Tue,28 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Bunda Ini Ceritakan Rasanya Miliki Anak Pertama di Usia 47 Tahun

Bunda Ini Ceritakan Rasanya Miliki Anak Pertama di Usia 47 Tahun

bunda-ini-ceritakan-rasanya-miliki-anak-pertama-di-usia-47-tahun
Bunda Ini Ceritakan Rasanya Miliki Anak Pertama di Usia 47 Tahun
service

Jakarta

Punya anak di usia 47 tahun bukanlah hal yang umum, tetapi semakin banyak perempuan yang memilih jalan ini. Di balik kebahagiaan yang besar, ada perjuangan fisik, emosional, hingga keputusan hidup yang tidak mudah. 

Kisah seorang ibu yang melahirkan anak pertamanya di usia 47 tahun ini memberikan gambaran nyata tentang tantangan sekaligus keindahan menjadi orang tua di usia yang lebih matang. 

“Saya melahirkan anak pertama di usia 47 tahun. Inilah pelajaran yang saya dapatkan tentang memiliki anak di usia lebih tua,” ucap sang Bunda Heather Grossman dikutip dari laman Parents

Setiap minggu, ia melindungi plester pasca operasi di perutnya agar tidak terkena air saat mandi bersama anaknya yang masih balita. Setelah itu, ia berendam di bak mandi bersama anaknya dengan perasaan cukup yakin bahwa tidak akan ada bakteri yang merembes ke dalam air saat mereka bermain ciprat-cipratan dan berpelukan. 

“Saat saya merasa lebih khawatir jujur saja, lebih sering daripada tidak. Saya menjaga agar permukaan air tetap berada di bawah plester yang sudah ditutup rapat,” tuturnya.

Tak pernah membayangkan miliki anak di usia sangat matang

Menjalani masa menopause sambil merawat balita bukanlah sesuatu yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Dulu, Heather pikir akan menikah dan punya anak sebelum usia 30. Tapi kenyataannya, ia justru menjadi ibu untuk pertama kalinya di usia 47 tahun.

Kini, ia justru mendekati usia 50 yang tak kalah menakutkan. Heather mengaku menghadapi realitas fisik dan emosional menjadi seorang ibu di usia paruh baya.

Tren punya anak di usia 40+ semakin meningkat

Fenomena memiliki anak di usia lebih tua bukan lagi hal langka. Banyak perempuan kini menunda kehamilan karena fokus pada pendidikan, karier dan stabilitas finansial. Angka kelahiran pada ibu berusia 40 tahun ke atas melonjak hingga 127 persen dari tahun 1990 hingga 2023 dengan peningkatan paling tajam terjadi pada kelompok usia 45 tahun ke atas. 

“Semakin banyak perempuan yang memprioritaskan pendidikan, karier, dan stabilitas finansial sebelum memulai keluarga. Mereka memang belum siap memiliki anak sampai memasuki usia 40-an,” ujar Jenna Turocy, MD, seorang spesialis infertilitas di Columbia’s Fertility Center. 

Selain itu, semakin banyak perempuan yang memilih menjadi ibu tunggal di usia 40-an dengan bantuan teknologi reproduksi seperti donor sel telur dan sperma. Seperti yang dilakukan oleh Peter Klatsky MD dari Spring Fertility.

“Kami melihat semakin banyak pasien yang memilih menjadi ibu tunggal dengan menggunakan donor sperma dan mengambil keputusan tersebut setelah mereka berusia 40 tahun,” tambahnya.

Meski demikian, keputusan untuk punya anak di usia 47 tahun bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan komitmen besar, baik secara fisik maupun mental.

Tantangan hamil di usia 47 tahun

Secara medis, peluang untuk hamil secara alami di usia ini (di usia 45 tahun ke atas) sangat kecil. Kualitas sel telur menurun drastis, bahkan peluang sel telur yang masih layak bisa kurang dari 1 persen. 

Namun, tantangan tidak berhenti di situ. Kehamilan di usia ini memiliki risiko lebih tinggi. seperti masalah pada implantasi plasenta lebih sering terjadi, yang dapat menyebabkan gangguan tekanan darah serta insufisiensi plasenta.

Meski demikian, Heather cukup beruntung karena selama kehamilan, ia tidak mengalami dua tantangan utama yang sering dihadapi ibu usia lebih tua yakni diabetes gestasional dan hipertensi. Baik Dr. Turocy maupun Dr. Klatsky mengatakan bahwa meskipun risikonya meningkat, perempuan yang sehat tetap bisa menjalani kehamilan tanpa masalah besar di usia 40-an, 50-an, bahkan kadang lebih.

“Setelah berhasil melahirkan dengan selamat, rasanya seperti kebahagiaan yang sempurna. Semuanya berjalan baik dan belum pernah merasa sebahagia ini. Saya sempat berpikir bahwa perjuangan sudah selesai. Ternyata, justru di sinilah ‘maraton’ sebenarnya dimulai,” ungkap Heather.

Akibat sering menggendong bayi ke mana-mana, Heather mengalami tennis elbow yang tak kunjung sembuh. Tak hanya itu, ia juga hampir mencapai batas maksimal suntikan kortison untuk mengatasi de Quervain’s tenosynovitis, kondisi yang lebih dikenal sebagai peradangan pergelangan tangan.

Sisi positif punya anak di usia 47 tahun

Banyak ibu baru berusia paruh baya mengaku pernah menghabiskan banyak malam tanpa tidur karena khawatir tentang kesehatan mereka dan dampaknya bagi anak-anak mereka. 

Namun di sisi lain, ternyata mereka juga menikmati keyakinan bersama bahwa usia justru menjadi keuntungan besar. Para ibu tersebut telah menjalani begitu banyak pengalaman hidup sebelum menjadi seorang ibu dengan waktu yang cukup untuk fokus pada karier, kehidupan sosial, dan perjalanan tanpa beban serta berbagai keuntungan lain dari tidak memiliki anak di usia 20-an, 30-an, hingga sebagian besar usia 40-an. 

Semua kesempatan itu benar-benar membuat mereka mampu mengenal diri sendiri dan sangat membantu ketika akhirnya menjadi seorang ibu.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.