Orang-orang bersedih dalam urusan “makan”. Di Indonesia, “makan” itu urusan penting. Gagal atau sulit “makan” mengakibatkan kebodohan awet dan ketinggalan laju dunia. Kita tak sedang berpikiran makan itu ompreng berisi makanan disuguhkan di sekolah-sekolah. Urusan itu terlalu besar dan berat. Kita justru sedang prihatin gara-gara “makan” pengetahuan.
Sebutan “makan” sengaja digunakan agar ada imajinasi lapar dan kebutuhan. Di Indonesia, pihak berurusan “makan” pengetahuan disebut Perpustakaan Nasional. Di situ, ada “menu-menu” pengetahuan disuguhkan pada publik. Koleksi “menu” beragam, dari masa ke masa. “Menu” paling pokok tentu buku.
Murung melanda “jemaah buku” setelah mengetahui ketersediaan “menu” di Perpustakaan Nasional menjadi terbatas. Pemicu sedih dan prihatin: anggaran. Konon, institusi itu cuma mendapat sedikit dana (miliaran) dalam menunaikan misi pengetahuan. Duit terbatas tak cuma digunakan dalam mengadakan buku. Duit itu dibagi untuk beragam program. Nasib tak untung menimpa buku. Kemeranaan buku bakal berdurasi lama saat pemerintah terus memihak makan tersaji di ompreng. Buku dianggap belum terlalu mendesak bagi kehormatan Indonesia.
Kita tak mampu terlibat dalam mengubah misi pemerintah. Keluhan dan ratapan terus merujuk perpustakaan dan impian keberlimpahan buku di Indonesia. Kita memilih memikirkan perpustakaan melalui bacaan-bacaan ketimbang “cengeng” melihat nasib Perpustakaan Nasional.
Pada 2016, Abinaya Ghina Jamela menggubah puisi berjudul Di Perpustakaan. Ia masih berumur 7 tahun, mengerti pengalaman berada di perpustakaan. Di ruang berisi buku, ia mencipta peristiwa sebagai pembaca. Di sela penciptaan selera pengetahuan, ia berhak memainkan peran berbeda selama di perpustakaan.
Kita membaca peristiwa sederhana: Ia duduk di dekat lemari/ dengan banyak buku dan laptop/ berwarna putih. Aku mengajak/ ia membaca buku bahasa Inggris,/ menggambar, mewarnai, dan/ mengobrol. Matanya secoklat/ kulit kayu dengan jilbab berwarna/ aspal dan berkacamata. Kulitnya putih/ seperti kulit telur. Mungkin karena/ kakeknya dari Jerman. Dan dia/ mengajakku bermain sambung cerita./ Kami berbisik-bisik ketika bunda pergi/ mencari dosennya. Di perpustakaan/ tidak boleh berisik. Bocah belajar kaidah-kaidah berada di perpustakaan. Ia ingin girang dan berpengetahuan. Kita membaca bocah dan perpustakaan, bukan peristiwa terjadi di Perpustakaan Nasional. Di luar Perpustakaan Nasional, orang-orang “berisik” agar rezim Prabowo-Gibran tak mengabaikan buku atau “menu pengetahuan”.
Kesengsem perpustakaan berlanjut dengan membuka buku kecil berjudul Kenapa Masa Depan Kita Bergantung Pada Perpustakaan, Membaca, dan Melamun? (2022). Buku berisi esai-esai buatan Neil Gaiman, Julian Baggini, dan Maggie Gram. Bacaan tepat saat prihatin terus bersambung bertema perpustakaan dan buku di Indonesia abad XXI.
Neil Gaiman berseru: “Jadi, saya berbicara soal membaca. Saya memberitahu kalian bahwa perpustakaan itu penting. Saya menyarankan bahwa membaca fiksi, membaca untuk bersenang-senang, salah satu hal terpenting yang bisa dilakukan orang. Saya akan meyakinkan dengan menggebu-gebu agar orang-orang paham pentingnya perpustakaan…” Selama puluhan tahun, ia menulis buku-buku untuk anak dan remaja. Neil Gaiman menghendaki buku-buku itu terbaca, tersedia di perpustakaan-perpustakaan di dunia. Ia ingin penghuni Bumi keranjingan membaca buku. Perpustakaan-perpustakaan mutlak dipentingkan agar tersedia “santapan” terbaik bagi anak dan remaja.
Neil Gaiman berada di Amerika Serikat. Ia tidak berkunjung ke perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Buku-buku gubahan Neil Gaiman edisi terjemahan bahasa Indonesia memang memiliki ribuan penggemar di Indonesia tapi tak memastikan seruan bertema buku dan perpustakaan bakal mendapat tanggapan pemerintah. Di Indonesia, Neil Gaiman masuk daftar pengarang pujaan dan tenar. Ia mengingatkan tentang perpustakaan meski berada di negara jauh. Suara itu lirih terdengar di Indonesia.
Pada saat “getun” atas nasib perbukuan dan perpustakaan di Indonesia, kita disuguhi buku besar dan tebal berjudul The Library (2025) garapan Andrew Pettegree dan Arthur Der Weduwen. Buku memuat pembahasan sejarah perpustakaan di pelbagai negara dan situasi mutakhir saat dunia berselera digital. Buku apik berbarengan Indonesia menanggung pelik dalam menghidupi perpustakaan.
Peringatan disampaikan sejak awal: “Sejarah perpustakaan ini bukanlah kisah kemajuan yang mulus, dari abad ke abad, bukan sekadar ratapan panjang atas yang telah hilang, melainkan sebuah siklus berulang dari penciptaan dan pembubaran, kerusakan dan pembangunan kembali, yang justru menjadi pola historis yang wajar. Bahkan, ketika perpustakaan dicintai, isi koleksi tetap menuntut kurasi berkelanjutan, dan sering keputusan menyakitkan tentang yang masih bernilai dan yang harus disingkirkan…” Sejak berabad-abad silam, perpustakaan tak selalu mengisahkan keindahan, kemuliaan, kebenaran, keadilan, dan kebahagiaan. Tragedi-tragedi perpustakaan tergelar di pelbagai negeri meski keinginan menjadikan dunia bergelimang bacaan terus mewujudu. Perpustakaan tetap ada dengan album petaka, selain keajaiban dan keberpihakan atas nama modernitas.
Di buku tebal menghamparkan sejarah panjang, kita tak menemukan satu kalimat atau satu alinea mengenai perpustakaan di Indonesia. Kita tak usah bersedih dan malu. Buku justru menggairahkan kita membuat sejarah perpustakaan di Indonesia dan mencatat masa-masa suram.
Pada abad XXI, Perpustaaan Nasional masih ada meski ratusan perpustakaan di seantero Indonesia memilih tutup atau telantar. Sejarah bakal membuat kita ingat dan insaf agar Indonesia kelak mulia oleh bacaan. Indonesia diimpikan terhormat di dunia gara-gara perpustakaan meski seribu tanda seru bermunculan untuk “merapuhkan” dan memberi kecewa berkepanjangan. Begitu.
Bandung Mawardi
Esais. Pegiat literasi di Kuncen Bilik Literasi, Karanganyar, Jawa Tengah




Comments are closed.