Fri,11 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Bisakah kita mengganti gula dengan stevia untuk menurunkan berat badan?

Bisakah kita mengganti gula dengan stevia untuk menurunkan berat badan?

bisakah-kita-mengganti-gula-dengan-stevia-untuk-menurunkan-berat-badan?
Bisakah kita mengganti gula dengan stevia untuk menurunkan berat badan?
service

● Stevia punya rasa manis 200 – 400 kali lebih kuat dibandingkan gula pasir biasa.

● Meski tidak menimbulkan efek samping, stevia murni tetap harus dikonsumsi dalam batas wajar.

● Untuk menurunkan berat badan, konsumsi stevia perlu diimbangi dengan manajemen diet lainnya.


Beberapa tahun terakhir, kebiasaan mengonsumsi minuman manis telah menjadi gaya hidup bagi banyak kaum muda di Indonesia. Baik untuk menemani kebiasaan nongkrong di kafe, hingga booster andalan penjaga fokus saat bekerja. Seolah-olah tiada hari tanpa asupan gula.

Di Jember, Jawa Timur, misalnya, sebanyak 97,75% dari 222 remaja responden penelitian tahun 2025 mengonsumsi lebih dari satu jenis minuman berpemanis dalam kemasan sebanyak 2 – 3 kali per pekan.

Temuan ini selaras dengan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 soal kebiasaan 48% kaum muda berusia 15 – 34 tahun dalam mengonsumsi minuman manis lebih dari sekali per pekan.

Kebiasaan berisiko ini bisa membahayakan kesehatan, mulai dari memicu obesitas, diabetes, hingga gagal ginjal.

Tak sedikit kaum muda kemudian beralih mengonsumsi pemanis nongula bernama stevia—yang memberikan rasa manis ratusan kali lipat daripada gula biasa, tetapi tidak mengandung kalori. Stevia dipasarkan dalam bentuk bubuk dan tetes.

Karena keunggulannya, beberapa orang menggunakan stevia sebagai pengganti gula untuk menurunkan berat badan. Namun, apakah mengganti gula saja cukup?

Apa itu stevia?

Stevia merupakan pemanis alami yang diekstrak dari daun tanaman Stevia rebaudiana Bertoni. Selama berabad-abad, tanaman asal Amerika Selatan ini telah lama digunakan sebagai pemanis alami maupun bahan pengobatan tradisional oleh masyarakat Paraguai dan Brasil.

Jepang kemudian menjadi negara pertama di luar Amerika Selatan yang memopulerkan stevia sebagai alternatif gula secara komersial.

Pada 1977, pengusaha Jepang membawa tanaman ini masuk ke Indonesia untuk dibudidayakan di beberapa wilayah. Kini, budi daya stevia skala komersial bisa ditemukan di daerah Tawangmangu, Jawa Tengah, dan Ciwidey, Jawa Barat.


Read more: Ini alasan penerapan label peringatan & cukai makanan tinggi gula-garam tidak bisa ditunda


Keunggulan tanaman stevia adalah ekstrak daunnya memberikan rasa 200 – 400 kali lebih kuat dibandingkan gula pasir biasa.

Sebagai gambaran, tingkat kemanisan sesendok teh gula penuh (ukuran 4 – 8 gram) setara dengan ¼ sendok teh bubuk daun stevia atau setetes stevia cair (1 – 2 mg).

Rasa manis super ini berasal dari kandungan senyawa glikosida steviol di dalamnya.

Dalam pencernaan kita, glikosida steviol juga langsung diserap oleh bakteri-bakteri di usus besar sehingga tidak menyumbang kalori—tidak pula menaikkan kadar gula darah dalam tubuh kita.

Selain itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa glikosida steviol bisa berperan sebagai antioksidan, antiradang, dan antikanker yang potensial.

Karena sifatnya yang alami, banyak orang menggunakan stevia sebagai alternatif gula yang dinilai lebih aman dikonsumsi daripada pemanis buatan, seperti aspartam, sakarin, sukralosa, dan neotam.

Konsumsi berlebihan pemanis buatan dikaitkan dengan peningkatan risiko sindrom metabolik alias kumpulan masalah kesehatan yang terjadi bersamaan. Dampaknya bisa meningkatkan risiko terkena penyakit jantung, strok, hingga diabetes tipe 2.

Apakah stevia aman dikonsumsi?

Sejak 2007, Komite Ahli Gabungan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bersama Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan ekstrak stevia yang aman dikonsumsi mengandung glikosida steviol sebanyak 95%.

Pada 2008, glikosida steviol sangat murni ini telah mendapatkan status GRAS (generally recognized as safe) alias aman dikonsumsi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).


Read more: Logika keliru penundaan cukai minuman manis: Cegah penyakit tak bisa tunggu ekonomi tumbuh


Di Indonesia, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menggolongkan glikosida steviol sebagai pemanis alami yang aman dikonsumsi masyarakat, termasuk orang dengan diabetes.

Meski begitu, karena respons tubuh dan metabolisme tiap orang bisa bervariasi, stevia sebaiknya tetap dikonsumsi dalam batas wajar. Acceptable daily intake (ADI) alias batas aman konsumsi harian untuk glikosida steviol adalah 4 mg per kg berat badan.

Sebagai gambaran, batas aman konsumsi harian stevia untuk orang dewasa berbobot 60 kg adalah 240 mg per hari.

Jika satu tetes stevia cair setara 1 – 2 mg, maka pemakaian 1 – 3 tetes per cangkir minuman per hari setara 6 mg. Artinya, konsumsi stevia tersebut masih aman dan jauh di bawah batas maksimal.

Namun, harap dicatat bahwa aturan ini hanya berlaku untuk masyarakat umum dengan kondisi sehat.

Kelompok sensitif dengan kondisi kesehatan khusus, seperti ibu hamil dan orang dengan gangguan pencernaan sebaiknya menghindari stevia. Meskipun sejauh ini belum ada bukti ilmiah yang akurat mengenai dampak negatif stevia.

Pemanis alami ini tidak terbukti menimbulkan efek samping maupun reaksi alergi.

Bisakah menurunkan berat badan pakai stevia?

Selain aman digunakan sebagai pemanis alami bagi orang dengan diabetes, stevia murni juga aman dikonsumsi sebagai bagian dari program diet untuk mengontrol berat badan.

Namun, karena stevia tidak menghasilkan kalori, kita sebaiknya tetap memenuhi kebutuhan energi dari sumber makanan berkarbohidrat dalam batas wajar. Misalnya, nasi merah, mi shirataki, ubi jalar, singkong, dan talas.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam mengontrol berat badan menggunakan stevia adalah mengurangi konsumsi makanan manis secara perlahan. Tujuannya, agar ketergantungan terhadap makanan dan minuman manis benar-benar berkurang.

Dengan begitu, kita bisa menghindari risiko efek halo yang justru bisa menyebabkan berat badan meningkat akibat mengonsumsi sumber makanan manis dan berkalori yang lain secara berlebihan tanpa sadar.

Untuk menurunkan berat badan, kurangilah konsumsi gula dengan mengonsumsi makanan sehat bergizi seimbang, serta jalani gaya hidup aktif dan berolahraga secara teratur.

Tak lupa, kendalikan stres dan tidur yang cukup.


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.