Selama ini ulat sagu lebih dikenal sebagai musuh tanaman karena menyerang batang dan dapat mengancam produktivitas perkebunan sagu. Namun, hasil kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan sisi lain yang menarik, larva Rhynchophorus spp. berpotensi menjadi sumber protein alternatif sekaligus bahan baku pangan, pakan, dan industri.
Potensi ini terungkap dalam Webinar EstCrops_Corner #31 bertema “Rhynchophorus spp. (Ulat Sagu) pada Perkebunan Sagu di Indonesia: Peran Ganda sebagai Hama Perusak Batang dan Sumber Daya Pangan” yang diselenggarakan Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP), Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN, secara daring, Jumat, 28 Agustus, 2026.
Forum ini mengangkat perspektif yang tidak biasa, bagaimana organisme yang selama ini dibasmi sebagai hama justru dapat diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi tanpa mengorbankan keberlanjutan perkebunan sagu.
Kepala ORPP BRIN, Puji Lestari, mengatakan sagu memiliki posisi strategis dalam diversifikasi pangan nasional. Selain dapat menjadi alternatif sumber pangan, sagu juga berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku industri dan sumber ekonomi masyarakat.
Dalam konteks ini, ulat sagu memiliki posisi unik. Di satu sisi, serangga ini dapat merusak batang dan menurunkan produktivitas tanaman sagu. Di sisi lain, larvanya telah lama dimanfaatkan sebagai pangan tradisional dan memiliki potensi sebagai sumber protein. Karena itu, BRIN mendorong kajian yang mampu mempertemukan kepentingan pengendalian hama dengan pemanfaatan sumber daya hayati.
“Di satu sisi memiliki potensi sebagai sumber pangan alternatif yang berkelanjutan, tetapi di sisi lain juga berperan sebagai hama,” ungkap Puji.
Salah satu temuan menarik dipaparkan Peneliti Ahli Madya PRTP ORPP BRIN, Rein E. Senewe, melalui kajian bioekologi Rhynchophorus spp. pada tanaman inang utama sagu. Rein mengamati perkembangan larva pada batang sagu yang telah ditebang dan mengidentifikasi lima tahap perkembangan atau instar. Pengamatan tersebut penting untuk mengetahui dinamika pertumbuhan sekaligus menentukan fase yang potensial untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein.
Hasilnya, terdapat periode yang disebut sebagai “jendela panen emas”, yakni sekitar 75-90 hari setelah batang sagu ditebang. Pada periode tersebut, biomassa larva berada dalam kondisi potensial untuk dimanfaatkan, dengan biomassa maksimum yang diamati mencapai sekitar 4,62 gr.
Temuan ini menjadi menarik karena membuka kemungkinan pemanfaatan larva yang berkembang pada batang sagu setelah penebangan, sekaligus memberikan informasi biologis yang dibutuhkan untuk mengembangkan pemanfaatannya secara lebih terukur.
Bukan hanya ukuran dan waktu panennya yang menarik. Kajian yang dipaparkan Rein menunjukkan tepung kering ulat sagu berpotensi memiliki kadar protein hingga sekitar 60%. Selain protein, tepung tersebut juga mengandung lemak serta asam lemak omega 3, 6, dan 9.
Potensi kandungan ini, kata Rein, membuat ulat sagu menarik untuk dikaji lebih jauh sebagai sumber protein alternatif di tengah kebutuhan terhadap sumber pangan berkelanjutan. Namun, dirinya menekankan bahwa pemanfaatan ulat sagu sebagai pangan tidak bisa dilakukan semata-mata berdasarkan kandungan nutrisinya.
Aspek bioekologi, keamanan pangan, serta risiko penyebaran atau peningkatan serangan hama harus menjadi bagian penting dalam pengembangannya.
Peneliti Ahli Pertama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi ORHL BRIN, Anang Setyo Budi, menjelaskan bahwa identifikasi Rhynchophorus tidak cukup hanya berdasarkan warna atau bentuk tubuh. Identifikasi perlu menggabungkan karakter morfologi, morfometri, genitalia, hingga analisis molekuler melalui pendekatan taksonomi integratif.
Hal ini penting karena masih ditemukan potensi kesalahan identifikasi, termasuk dalam membedakan R. vulneratus dan R. ferrugineus yang memiliki kemiripan morfologi. Di Indonesia, R. vulneratus lebih banyak ditemukan di wilayah barat, sedangkan R. bilineatus berasosiasi dengan ekosistem sagu di wilayah timur.
Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan ORPP BRIN, Setiari Marwanto, menilai perspektif terhadap ulat sagu perlu diperluas. Sagu merupakan komoditas strategis yang memiliki nilai pangan, industri, ekologis, dan sosial, tetapi keberlanjutan perkebunannya menghadapi berbagai tantangan, termasuk serangan Rhynchophorus spp.
Karena itu, kata dia, tantangannya bukan sekadar bagaimana membasmi ulat sagu, tetapi juga bagaimana mengelola dan memanfaatkannya secara aman, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi.
Perspektif industri turut disampaikan Jenny Widjaja dari PT Sagolicious Indonesia Prima. Ia memaparkan potensi Rhynchophorus spp. untuk diolah menjadi tepung protein yang dapat dikembangkan untuk kebutuhan pangan, bahan baku industri, maupun pakan.
Webinar EstCrops_Corner #31 memperlihatkan bahwa ulat sagu tidak harus ditempatkan hanya dalam satu kategori sebagai organisme pengganggu tanaman. Dengan riset yang tepat, organisme tersebut berpotensi menjadi bagian dari rantai nilai baru berbasis sumber daya hayati lokal.
BRIN mendorong penguatan riset multidisiplin yang mempertemukan bioekologi, biosistematika, nutrisi, keamanan pangan, industri, dan ekonomi. Kolaborasi antara periset, dunia usaha, dan pemangku kepentingan diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang sekaligus menjaga produktivitas perkebunan sagu dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.





Comments are closed.