Jakarta, Arina.id — Akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz mengungkapkan bahwa kecerdasan yang disertai kemauan belajar merupakan fondasi utama yang membentuk karakter sukses tokoh penakluk dunia, Alexander the Great. Menurutnya, kedua hal tersebut menjadi salah satu dari enam karakter kuat yang mengantarkan Alexander meraih berbagai keberhasilan.
Dalam kajian filsafat yang disampaikannya, Fahruddin menjelaskan bahwa banyak orang memiliki kecerdasan, tetapi enggan terus belajar. Sebaliknya, ada pula yang memiliki semangat belajar, namun terkendala kemampuan. Alexander, kata dia, justru memiliki perpaduan keduanya.
“Yang pertama adalah beliau ini sangat cerdas dan cepat belajar. Jadi cerdas dan mau belajar. Ini dua hal yang jadi kunci dalam hidupnya Alexander,” ujar Fahruddin sebagaimana ditayangkan akun YouTube Channel Ngaji Filsafat diakses Minggu (5/7/2026).
Ia menilai kecerdasan sejatinya dimiliki oleh hampir semua orang yang sehat lahir dan batin. Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada kurangnya kecerdasan, melainkan kemalasan untuk mengembangkan potensi diri melalui proses belajar.
“Sebenarnya tidak ada orang yang sama sekali tidak cerdas. Asal dia sehat lahir dan batinnya pasti dia itu cerdas, kecuali yang malas. Orang tidak cerdas itu tidak ada, yang ada orang malas,” katanya.
Fahruddin menambahkan, orang yang benar-benar cerdas akan menyadari pentingnya mengembangkan akal dan budi. Kesadaran itulah yang mendorong seseorang untuk terus belajar sepanjang hidup.
Selain kecerdasan dan kemauan belajar, ia menyebut karakter lain yang dimiliki Alexander adalah rasa tanggung jawab yang tinggi. Menurutnya, kesadaran terhadap tanggung jawab membuat seseorang bekerja dengan lebih serius dan tidak menjalankan aktivitas secara asal-asalan.
“Orang sukses itu orang yang tahu tanggung jawabnya kemudian memenuhi tanggung jawab itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa orang yang tidak memiliki rasa tanggung jawab cenderung menjalani pekerjaan tanpa kesungguhan karena merasa tidak memiliki kewajiban yang harus dipenuhi.
Karakter berikutnya yang dinilai berperan besar dalam kesuksesan Alexander adalah ketekunan dan sikap pantang menyerah. Fahruddin menilai Alexander mampu menikmati perjuangan sejak usia muda, berbeda dengan anggapan umum bahwa masa muda hanya diisi dengan bersenang-senang.
Menurutnya, Alexander justru menemukan kebahagiaan dalam proses berjuang dan berkarya. Semangat tersebut, kata dia, relevan diterapkan dalam kehidupan modern dengan menjadikan pekerjaan sebagai sesuatu yang dinikmati, bukan sekadar kewajiban.
“Kalau bisa menikmati dan gembira dengan kerja, kerja itu jadinya sama dengan libur,” kata Fahruddin.
Ia mengajak peserta kajian untuk membangun pola pikir bahwa belajar, bekerja, dan berkarya merupakan sumber kebahagiaan. Dengan demikian, seseorang dapat menjalani proses meraih kesuksesan tanpa merasa terbebani oleh pekerjaan yang dilakukan.




Comments are closed.