Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Career Break Motherhood: Memulai Karir di Usia 40 Tahun, Kenapa Tidak?

Career Break Motherhood: Memulai Karir di Usia 40 Tahun, Kenapa Tidak?

career-break-motherhood:-memulai-karir-di-usia-40-tahun,-kenapa-tidak?
Career Break Motherhood: Memulai Karir di Usia 40 Tahun, Kenapa Tidak?
service

Mubadalah.id – Di usia 40 tahun sebetulnya bukan usia ideal untuk membangun karir. Di usia ini, justru seharusnya sudah dalam kondisi mapan, suda focus untuk posisi memiliki jabatan. Sayangnya tidak semua memiliki kesempatan yang sama, terutama Perempuan.

Banyak Perempuan kehilangan usia produktifnya di usia rentang 25 tahun sampai 40 tahun. Usia yang ranum untuk berkiprah membangun kinerjanya. Usia tersebut bagi sebagian Perempuan justru terjebak pada rutinistas domestik, yaitu, “momong anak”. Alasan klise memang, namun begitulah faktanya.

Gap Usia Bukan Kelemahan

Tulisan ini tidak sedang menggugat ranah domestic dan public bagi pasangan suami istri. Tulisan ini ingin memberikan motivasi, pada kaum Perempuan yang menggantungkan karirnya karena benar-benar tidak memiliki pilihan selain menjadi ibu rumah tangga.

Kenapa usia 40 tahun menjadi pilihan. Karena usia ini, banyak Perempuan yang sudah memiliki waktu luang, anak sudah mulai remaja, tidak banyak membutuhkan tenaga sosok ibu.

Memulai karier di usia 40 tahun, terutama setelah jeda sebagai ibu rumah tangga bukanlah keterlambatan, tapi justru titik awal yang matang. Banyak perempuan berhasil membangun karier baru di fase ini karena sudah punya pengalaman hidup, manajemen emosi, dan ketahanan yang kuat.

Jangan lihat “gap” sebagai kelemahan, kita kudu  ubah jadi pengalaman hidup dan pengelolaan keluarga, karen adi usia 40 tahun adalah suia stabil, disiplin, dan tahu prioritas. Alih-alih minder karena usia, fokus pada hal apa yang bisa kita jadikan kontribusi dalam pekerjaan.

Fenomena perempuan usia 25–40 tahun yang “menjeda” atau mengalihkan fokus dari karier untuk menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang sangat umum terjadi. Tidak hanya di Indonesia, ini juga terjadi di skala global. Ini bukan sekadar pilihan personal, tapi juga karena pengaruhi oleh faktor sosial, budaya, ekonomi, dan struktural.

Faktor Sosial-Budaya

Penyebab perempuan memilih menggantungkan karir, dan memilih menjadi ibu rumah tangga, memang hal ini dampak dari norma bahwa ibu adalah pengasuh utama. Ekspektasi “ibu ideal” harus hadir penuh di rumah, juga karena adanya tekanan keluarga maupun  lingkungan.

Faktor struktural dalam sistem kerja, misalnya minimnya kebijakan ramah ibu di kanor tempat bekerja, minimnya waktu dalam memberikan cuti melahirkan terbatas, tidak daycare di tempat terdekat dari rumah atau dari tempat bekerja. Alasan lainnya adalah jam kerja tidak fleksibel, inilah penyebab dunia kerja kerja belum sepenuhnya “family-friendly” bagi kaum perempuan.

Faktor lainnya adalah faktor ekonomi, di mana biaya menyewa pengasuh tiap bulannya terasa mahal, jadi banyak kaum perempuan mengasuh anak karena terasa lebih ekonomis. Apalagi jika gaji tidak setara dengan biaya pengasuhan baik menitipkan anak di daycare atau sewa pengasuh.

Faktor psikologis bagi perempuan lebih memilih menjadi ibu rumah tangga, karena ada kedekatan ikatan emosional yang sangat kuat dengan anak, terlebih sebelumnya selama sembilan bulan mengandung, melahirkan, menyusui, nifas, adalah fase rumit yang membuat ibu memilih fokus mengasuh anak. Alasan lainnya asalah keinginan hadir seutuhnya dalam mendampingi masa tumbuh kembang anak. Di mana hal tersebut adalah hal berat untuk memilih melepaskan karir dan seorang ibu memiliki perubahan prioritas dalam hidupnya.

Memulai Memang Berat

Saat memulai karir terasa berat, maka ingat bunyi hadist, alfadlu lil mubtadi, di mana usai menjadi ibu dengan rutinitasnya yang melelahkan, kemudian muncul rasa menurunnya kepercayaan diri karena telah lama vakum, lalu kesulitan dalam memulai kembali ke dunia kerja, di mana teknologi sudah sangat berkembang pesat.

Beragam teori muncul untuk membaca fenomena ini, salah satunya adalah teori peran gender, di mana perempuan sering kali berada pada ranah domestik, laki-laki pada publik. Kemudian sosok perempuan terjebak dalam posisi konflik peran , di mana perempuan, hanya perempuan yang mendapat tuntutan untuk menyeimbangkan peran sebagai pekerja dan ibu.

Sering kali sebelum berangkat kerja, harus bangun lebih awal untuk menyiapkan bekal, sarapan, dan persiapan sekolah anak, juga persiapan pasangan bekerja, misalnya pakaian rapi untuk suami. Teori lainnya adalah teori Kapital Manusia, yaitu Career break yang memberikan stigma pada perempuan berkurang nilainya dalam pasar kerja, seorang ibu yang lama break akan kurang pengalaman, gagap teknologi, dan sensitif dalam beban kerja.

Realitas Baru Pergeseran Jaman

Sekarang mulai terjadi pergeseran, banyak sekali pilihan untuk ibu yang bisa bekerja atau memulai pekerjaan secara fleksibel (remote work, freelance). Perempuan mulai kembali bekerja di usia empat puluh, memiliki kesadaran bahwa karier tidak harus linear

Penting untuk memahami bahwa, ini bukan “kegagalan karier”, tapi bentuk redistribusi peran hidup. Di mana masalah utamanya bukan pada perempuan, tapi pada sistem kerja yang kaku, kurangnya dukungan kebijakan.

Harapan dari tulisan ini, perlunya kebijakan ramah keluarga, seperti negara maju yang menerapkan cuti melahirkan untuk pasanagn suami istri, bukan hanya ibu saja. Adanya program re-entry perempuan ke dunia kerja, menghargai dan memberikan pengakuan pengalaman domestik sebagai skill, adanya pendidikan kesetaraan peran dalam keluarga

Fenomena ini menunjukkan bahwa perjalanan karier perempuan sering tidak linear, tetapi tetap bernilai. Menjadi ibu bukan berarti berhenti berkembang, melainkan fase transformasi yang sering tidak mendapat pengakuan dalam sistem kerja formal.

Dalam perspektif maqāṣid: menjadi ibu penuh waktu adalah bagian dari perilaku maslahah (kebaikan) bagi keluarga. Begitupun memilih berkarier juga sebagai perilaku yang  maslahah dalam ekonomi dan aktualisasi diri. Yang utama adalah menentukan prioritas berdasarkan kemaslahatan terbesar yaitu fiqh al-awlawiyyāt.

Seperti Terlahir Kembali

Saat memutuskan kembali bekerja, tepat di mana anak bisa mulai mandiri. Anak sulung masuk pesantren, anak kedua sudah masuk sekolah dasar. Rutinitas setiap pagi, biasanya anak rewel, perlu memandikan dan menyuapi, tidak ada lagi. Maka waktu longgar ini adalah waktu yang tepat untuk kembali bekerja. Selain karena tuntutan ekonomi, karena semakin anak dewasa, semakin membutuhkan banyak biaya untuk pendidikannya. Alasan lainnya, perempuan juga perlu memiliki aktualisasi diri.

Kembali bekerja sangat menyenangkan. Memiliki rasa penasaran pada hal baru, termasuk teknologi yang sudah sangat maju. Kita juga menata pikiran dengan membuat skala prioritas dan menyeimbangkan antara pekerjaan dan tugas di rumah. Hidup terasa menyenangkan bertemu dengan orang baru, ketrampilan baru, dan uang hasil dari keringat sendiri.

Perempuan terbiasa dengan menahan hasrat belanja demi kebutuhan sehari-hari, justru berubah bisa menggunakan uang hasil kerja dengan mulai menabung, atau investasi membeli perhiasan atau membeli tanah. Menyenangkan diri juga boleh, membeli skin care untuk merawat kulit, merawat tubuh untuk untuk mencegah adanya kerutan berlebih. Selain itu, harus olah raga dan jaga pola makan, supaya tubuh sehat, dan stamina saat bekerja bisa maksimal. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.