Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Buku Tempat Terbaik di Dunia: Penyambung Lidah Masyarakat Miskin

Buku Tempat Terbaik di Dunia: Penyambung Lidah Masyarakat Miskin

buku-tempat-terbaik-di-dunia:-penyambung-lidah-masyarakat-miskin
Buku Tempat Terbaik di Dunia: Penyambung Lidah Masyarakat Miskin
service

Siapa yang paling bisa diandalkan bicara soal kehidupan dan kebutuhan masyarakat miskin? Apakah para agamawan yang berkhutbah sambil mengutip kitab suci tetapi punya banyak Mercedes-Benz (Mercy)? Pemerintah yang menamai dirinya sebagai Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan? Mahasiswa yang turun ke jalan sambil membawa spanduk: dari rakyat untuk rakyat? Atau aktivis media yang menyebut dirinya sebagai influencer?

Saya rasa jawabannya tak ada pada nama-nama di atas. Agaknya, tiada yang bisa mewakili bagaimana hidup sebagai masyarakat miskin, selain masyarakat itu sendiri–ia yang mengalami. Pengertian di balik kata miskin hanya bisa sungguh-sungguh mendapatkan makna ketika turut merasakan apa yang dimakan, minum, pikirkan, dan khawatirkan oleh mereka. Nama-nama yang tertera di atas sepertinya tidak memenuhi syarat karena seringkali kemiskinan diperlakukan hanya sebagai ladang program, konten, dan membangun citra diri. Membuat sesak untuk ditatap. 

Di tengah kesesakan itu, membaca sebuah buku berisi catatan pengalaman seorang antropolog yang tinggal di kawasan Bantaran Kali Jakarta selama 1 tahun, sedikit memberi angin segar. Buku ini menarik, meski ada beberapa hal yang layak untuk dikritik. Roanne Van Voorst, penulisnya, membagikan pengalaman tinggal di salah satu Bantaran Kali Jakarta. Buku Roanne yang diterbitkan Margin Kiri berjudul Tempat Terbaik di Dunia (2022) menyimpan banyak cerita tentang bagaimana ‘orang kecil’ hidup di antara himpitan kesulitan dan absennya peran negara di dalamnya. 

Absennya negara tampak jelas dalam banyak peristiwa. Misalnya ketika terjadi kebakaran di kawasan bantaran kali, pemadam kebakaran tak bisa dijadikan tumpuan, mobil mereka sulit untuk sampai akibat akses jalan yang tidak memadai. Hanya usaha warga dari bergotong royong menggunakan ember seadanya yang dijadikan jalan keluar. Jika ada tindak kejahatan polisi pun absen. Di buku tersebut, polisi justru menjadi bagian dari penarik setoran warga. 

Trauma masyarakat pada rumah sakit dijelaskan oleh Roane paling detail dan panjang. Mereka punya pengalaman buruk pada dokter. Tidak hanya bagi anak-anak dan orang dewasa tetapi juga ibu hamil yang akan melahirkan. Banyak nyawa tidak tertolong karena masyarakat bantaran kali dianggap takkan mampu membayar tagihan rumah sakit. Mereka seringkali pulang tanpa harapan. 

Roanne menggambarkan kehidupan masyarakat miskin dengan detail yang melibatkan seluruh indera. Ia menunjukkan bahwa banjir bukan sekadar luapan air yang dihitung secara kuantitatif, melainkan kumpulan cerita yang layak didengar. Misalnya, kisah tentang walkie talkie yang menjadi alat penting untuk mendeteksi banjir. Kepemilikan alat ini memberi status sosial, tetapi juga menuntut pengorbanan besar: uang, waktu, pekerjaan, bahkan keharmonisan keluarga. 

Budaya hidup berkelompok menjadi ciri khas masyarakat bantaran kali yang turut disorot Roane. Menonton televisi, makan, bahkan tidur dilakukan bersama. Kesendirian dianggap sebagai kesepian, dan kesepian berarti penderitaan. Segala aktivitas yang dilakukan warga dalam masyarakat diupayakan mengarah pada nilai kebersamaan. Nilai ini bertabrakan dengan Roane karena ia punya definisi berbeda dengan kesendirian. Namun Roanne cukup piawai untuk mengikuti nilai sosial yang berlaku.

Masyarakat bantaran kali selalu hidup berkelompok karena mereka akan saling membutuhkan satu sama lain meski tidak diucapkan secara eksplisit. Ikatan ini sulit untuk diputus karena mereka hidup dalam ketidakpastian dan keterbatasan, salah satu hal yang bisa dijadikan sandaran adalah relasi yang baik antar tetangga yang diibaratkan sebagai sebuah keluarga. Jika salah satu warga tertimpa musibah biasanya para tetangga akan bahu membahu untuk menolong. 

Modal sosial berupa jaringan, solidaritas, dan gotong royong inilah yang menjadi “asuransi” bagi masyarakat miskin. Arisan, kondangan, hingga sumbangan untuk biaya pengobatan adalah bentuk nyata dari sistem dukungan ini. Kondangan, misalnya, bukan sekadar aktivitas penghormatan pada penyelenggara acara, melainkan cara membantu sesama (seperti arisan cara kerjanya). 

Masyarakat miskin mengandalkan modal sosial berupa jaringan, solidaritas, dan gotong royong untuk bertahan hidup. Modal sosial tersebut dibangun dan dirawat sebagai asuransi sosial ketika menghadapi krisis, misalnya seperti yang diceritakan Roanne saat teman Tikus overdosis narkoba, Tikus meminta bantuan masyarakat menyumbangkan sebagian hartanya untuk biaya pengobatan. 

Pola ini  sangat berbeda dengan masyarakat kaya. Mereka memiliki modal ekonomi dan akses secara mandiri tanpa perlu iuran atau gotong royong. Misalnya bank, asuransi, dan layanan profesional. Modal itu membuat mereka tidak terlalu bergantung pada jaringan sosial informal. Ini yang mendorong pola hidup orang kaya umumnya lebih individualis. Perbedaan ini sebenarnya bisa dilihat dari usaha Roane untuk berbaur pada budaya masyarakat miskin. 

Misalnya ketika Roanne sakit. Ia ingin segera ke rumah sakit menyelesaikan permasalahannya. Jalan itu ditempuh karena Roanne punya biaya yang mencukupi. Tetapi warga melarang dan menganjurkan cara tradisional: kerokan, jamu, pijat, hingga terapi lilin. Semua dilakukan dengan sukarela oleh tetangga karena hidup dalam kemiskinan membentuk insting untuk bekerjasama. Peristiwa ini secara tidak langsung memperlihatkan kontras dalam menghadapi masalah antara Roanne (representasi dari sosok yang kaya) dengan masyarakat Bantaran Kali. 

Secara garis besar, dalam bukunya, Roanne menyingkap banyak isu: korupsi, absennya negara, budaya patriarki, hingga solidaritas sosial. Buku ini bukan hanya catatan antropolog, tetapi juga penyambung lidah masyarakat miskin yang suaranya jarang didengar. Roanne berhasil menuliskan sesuai dengan permintaan Tikus. 

Di halaman terakhir, Tikus–nama salah satu warga yang hidup di Bantaran Kali berujar pada Roanne: “Kamu bisa menulis tentang kami, kan? Tentang bagaimana dulunya di sini, juga tidak adil dan sungguh disayangkan semua ini dirusak? Suara kami tidak pernah didengar karena kami cuma penghuni kampung kumuh. Tapi, kata-katamu setidaknya masih akan mendapat perhatian! Kamu bisa menceritakan kisah kami pada dunia” (hal 184).
 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.