Jakarta, Arina.id — Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan 111 orang meninggal dunia dan 1.672 orang mengalami luka atau sakit.
Data tersebut tercatat dalam laporan penanganan darurat gempa NTT yang diperbarui pada 26 Agustus 2026 pukul 21.00 WIB menurut halaman resmi data.bnpb.go.id.
Selain korban meninggal dan luka, sebanyak 176.621 warga tercatat mengungsi akibat gempa tersebut. Dampak gempa tersebar di tujuh kabupaten/kota di NTT.
Kerusakan juga terjadi pada berbagai fasilitas dan bangunan. Data penanganan darurat mencatat sebanyak 84.562 rumah mengalami kerusakan.
Sementara itu, sebanyak 118 fasilitas kesehatan terdampak gempa. Kerusakan juga tercatat pada 1.378 fasilitas pendidikan, 530 kantor, dan 499 rumah ibadah.
Data tersebut juga menunjukkan adanya kerusakan pada jaringan jalan dan irigasi di sejumlah wilayah terdampak. Kabupaten Manggarai Timur menjadi wilayah dengan kerusakan jaringan jalan dan irigasi yang paling banyak tercatat, disusul Manggarai dan Ngada.
Dari sisi jumlah pengungsi, Kabupaten Nagekeo menjadi wilayah dengan jumlah warga mengungsi terbanyak, yakni 51.284 jiwa. Selanjutnya, Kabupaten Manggarai mencatat 50.556 pengungsi, Manggarai Timur 31.372 jiwa, dan Manggarai Barat 27.564 jiwa.
Sementara itu, jumlah pengungsi di Sikka tercatat 8.269 jiwa, Ende 4.317 jiwa, dan Ngada sebanyak 3.259 jiwa.
Pemerintah bersama unsur terkait masih melakukan penanganan darurat, pendataan dampak, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat yang terdampak gempa di tujuh kabupaten/kota tersebut.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menegaskan pemenuhan kebutuhan dasar harus diiringi dukungan psikososial berkelanjutan bagi warga terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT).
Saat menyerahkan bantuan sekitar 30 ton melalui BPBD Manggarai Timur, Selasa (25/8/2026), Arifah mengatakan pemulihan trauma membutuhkan pendampingan jangka panjang. “Trauma healing tidak dapat dilakukan hanya sekali atau dua kali. Sehingga diperlukan pendampingan jangka panjang dengan melibatkan psikolog,” ujarnya.
Kepala Dinas PPPA Manggarai Timur Kristiani Pranata Agas menyebut 31.657 jiwa masih mengungsi. Anak-anak, katanya, masih mengalami ketakutan terutama pada malam hari.
“Ketika pagi hari buat anak-anak itu biasa saja, tetapi ketika malam hari itu mulai ketakutan. Kita butuh tim untuk support psikososial ke anak-anak,” ungkapnya.
Wakil Direktur NU Care-LAZISNU PBNU Anik Rifqoh mengatakan pendampingan psikososial juga akan menyasar ibu dan lansia.
“Nnati di tahap kedua kita akan segera berikan untuk psikososial,” tuturnya saat penyerahan bantuan untuk warga terdampak gempa bumi NTT, Ahad (23/8/2026).




Comments are closed.