Lirik tentang sosok ayah yang absen di tengah keluarga dalam album Nadin Amizah “Laika yang Ditinggalkan” telah membuat banyak pendengar menghubungkannya dengan pengalaman pribadi mereka tentang kehilangan, luka, dan relasi dengan orang tua.
Linimasa media sosial baru-baru ini dipenuhi oleh tanggapan para pendengar terhadap album baru Nadin Amizah, Laika, yang Ditinggalkan.
Banyak orang muda–terutama perempuan muda yang membagikan pengalaman mereka saat mendengar deretan lagu di dalamnya. Juga saling memvalidasi perasaan terluka akibat tumbuh tanpa kehadiran sosok orang tua yang memadai, baik secara emosional maupun fisik.
Nadin menggunakan nama Laika sebagai judul album yang mengandung metafora di dalamnya.
Laika adalah anjing jalanan yang dikirim Uni Soviet ke luar angkasa pada tahun 1957 menggunakan Sputnik 2, sebuah misi satu arah tanpa pernah disiapkan jalan untuk pulang. Laika pergi mengangkasa sendirian, mengalami ketakutan di ruang hampa. Hingga akhirnya mati akibat stress tingkat tinggi dan panas yang berlebih.
Baca Juga: Kamus Feminis: Fatherless, Ketika Ayah ‘Absen’ dan Perempuan Memikul Beban Pengasuhannya
Nadin menarik benang merah dari tragedi itu ke dalam realitas sehari-hari: tentang seseorang yang selalu berusaha untuk bisa dicinta, selalu berusaha untuk jadi anak yang baik, dan tetap tidak menjanjikannya untuk dicintai.
Perbincangan mengenai album Laika, yang Ditinggalkan ini kemudian menyoroti lagu-lagu yang berakar pada fenomena fatherless atau absent father yang dialami banyak anak di Indonesia. Secara umum, fatherless adalah absennya ayah secara harfiah. Tapi bisa juga diartikan sebagai normalisasi patriarki yang membebani perempuan dan menjauhkan laki-laki dari pengasuhan.
Luka akibat absensi sosok ayah menjadi sorotan karena fenomena ini merupakan dampak struktural masyarakat yang kerap memaklumi sikap lepas tangan laki-laki dalam pengasuhan anak.
Dalam fenomena fatherless, luka anak perempuan sering kali datang berlapis. Mungkin kita tidak asing dengan narasi bahwa anak perempuan harus menjadi sosok yang mengalah, lemah lembut dan pemaaf. Ketika sebuah keluarga retak atau rusak karena ayah yang melarikan diri dari tanggung jawabnya, anak perempuan kerap dituntut untuk memahami situasi. Jika mereka menunjukkan rasa kekecewaan atau kemarahan, masyarakat akan dengan cepat ‘menjinakkan’ emosi tersebut. Terdapat stigma yang terus menerus diulang: jika seorang anak menyimpan amarah kepada ayahnya, ia dicap sebagai anak yang durhaka dan diancam dosa besar yang akan menyeret orang tuanya ke neraka.
Baca Juga: ‘Father Hunger’ Lebih Mengganggu Perkembangan Emosional Anak Dibandingkan ‘Fatherless’
Melalui lagu Reservasi untuk Dua, Nadin tengah membongkar tuntutan tersebut. Lirik “Selamat hari raya / Maaf, kau tak kumaafkan” menjadi bentuk penolakan atas kepalsuan ritual maaf-memaafkan yang sering dipaksakan saat hari raya.
Nadin menolak berpura-pura baik-baik saja hanya demi memenuhi ekspektasi sosial. Ia bahkan meruntuhkan ancaman neraka melalui baris
“Dan jika neraka tempatku durhaka / Kuyakin kau juga kutemu di sana / Kita tak berbeda, tak ada yang menang”.
Penegasan ini membongkar logika yang timpang mengenai kekecewaan sang anak.
Apabila kekecewaan seorang anak dianggap dosa dan menjadi durhaka, maka tindakan ayah yang menelantarkannya memikul kesalahan moral yang sama besarnya.
Fenomena absent father ini bukan sekadar persoalan nasib yang dialami satu atau dua orang, melainkan masalah sosial yang mengakar luas di Indonesia. Respon warganet terhadap album ‘Laika, yang Ditinggalkan‘ menampakkan hal tersebut.
Baca Juga: Hari Ayah Nasional: Remaja ‘Fatherless’ Kehilangan Sosok Ayah Bikin Anak Hilang Arah
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah fatherless menjadi salah satu frasa yang paling sering diulang dalam percakapan publik. Ia muncul dalam diskusi-diskusi psikologi populer, dipakai sebagai argumen moral dalam perdebatan di media sosial, hingga dijadikan penanda bagi berbagai bentuk kerentanan anak dan keluarga.
Namun, pemaknaan fatherlessness sering kali terlalu simplistik. Seolah-olah fenomena ini hanya disebabkan oleh “ayah yang tidak bertanggung jawab” atau “keluarga yang tidak lengkap”. Kendati di satu sisi benar bahwa fatherless adalah absennya figur ayah secara fisik dan emosional, fenomena ini sesungguhnya hanya pintu menuju persoalan patriarki yang lebih besar.
Dari kacamata feminis, fatherless adalah gejala yang jauh lebih kompleks. Ia lahir dari struktur sosial yang selama ini menempatkan peran pengasuhan hampir sepenuhnya pada perempuan. Di sisi lain, ruang bagi laki-laki untuk hadir secara utuh sebagai pengasuh sangat sedikit. Sebab laki-laki dianggap berperan untuk mencari nafkah saja, sedangkan pengasuhan anak adalah tugas perempuan. Lebih buruk lagi ketika sosok laki-laki bukan hanya gagal menjadi sosok ayah dalam pengasuhan, tetapi juga tidak menjalankan perannya untuk menafkahi keluarga—artinya, dia mangkir dari sebuah keluarga.
Baca Juga: Kamus Feminis: Feminisme Postmodern, Melawan Narasi Seksis dan Bias Gender di Media
Melansir dari Data Pendataan Keluarga tahun 2025 dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) menunjukkan bahwa angka fatherless di Indonesia mencapai angka 25,8 persen. Artinya, sekitar 1 dari 4 anak di Indonesia tumbuh tanpa peran dan pengasuhan yang utuh dari ayahnya.
Di album Nadin dalam alam lagu Tamu Berwajah Itu, Nadin juga memotret bagaimana ketimpangan ini berdampak pada sosok ibu.
“Di kamar itu / Ibu melahirkan rasa marah / Ia menangis / Mencari-cari di mana ayah / Seumur hidup / Resah kau genggam erat dalam dekap / Aku mengerti / Tempat ini selamanya tak kuanggap rumah”.
Ketika ayah melepas tangan, ibu dipaksa menanggung beban atas kesedihan dan amarah anak-anaknya.
Trauma pengabaian ini berlanjut menjadi krisis identitas saat anak beranjak dewasa. Dalam lagu Amarah, terdapat pergolakan batin yang tajam ketika seseorang menyadari bahwa ciri fisik maupun sifat dalam dirinya merupakan warisan dari sosok yang pernah melukainya.
“Dari wajahku yang mirip wajahmu / Hidung, mataku, dosa-dosaku / Mendarah daging, tak mungkin hilang / Menghapus diri rasanya kurang”.
Baca Juga: Boys Will Be Boys, Normalisasi Patriarki yang Bikin Remaja Laki-laki Kecanduan Judol
Ada perasaan asing ketika seorang anak membenci bayangan dirinya sendiri di cermin.
Keterasingan ini kemudian diperparah oleh jarangnya interaksi, seperti terekam dalam lirik berikut.
“Kau bertanya berapa umurku sekarang / Tebak apa rasanya bagiku sekarang”, yang menelanjangi kenyataan betapa seorang ayah bisa sama sekali tidak mengenali tumbuh kembang anaknya.
Kerinduan akan pengakuan yang tak pernah tuntas itu kembali muncul dalam lagu Kematian, Jika Aku Jadi Kekasihnya melalui baris “Sedeekat nadi, sejauh hidup / Akhirnya kita bisa bertemu / Apa aku secantik pikirmu?” Sosok ayah yang terasa begitu dekat secara genetik, namun berjarak sejauh rentang kehidupan.
Di tengah kepedihan itu, lirik “Jangan ambil amarahku / Hanya ini yang membuatmu masih hidup di benakku” dalam lagu Amarah menjadi titik balik penting.
Nadin tidak menempatkan amarah sebagai emosi yang harus segera dihilangkan demi mencapai kesembuhan. Sebaliknya, amarah hadir sebagai bagian dari pengalaman seseorang dalam menghadapi luka yang belum selesai.
Dalam konteks ini, berdamai tidak selalu berarti berhenti marah. Seseorang juga berhak mengakui dan merasakan kemarahannya tanpa dipaksa untuk segera memaafkan.
Baca Juga: Film ‘Pangku’ Soroti Perjuangan Ibu Tunggal di Lingkaran Kemiskinan
Di tengah budaya yang kerap menuntut anak untuk berbakti, memaklumi dan memaafkan orang tua, album ini menawarkan ruang untuk melihat luka dari sisi yang berbeda.
Barangkali karena itulah lagu-lagu dalam album Laika, yang Ditinggalkan begitu mudah dipeluk oleh pendengarnya.
Album ini tidak menawarkan cara untuk seorang anak berdamai dengan masa lalu, melainkan memberikan bahasa untuk mengakui bahwa luka tersebut pernah ada dan mungkin masih terasa sampai hari ini.
(Editor: Luviana Ariyanti)
(sumber foto: Instagram @cakecaine)





Comments are closed.