Tue,19 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Dari Dayah ke Perlawanan Kolonialisme: Jejak Masjid Teungku Di Anjong Aceh yang Berdiri Sejak Abad 17

Dari Dayah ke Perlawanan Kolonialisme: Jejak Masjid Teungku Di Anjong Aceh yang Berdiri Sejak Abad 17

dari-dayah-ke-perlawanan-kolonialisme:-jejak-masjid-teungku-di-anjong-aceh-yang-berdiri-sejak-abad-17
Dari Dayah ke Perlawanan Kolonialisme: Jejak Masjid Teungku Di Anjong Aceh yang Berdiri Sejak Abad 17
service

Banda Aceh, NU Online

Di lembah Krueng Aceh, Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Kota Banda Aceh, berdiri salah satu masjid tua yang sarat nilai sejarah, yakni Masjid Teungku di Anjong. Bangunan ini bukan sekadar tempat ibadah, melainkan simpul penting perjalanan dakwah, pendidikan, dan perjuangan rakyat Aceh sejak abad ke-18. 

Keberadaannya menjadi pengingat bahwa peradaban Islam di Aceh tumbuh melalui jaringan ulama, dayah, dan tradisi intelektual yang kuat (Rahman, Jejak Ulama Aceh, 2018). Masjid ini didirikan pada 1769 oleh seorang ulama besar asal Hadramaut, Yaman, yaitu Sayyid Abubakar bin Husaien Bilfaqih. Ia datang ke Aceh dalam rangka menyebarkan Islam di Asia Tenggara. 

Kedatangannya tidak terlepas dari tradisi pengembaraan ulama Hadramaut yang menjadikan Nusantara sebagai ladang dakwah. Dalam sejumlah riwayat disebutkan, ia tiba pada masa pemerintahan Sultan Alauddin Mahmud Syah dan kemudian menetap di kawasan Peulanggahan yang kala itu menjadi wilayah strategis di tepian Sungai Aceh (Ismail, Sejarah Dakwah Nusantara, 2017).

Setibanya di Aceh, Sayyid Abubakar tidak langsung membangun masjid. Ia lebih dahulu mengubah rumah pribadinya menjadi dayah (pesantren). Dari rumah sederhana itulah lahir pusat pendidikan Islam yang berkembang pesat. 

Santri dari berbagai daerah di Nusantara bahkan Semenanjung Malaya datang untuk mempelajari fikih, tauhid, dan tasawuf. Dayah tersebut menjadi ruang pembentukan ulama dan kader dakwah yang menyebarkan ajaran Islam ke berbagai penjuru (Hasyim, Pendidikan Islam Tradisional, 2016).

Masyarakat Aceh kemudian menjulukinya “Teungku di Anjong.” Sebutan ini diyakini berasal dari kata “sanjungan” yang di-Aceh-kan, merujuk pada penghormatan masyarakat terhadap keilmuan dan akhlaknya. Versi lain menyebutkan bahwa istilah “Anjong” merujuk pada anjungan rumah tempat beliau pernah tinggal setelah menikah dengan putri seorang uleebalang di Ulee Kareng. Apa pun asal-usulnya, gelar tersebut menunjukkan kedudukan sosial dan spiritual beliau di tengah masyarakat (Yusuf, Ulama dan Tradisi Aceh, 2020).

Peran Masjid Teungku di Anjong semakin penting ketika kawasan Peulanggahan menjadi titik transit jamaah haji dari Nusantara yang hendak menuju Tanah Suci melalui Selat Malaka. Para calon jamaah haji singgah untuk belajar manasik selama kurang lebih satu bulan sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke Makkah. 

Aktivitas ini menjadikan masjid dan dayah sebagai pusat pembinaan spiritual sekaligus gerbang keberangkatan menuju Tanah Suci. Dari dinamika inilah Aceh dikenal sebagai “Serambi Makkah,” wilayah yang menjadi pintu masuk spiritual bagi umat Islam Nusantara (Karim, Jalur Haji Asia Tenggara, 2015).

Selain sebagai pendakwah, Teungku di Anjong juga dikenal sebagai ulama produktif. Salah satu karya terkenalnya adalah Kitab Lapan, kitab berbahasa Melayu Arab (Jawi) yang memuat delapan cabang ilmu agama, termasuk fikih dan tasawuf. Kitab ini menunjukkan kedalaman pemikirannya dalam merumuskan ajaran Islam yang kontekstual dengan masyarakat setempat. Hingga kini, naskah tersebut masih dipelajari di sejumlah dayah tradisional Aceh sebagai bagian dari khazanah intelektual klasik (Fauzi, Manuskrip Keislaman Aceh, 2019).

Ketika Belanda mengagresi Aceh pada 1873, masjid dan dayah ini tidak luput dari dinamika perjuangan. Dayah Teungku di Anjong menjadi salah satu basis konsolidasi para pejuang. Para ulama dan santri menjadikan masjid sebagai ruang membangun semangat perang sabil melawan kolonialisme. Peran ini menunjukkan bahwa masjid di Aceh tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat mobilisasi sosial dan perlawanan terhadap ketidakadilan (Salman, Perang Aceh dalam Perspektif Ulama, 2014).

Seiring berjalannya waktu, masjid ini mengalami beberapa kali renovasi, namun arsitektur dasarnya tetap dipertahankan. Bentuk kubahnya yang bertingkat tiga melambangkan tahapan spiritual dalam tradisi tasawuf: hakikat, tarikat, dan makrifat. Simbol ini mencerminkan orientasi pendidikan spiritual yang diwariskan Teungku di Anjong kepada murid-muridnya (Azhar, Rekonstruksi Warisan Sejarah Aceh, 2009).

Tragedi tsunami 26 Desember 2004 menjadi ujian berat bagi masjid ini. Gelombang besar meluluhlantakkan bangunan lama hingga rata dengan tanah. Banyak peninggalan bersejarah seperti kitab kuno dan benda-benda antik hilang tersapu arus. Namun semangat masyarakat untuk mempertahankan warisan sejarah tidak padam. Masjid ini kemudian dibangun kembali dengan konstruksi beton tanpa mengubah bentuk arsitektur tradisionalnya. Rekonstruksi tersebut menjadi simbol kebangkitan Aceh pascabencana (Mahdi, Tradisi Keagamaan Masyarakat Aceh, 2021).

Di sisi masjid terdapat makam Teungku di Anjong yang telah dipugar, berdampingan dengan makam istrinya, Syarifah Fathimah binti Sayid Abdurrahman Al Aidid. Kompleks makam ini menjadi lokasi ziarah yang ramai dikunjungi masyarakat. Setiap 14 Ramadan, warga menggelar kenduri thon untuk mengenang wafatnya sang ulama. Tradisi ini diisi dengan doa, zikir, serta makan bersama sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa beliau dalam menyebarkan Islam di Aceh (Rahman, Jejak Ulama Aceh, 2018).

Hingga kini, nama Teungku di Anjong tetap harum di kalangan masyarakat Aceh. Masjid yang ia dirikan menjadi simbol kesinambungan sejarah, dari masa dakwah klasik, era kolonial, hingga masa modern. Keberadaannya mengingatkan bahwa identitas Aceh sebagai Serambi Makkah bukanlah sekadar julukan, melainkan hasil dari perjalanan panjang ulama, pendidikan, dan pengabdian kepada umat.

Masjid Teungku di Anjong berdiri sebagai saksi bahwa dakwah, pendidikan, dan perjuangan adalah satu kesatuan dalam sejarah Aceh. Dari lembah Krueng Aceh, cahaya ilmu pernah menyinari Nusantara, membentuk tradisi keislaman yang kokoh dan berakar kuat dalam kehidupan masyarakat hingga hari ini.

Helmi Abu Bakar, kontributor NU Online, tinggal di Aceh

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.