Jakarta, Arina.id—Dewan Hubungan Amerika-Islam (Council on American-Islamic Relations/CAIR) mengungkapkan bahwa Islamofobia di Amerika Serikat terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Dalam laporan terbarunya, organisasi pembela hak-hak sipil Muslim itu mencatat serangan terhadap masjid melonjak hingga 183 persen dalam beberapa tahun terakhir.
Laporan yang dikutip Anadolu pada Rabu (29/7) itu menyebutkan, lonjakan tersebut mencerminkan meningkatnya aksi kebencian terhadap umat Islam di Amerika Serikat.
Masjid tidak lagi sekadar menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi sasaran intimidasi, vandalisme, penyebaran pesan anti-Islam, hingga ancaman kekerasan terhadap para jamaah.
Akibat situasi tersebut, sejumlah pengurus masjid di berbagai negara bagian terpaksa memperketat sistem keamanan.
Mereka memasang kamera pengawas, meningkatkan pengamanan di sekitar kompleks masjid, serta memperkuat penjagaan saat pelaksanaan ibadah dan kegiatan keagamaan.
Selain meningkatnya serangan terhadap rumah ibadah, CAIR juga mencatat bertambahnya berbagai bentuk diskriminasi terhadap warga Muslim di Amerika Serikat.
“Kasus-kasus itu terjadi di lingkungan kerja, institusi pendidikan, ruang publik, hingga media sosial,” tulis Anadolu dikutip Rabu (29/7/2026).
Menurut para aktivis hak asasi manusia, meningkatnya ujaran kebencian terhadap umat Islam berpotensi memicu aksi kekerasan yang lebih luas apabila tidak ditangani secara serius oleh aparat penegak hukum.
Mereka menilai perlindungan terhadap kelompok minoritas dan penegakan hukum atas kejahatan bermotif kebencian perlu diperkuat.
Fenomena Islamofobia di Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir juga menjadi perhatian masyarakat internasional. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berulang kali menyerukan langkah nyata untuk memerangi intoleransi berbasis agama serta menjamin kebebasan beragama sebagai bagian dari hak asasi manusia.
Sebagai bentuk komitmen global, Majelis Umum PBB menetapkan setiap 15 Maret sebagai Hari Internasional untuk Memerangi Islamofobia. Peringatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dunia terhadap pentingnya melawan diskriminasi dan kekerasan yang menyasar umat Islam.
Meningkatnya ketegangan politik global, maraknya ujaran kebencian di ruang digital, serta penyebaran narasi yang menstigmatisasi Islam dinilai turut memperburuk situasi. Karena itu, para pemimpin agama dan organisasi masyarakat sipil menyerukan penguatan dialog lintas agama, pendidikan toleransi, serta penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku kejahatan bermotif kebencian.
Komunitas Muslim di Amerika Serikat berharap pemerintah federal maupun pemerintah negara bagian dapat memperkuat perlindungan terhadap rumah ibadah dan menjamin setiap warga negara dapat menjalankan keyakinannya tanpa rasa takut.





Comments are closed.