banjir bergerak ke wilayah hilir seperti Nuwakot dan Dhading.

Bukan Dipicu Hujan Deras
Bencana tersebut sempat dikaitkan dengan aktivitas gempa. Namun, analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa pemicu utamanya adalah runtuhnya bagian gletser di kawasan Himalaya yang kemudian menyebabkan longsoran es dan batu.

Menurut Al Jazeera, citra satelit menunjukkan sebagian besar bagian bawah gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter. Material es dan batu kemudian jatuh sekitar 1.200 meter ke dasar lembah dan membawa batuan serta sedimen dalam jumlah besar.

Longsoran menghantam Sungai Lhende di Tibet, sekitar 20 kilometer sebelah timur laut perbatasan Nepal-China. Material yang masuk ke sungai sempat membentuk bendungan alami sebelum akhirnya jebol dan melepaskan gelombang besar ke wilayah hilir.

Bahkan, otoritas setempat menegaskan banjir tidak terjadi akibat hujan deras. Kondisi tersebut membuat warga dan petugas tidak memiliki banyak waktu untuk mengantisipasi datangnya gelombang banjir.

Sungai Trishuli Naik 9 Meter dalam 30 Menit
Besarnya energi aliran banjir terlihat dari perubahan muka air Sungai Trishuli. Permukaan sungai dilaporkan naik hingga sekitar 9 meter hanya dalam waktu 30 menit setelah material longsoran masuk ke sistem sungai.

Air bercampur batu, lumpur, es, dan material lainnya kemudian bergerak dengan kecepatan tinggi mengikuti aliran sungai menuju kawasan permukiman. Sedikitnya 19 jembatan dan sekitar 40 kilometer jalan dilaporkan rusak atau tersapu banjir.

Kerusakan infrastruktur menjadi salah satu kendala terbesar dalam operasi pencarian. Jalan yang terputus membuat sejumlah wilayah hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter.

Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, mengatakan lebih dari 100 orang telah dievakuasi menggunakan helikopter.

“Angkatan Darat telah menyelamatkan lebih dari 100 orang melalui operasi helikopter,” kata Basnet, sebagaimana dikutip Associated Press.

Sejumlah korban luka juga diterbangkan ke Kathmandu untuk mendapatkan perawatan medis.

30.000 Personel Dikerahkan
Pemerintah Nepal mengerahkan lebih dari 30.000 personel keamanan untuk melakukan pencarian, penyelamatan, dan evakuasi korban.

Koordinator Residen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Nepal, Lila Pieters Yahia, mengatakan operasi pencarian berlangsung tanpa henti.

“Mereka bekerja siang dan malam,” kata Pieters Yahia dalam konferensi pers video dari Kathmandu, Kamis (27/8/2026), seperti dikutip Associated Press.

Menurutnya, kerusakan infrastruktur membuat proses pencarian dan penyaluran bantuan menjadi jauh lebih sulit. Lebih dari 35 jembatan hancur dan sekitar 40 kilometer jalan rusak akibat banjir dan longsoran.

Pieters Yahia mengatakan pemerintah Nepal telah membentuk dana bantuan untuk menangani dampak bencana. Sejumlah negara dan lembaga internasional juga mulai menjanjikan bantuan.

“Pemerintah telah membentuk dana bantuan dan Bank Dunia, India, China, serta Amerika Serikat telah berkomitmen untuk memberikan bantuan sebesar 229 juta dolar AS,” ujarnya.

PBB sendiri telah mengalokasikan 2 juta dolar AS dari dana bantuan kemanusiaannya untuk penanganan awal. Swiss juga memberikan 1 juta dolar AS melalui PBB.

Fokus Beralih ke Bantuan
Selain operasi pencarian dan penyelamatan, kebutuhan bantuan bagi warga yang kehilangan tempat tinggal juga semakin mendesak.

Ketua Palang Merah Nepal, Bishal Kumar Bhandari, mengatakan organisasinya mulai mengalihkan fokus dari operasi penyelamatan menuju penyaluran bantuan dalam skala lebih besar.

“Kami telah mengalihkan fokus dari penyelamatan ke operasi bantuan berskala besar di distrik-distrik yang terdampak banjir,” kata Bhandari.

Ia mengatakan sekitar 1.200 orang telah mengungsi dari sedikitnya tiga desa akibat bencana tersebut.

Kondisi di lapangan masih menyulitkan upaya pencarian. Lumpur dan material longsoran menutup sejumlah wilayah, sementara akses jalan dan jembatan mengalami kerusakan.

Di sejumlah lokasi, petugas harus menyisir aliran sungai untuk mencari korban yang kemungkinan terseret banjir. Jenazah bahkan ditemukan ratusan kilometer dari wilayah yang pertama kali diterjang banjir, termasuk di Distrik Chitwan.

Warga Menggambarkan Kehancuran
Dahsyatnya banjir membuat sejumlah kawasan yang sebelumnya menjadi jalur permukiman dan perdagangan berubah menjadi hamparan lumpur dan material batu.

Seorang jurnalis asal Kathmandu, Nirajan Paudyal, mengatakan dirinya masih mengkhawatirkan kondisi keluarganya yang berada di Desa Soley, salah satu kawasan terdampak.

“Saya khawatir tidak akan ada kabar,” kata Paudyal, sebagaimana dikutip Associated Press.

Kesaksian lain datang dari warga yang berhasil menyelamatkan diri dari kawasan Timure. Mereka menggambarkan banjir datang secara tiba-tiba dan menyapu berbagai bangunan di sekitar aliran sungai.

Kerusakan tersebut juga membuat kawasan perbatasan Nepal-Tibet mengalami gangguan serius. Timure merupakan salah satu jalur penting menuju perbatasan Tibet dan digunakan wisatawan serta peziarah yang melakukan perjalanan menuju kawasan Gunung Kailash.

Ratusan Warga Asing Masih Hilang
Dari 910 orang yang masih hilang di Nepal, lebih dari 500 merupakan warga negara asing. Mereka berasal dari lebih dari dua lusin negara.

Data yang dikutip Al Jazeera mencatat sedikitnya 177 warga India, 90 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, dan 25 warga Kanada termasuk dalam daftar orang yang belum ditemukan. Pemerintah China juga menyatakan 100 warga negara China masih belum dapat dihubungi.

Banyak dari mereka berada di kawasan tersebut untuk perjalanan wisata atau ziarah menuju Gunung Kailash. Kondisi ini membuat proses pencarian semakin mendapat perhatian dari pemerintah negara-negara asal para korban.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan pemerintah Amerika Serikat telah berkoordinasi dengan pemerintah Nepal.

“Kami telah menyelamatkan sejumlah warga Amerika,” kata Leavitt. Ia menambahkan bahwa Washington telah “menawarkan bantuan dan dukungan” serta “berfokus untuk menyelamatkan setiap warga Amerika yang kami bisa.”

Ancaman Banjir Susulan
Upaya penyelamatan juga masih dibayangi potensi banjir susulan. Material longsoran yang menutup aliran sungai di kawasan hulu membentuk bendungan alami dan danau baru.

Qianggong Zhang, Kepala Climate and Environmental Risks di International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD), mengatakan kondisi tersebut masih menyimpan risiko.

“Dengan sumbatan yang masih berada di hulu sungai perbatasan Nepal-China, pihak berwenang memperingatkan bahwa banjir kedua mungkin terjadi,” kata Zhang, sebagaimana dikutip New Indian Express.

Peringatan tersebut membuat otoritas Nepal meminta masyarakat di sepanjang aliran Bhote Koshi dan Trishuli tetap waspada. Jika bendungan alami tersebut jebol, gelombang air dan material dapat kembali bergerak menuju kawasan hilir.

Bencana ini sekaligus memperlihatkan besarnya risiko kawasan Himalaya terhadap keruntuhan gletser dan aliran debris. US Geological Survey (USGS) menyimpulkan bahwa sinyal seismik yang sempat diduga sebagai gempa sebenarnya berasal dari longsoran gletser. Peristiwa tersebut kemudian tercatat sebagai aktivitas seismik berkekuatan magnitudo 5,2.

Hingga Jumat (28/8/2026), tim penyelamat masih menyisir kawasan terdampak untuk menemukan 910 orang yang belum diketahui keberadaannya. Dengan akses yang rusak, ancaman banjir susulan, dan medan pegunungan yang sulit, operasi pencarian korban diperkirakan masih akan berlangsung.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.