● Satu demi satu ‘brand’ pamit dari ‘marketplace’.
● Mereka berpisah jalan karena aplikator menerapkan aturan dan biaya tambahan sepihak.
● ‘Marketplace’ tetap bisa dimanfaatkan untuk strategi lanjutan bagi para brand.
Akhir-akhir ini, semakin banyak pemilik toko online yang melapak di marketplace atau lokapasar, seperti Tokopedia, Shopee, TikTok Shop, dan platform sejenis, mengeluhkan kondisi usaha mereka.
Fenomena ini bahkan mulai disebut eksodus seller. Pera pelapak kini mempertimbangkan pisah jalan dengan dengan marketplace yang sudah bertahun-tahun menjadi tempat mereka mengembangkan bisnis.
Umumnya, mereka mengeluhkan kenaikan berbagai biaya, mulai dari komisi platform, komisi dinamis, biaya pemrosesan pesanan, biaya iklan, hingga mandatori program gratis ongkir yang biayanya harus ditanggung penjual.
Belum lagi masalah teknis operasional seperti pembatasan akun secara tiba-tiba, perubahan kebijakan etalase penayangan produk, dan penalti toko karena terdeteksi melanggar kebijakan platform.
Para pelapak mengklaim, berbagai perubahan kebijakan marketplace diberlakukan secara mendadak atau mepet untuk bisa diantisipasi. Alhasil, banyak yang kecele dan mengakibatkan bisnis yang dibangun bertahun-tahun berhenti beroperasi seketika.
Tak heran saat ini semakin banyak pelaku usaha mulai mempertimbangkan strategi yang sebelumnya jarang dilakukan, yaitu mengurangi ketergantungan pada marketplace dan membangun kanal penjualan sendiri.
Fenomena ini memang belum mencapai tingkatan yang merusak ekosistem dan pangsa pasar marketplace raksasa, tapi setidaknya ada perubahan tren menarik yang mulai terlihat.
Pelapak online tidak lagi menempatkan marketplace sebagai pusat bisnis, melainkan hanya sebagai salah satu kanal penjualan.
Read more: Masa depan pemasaran produk mewah: Langkah berani YSL ikut ‘live commerce’
Sudah tak sejalan karena tuntutan bisnis
Tidak dapat dipungkiri, marketplace telah jadi motor pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Jutaan UMKM berhasil masuk ke pasar digital melalui Tokopedia, Shopee, Lazada, Bukalapak, hingga TikTok Shop.
Mereka mengurangi hambatan masuk bisnis, menyediakan sistem pembayaran, logistik, dan akses ke jutaan konsumen.
Kerja mereka mengacu pada Platform Economy Theory. Marketplace tidak memproduksi barang, tapi bertindak sebagai perantara yang mempertemukan penjual dan pembeli.
Read more: Fitur merchant dan resto prioritas platform makanan online: Resto besar untung, UMKM buntung
Jaringan, jangkauan, kemudahan, dan kenyamanan adalah daya tarik utama marketplace bagi para penjual daring. Dan bagi marketplace, semakin banyak seller yang bergabung, semakin tinggi pula nilai platform bagi pembeli.
Namun ketika suatu platform sangat dominan, posisinya jadi berubah.

Platform tidak lagi hanya menjadi perantara, tetapi juga menjadi penjaga gerbang pasar. Sebab, mereka bisa memegang kontrol siapa saja yang boleh berjualan, produk apa yang boleh ditampilkan, menentukan biaya transaksi, algoritma pencarian, biaya transaksi, hingga program promosi yang harus diikuti seller.
Sejak Mei 2026 lalu, hampir seluruh marketplace menaikkan beragam biaya layanannya mulai batas maksimum komisi, biaya logistik tiap pesanan, dan tarif ongkir gratis.
Potongan di Shopee mencapai 10-18% dari harga jual, Tokopedia 5-15,8%, dan TikTok Shop hingga 20-35% dari harga jual bila mengaktifkan fitur afiliasi secara agresif,
Sebenarnya, kenaikan biaya tersebut merupakan langkah ekspansi bisnis yang wajar untuk menutupi pengembangan infrastruktur teknologi, logistik, promosi, perlindungan konsumen, dan tuntutan profitabilitas dari investor.
Masalahnya, bagi para pelapak biaya tersebut sering kali terasa seperti “pajak digital” yang terus bertambah yang berujung pada margin keuntungan yang semakin tipis.
Menuju fase dewasa e-commerce nasional
Pertanyaannya adalah apakah sebaiknya penjual meninggalkan marketplace? Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak.
Jika terlalu banyak seller keluar dari marketplace, konsumen kehilangan kemudahan berbelanja dalam satu ekosistem. Di sisi lain, marketplace juga kehilangan efek jaringan yang menjadi sumber keunggulannya. Perlu diingat, jika seluruh aktivitas digital hanya terkonsentrasi pada beberapa platform besar, ekonomi digital Indonesia berisiko menjadi terlalu terpusat.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan bahwa pasar e-commerce Indonesia mulai memasuki fase dewasa atau mature. Fase 1 atau awal bermula ketika marketplace membangun pasar sekitar 10 tahun yang lalu.
Fase 2 terjadi ketika para brand, termasuk brand skala besar, bergantung pada marketplace. Geliat lokapasar memasuki fase 3 ketika brand membangun sistem e-commerce sendiri, seperti Erigo, 3Second (fashion), Scarlett (Beauty dan Skincare), dll. MS Glow bahkan membuat program, ala marketplace, afiliasinya sendiri.
Fase 4 atau mature seperti yang terjadi saat ini adalah ketika marketplace dan brand bersaing memperebutkan hubungan langsung dengan pelanggan.
Dalam jangka panjang, eksodus seller justru dapat menjadi tanda pendewasaan ekosistem digital. Seller tidak lagi hanya menjadi pengguna platform, tapi mulai membangun aset dan infrastruktur digitalnya sendiri berupa merek, komunitas, dan data pelanggan.
Lalu bagaimana nasib marketplace kelak?
Anggapan seller bahwa solusi terbaik adalah keluar dari marketplace dan berjualan melalui website sendiri mungkin ada benarnya, meskipun tidak pula 100%. Dengan jaringan besar marketplace yang sudah ada, platform ini terlalu mubazir untuk disia-siakan.
Justru, brand semakin bisa mematangkan penerapan strategi omnichannel. Marketplace digunakan untuk memperoleh pelanggan baru. Sementara website digunakan untuk membangun loyalitas pelanggan.
Media sosial juga bisa digunakan untuk membangun komunitas dan engagement. Terakhir, WhatsApp (WA) digunakan untuk menjaga hubungan jangka panjang atau retention. Dengan demikian, seller tidak kehilangan manfaat dari marketplace dan sekaligus jadi tidak terlalu bergantung padanya.
Read more: Tak hanya orang pribadi, UMKM juga bisa terapkan ‘frugal living’ untuk bertahan dan berkembang
Jalan tengah yang ideal
Yang perlu disadari, jika eksodus terus berlanjut, tidak ada pihak yang akan jadi pemenang. Di saat marketplace kehilangan tenant berkualitas, seller juga kehilangan akses dalam jumlah yang besar.
Yang tak kalah penting, konsumen kehilangan kenyamanan dan perlindungan transaksi. Karena itu, solusi terbaik adalah membangun hubungan yang lebih seimbang.
Marketplace perlu meningkatkan transparansi biaya, menyediakan mekanisme suspend yang lebih jelas dan akuntabel, serta memberikan ruang dialog yang lebih besar dengan para seller.
Dan yang perlu diingat, masalah terbesar bagi seller sebenarnya bukan kenaikan biaya, tapi ketidakpastian.
Pada akhirnya, masa depan ekonomi digital Indonesia tidak ditentukan oleh pemenang kontes adu kuat antara platform dan pelapak.
Terpenting adalah bagaimana keduanya dapat tumbuh bersama dalam ekosistem yang sehat, transparan, dan saling menguntungkan.
Read more: Setelah Rohana dan Rojali, muncul Rocadoh: Peluang mal untuk bangkit




Comments are closed.