Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. Desa yang Menagih Nurani: Membaca Ulang ‘Di Kaki Bukit Cibalak’ Ahmad Tohari

Desa yang Menagih Nurani: Membaca Ulang ‘Di Kaki Bukit Cibalak’ Ahmad Tohari

desa-yang-menagih-nurani:-membaca-ulang-‘di-kaki-bukit-cibalak’-ahmad-tohari
Desa yang Menagih Nurani: Membaca Ulang ‘Di Kaki Bukit Cibalak’ Ahmad Tohari
service

Di Kaki Bukit Cibalak (Gramedia Pustaka Utama, 2014) tidak dibuka dengan keributan politik. Ahmad Tohari memulainya dari jalan setapak, belukar puyengan, kerbau, burung kucica, hutan jati, dan bunyi korakan di leher ternak. Pembukaan itu tampak tenang, tetapi segera berubah menjadi catatan kehilangan. Kerbau tidak lagi menjadi tenaga utama. Traktor tangan masuk. Burung-burung terusir. Pohon jati tinggal sedikit. Barang plastik, motor, radio, televisi, dan iklan mulai mengisi ruang hidup warga Tanggir (Tohari, 2014, hlm. 5-9).

Tohari tidak meratapi masa lampau secara murahan. Ia tidak menolak mesin atau jalan baru. Ia justru bertanya lebih dalam: siapa yang diuntungkan oleh perubahan, siapa yang tersingkir, dan siapa yang hanya menjadi penonton. Pak Danu menjadi contoh. Dulu ia dihormati karena mahir membajak. Ketika traktor menggantikan kerbau, ia bekerja sebagai tukang timbang ampas singkong. Dua anak perempuannya pergi ke Jakarta menjadi pembantu rumah tangga (Tohari, 2014, hlm. 6-8).

Dari adegan kecil itu, novel ini memberi pelajaran bagi pembangunan desa hari ini. Perubahan teknologi tidak boleh berhenti pada pengadaan alat. Pemerintah desa perlu memetakan dampaknya pada tenaga kerja, keluarga miskin, perempuan muda, dan pekerja informal. Pembangunan yang tidak menghitung manusia mudah berubah menjadi pemindahan kemiskinan dari desa ke kota.

Iklan dan Hasrat Baru Orang Desa

Salah satu kecermatan Tohari muncul ketika ia menulis benda-benda sepele. Sebuah deodoran curian di tangan Pak Danu menjadi tanda masuknya dunia konsumsi. Pak Danu merasa naik martabat karena memiliki barang yang sering muncul di radio dan televisi. Warga Tanggir memandang benda itu dengan kagum, seakan barang pabrik mampu mengubah derajat sosial seseorang (Tohari, 2014, hlm. 7-8).

Jirah juga memperlihatkan gejala serupa. Ia menirukan bahasa iklan tentang sampo, sabun minyak zaitun, dan pil pelangsing, meski ia tidak memahami semua istilah yang ia ulangi. Ia tidak perlu tahu apa itu zaitun. Ia cukup menirukan suara televisi (Tohari, 2014, hlm. 9-10). Tohari menangkap satu hal penting: iklan masuk ke desa sebagai bahasa, lalu membentuk keinginan, lalu mengubah cara warga melihat tubuh, gengsi, dan kemajuan.

Bagian ini membuat novel Tohari tetap relevan. Desa hari ini menghadapi iklan yang lebih cepat melalui telepon genggam, pinjaman daring, belanja digital, kosmetik instan, dan janji sukses dalam hitungan hari. Tanggir memberi peringatan praktis. Literasi media harus masuk ke sekolah, koperasi, karang taruna, pengajian, dan forum warga. Orang desa tidak boleh dibiarkan sendirian menghadapi mesin iklan yang bekerja setiap jam.

Pemilihan Lurah dan Ongkos Kekuasaan

Konflik besar novel ini berpusat pada pemilihan lurah. Pak Badi, calon yang jujur dan punya nama baik, kalah. Pak Dirga menang. Ia pandai bergaul, populer, bisa bermain bola, gemar berjudi, dan masyhur sering berganti istri. Tohari menulis pemilihan lurah bukan sebagai pesta rakyat yang bersih. Ia menunjukkan botoh, dukun, jamuan, uang, dan transaksi suara bekerja dalam politik desa (Tohari, 2014, hlm. 12-16).

Tohari memberi angka yang membuat kritiknya rancung. Calon lurah harus mengeluarkan biaya dua puluh, tiga puluh, bahkan empat puluh juta rupiah. Uang itu dipakai untuk pendaftaran, ujian, botoh, dukun, dan perjamuan. Setelah menang, lurah baru harus memulihkan keuangan rumah tangganya. Dari sinilah kecurangan mendapat jalan masuk (Tohari, 2014, hlm. 14-15).

Kritik ini dekat dengan politik lokal masa kiwari. Biaya politik yang tinggi mendorong pejabat mencari balik modal. Warga hanya dihargai pada hari pemilihan. Setelah itu, mereka kembali menjadi pihak yang sulit mengetuk pintu kekuasaan. Novel ini memberi pelajaran langsung: pemilihan kepala desa perlu keterbukaan biaya kampanye. Warga berhak tahu siapa penyumbang calon, berapa biaya jamuan, dan kepentingan ekonomi apa yang bergerak di belakangnya.

Koperasi yang Menolak Orang Miskin

Pambudi menjadi pusat moral dalam novel ini. Ia berusia duapuluh empat tahun dan mengurus lumbung koperasi Desa Tanggir. Ia ingin koperasi benar-benar bekerja untuk kepentingan warga. Namun ia menemukan kenyataan lain. Lurah lama dan Pak Dirga memakai koperasi sebagai alat kekuasaan. Poyo, rekan Pambudi, hidup lebih mapan karena ikut bermain dalam angka susut, harga padi, dan komisi tengkulak (Tohari, 2014, hlm. 17-19).

Krisis moral itu tampak jelas saat Mbok Ralem datang meminta pinjaman padi untuk berobat. Lehernya membengkak. Ia miskin, tidak punya sawah, dan masih memiliki utang lama. Pak Dirga menolak bantuan yang cukup. Pambudi mengingatkan bahwa sebagian keuntungan lumbung koperasi dapat dipakai untuk dana darurat. Pak Dirga tetap menutup pintu. Dana darurat justru pernah dipakai untuk pelantikan lurah. Jumlahnya 125 ribu rupiah. Untuk rokok tamu saja keluar 30 ribu rupiah (Tohari, 2014, hlm. 19-24).

Adegan ini menjadi kritik paling keras terhadap lembaga sosial yang kehilangan jiwa. Koperasi semestinya menolong warga celomes. Di Tanggir, koperasi berubah menjadi meja administrasi yang dingin. Orang miskin diminta taat aturan, sementara penguasa bebas melanggar aturan.

Pelajarannya jelas. Koperasi desa harus membuka laporan keuangan secara berkala. Dana sosial perlu memiliki prosedur tertulis. Nama penerima, jumlah bantuan, alasan pemberian, dan sisa kas harus dapat dibaca warga. Transparansi bukan hiasan administrasi. Ia menjadi benteng agar uang bersama tidak berubah menjadi milik elite desa.

Pambudi dan Seni Berkata Tidak

Pak Dirga kemudian mengajak Pambudi masuk dalam rencana korupsi. Pemerintah akan melebarkan jalan. Sekitar lima ratus pohon kelapa akan tergusur. Pemerintah menjanjikan ganti rugi 2.000 rupiah per batang. Pak Dirga ingin memakai uang koperasi lebih dulu untuk membayar warga hanya 1.000 rupiah per batang. Setelah uang resmi cair, selisihnya akan masuk ke kantong mereka. Pohon kelapa itu juga bisa dijual kepada pemborong seharga 2.500 rupiah per batang (Tohari, 2014, hlm. 25).

Pambudi menolak. Ia tidak membuat pidato panjang. Ia tidak menampilkan diri sebagai pahlawan. Ia hanya tidak mau ikut. Setelah itu, ia mundur dari koperasi (Tohari, 2014, hlm. 26-27). Di titik ini, Tohari menulis etika dalam bentuk paling sederhana. Kejujuran tidak selalu lahir dari kata-kata besar. Ia sering muncul sebagai keberanian menolak ajakan pertama.

Bagian ini memberi pelajaran praktis bagi kantor, kampus, sekolah, organisasi, dan pemerintah desa. Korupsi jarang datang dengan wajah kasar. Ia sering datang sebagai tawaran kerja sama, kesempatan, rezeki, atau alasan demi kelancaran. Orang yang ingin tetap bersih perlu mengenali bahasa halus yang menyembunyikan niat korup.

Pers sebagai Jalan Keluar

Setelah jalur desa tertutup, Pambudi membawa Mbok Ralem ke Yogyakarta. Ia bertemu Pak Barkah dari harian Kalawarta. Kisah Mbok Ralem lalu menjadi urusan publik. Bantuan terkumpul lebih dari satu juta rupiah. Mbok Ralem menangis karena ia datang untuk berobat, bukan untuk menerima uang sebanyak itu (Tohari, 2014, hlm. 54).

Setahun kemudian, oplah Kalawarta naik dua ribu eksemplar. Angka itu besar untuk koran daerah. Kepercayaan pembaca tumbuh karena koran itu mengangkat penderitaan perempuan desa yang diabaikan kekuasaan (Tohari, 2014, hlm. 119).

Tohari memberi tempat penting bagi pers lokal. Media tidak harus selalu menunggu kasus besar. Ia bisa mulai dari satu warga sakit, satu koperasi bocor, satu lurah yang menyalahgunakan dana, atau satu desa yang tidak punya saluran pengaduan. Walakin Tohari juga tidak naif. Tatkala Pak Dirga akhirnya dijatuhkan, Camat memilih siasat. Pak Dirga ditangkap dalam kasus judi, bukan karena penyimpangan koperasi dan kekuasaan yang lebih mendasar (Tohari, 2014, hlm. 155-156).

Novel yang Masih Mengawasi Desa

Di Kaki Bukit Cibalak kuat karena Tohari membangun kritik dari rincian konkret. Kerbau, plastik, deodoran, pil pelangsing, dana darurat, pohon kelapa, ganti rugi, oplah koran, dan meja judi. Semua benda itu membuat kritik sosial terasa dekat.

Novel ini memang kadang membuat batas moral terlalu terang. Pambudi tampak sangat bersih. Pak Dirga tampak mudah dibaca sebagai lawannya. Namun kekurangan itu tidak menurunkan daya pukul cerita. Tohari tetap berhasil menunjukkan bahwa desa bukan ruang lugu. Desa adalah arena uang, gengsi, takut, cinta, jabatan, dan nurani.

Novel ini penting untuk kepala desa, pengurus koperasi, guru, wartawan lokal, mahasiswa, dan aktivis warga. Ia mengingatkan bahwa kemajuan harus diuji dengan pertanyaan semenjana: apakah orang miskin bisa berobat, apakah uang koperasi aman, apakah warga berani bertanya, dan apakah anak muda seperti Pambudi punya ruang untuk tetap jujur.

Bukit Cibalak berdiri sebagai saksi. Dari kaki bukit itu, Ahmad Tohari memberi kabar yang belum kehilangan tenaga: desa berubah, tetapi perubahan perlu dijaga oleh warga yang berani membaca uang, membaca iklan, meneroka kekuasaan, dan menjaga nurani.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Muhammad Iqbal
Mahasiswa Program Doktor Ilmu Sejarah FIB Universitas Diponegoro Semarang. Sejarawan UIN Palangka Raya. Editor Buku Penerbit Indie Marjin Kiri.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.