Lia masih ingat betul hari ketika keluarganya berhenti datang ke rumah sakit. Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena ketakutan. Seorang perempuan dalam keluarganya, ibu dua anak yang selama ini dikenal jarang keluar rumah, terbaring lemah setelah lama sakit. Awalnya disebut malaria. Lalu tubuhnya semakin kurus, tak berdaya. Hingga akhirnya terdengar kabar yang mengubah segalanya: ia dinyatakan positif HIV.
“Sejak tahu itu, tidak ada lagi yang mau jaga dia di rumah sakit,” kata Lia, remaja yang tinggal di pesisir Kota Jayapura. Semua menjauh. Mereka takut tertular hanya dengan berada di dekatnya.
Ketakutan itu tidak berhenti bahkan setelah perempuan itu meninggal dunia. Tak ada yang berani memandikan jenazahnya. Tak ada yang berani menyentuh. Tubuhnya dibungkus rapat dengan tikar, seolah masih menjadi ancaman. Anak-anaknya kemudian dikirim kembali ke kampung halaman, jauh dari kota, karena dianggap membawa risiko dan aib.
“Dia sudah meninggal, tapi tetap dikucilkan,” ujar Lia lirih.
Kisah ini bukan peristiwa tunggal. Di Kota Jayapura, HIV bukan sekadar persoalan medis. Ia telah lama berubah menjadi beban sosial dan moral, terutama bagi perempuan Papua. Kini, ketakutan itu semakin diperkuat oleh hoaks yang menyebar cepat melalui ponsel dan media sosial.
HIV yang Dikenal sebagai Vonis
Sebagian perempuan Papua mengenal HIV bukan sebagai kondisi kesehatan yang bisa dikelola, melainkan sebagai penyakit mematikan yang memalukan. Informasi itu beredar dari percakapan sehari-hari, cerita keluarga, hingga pesan berantai di WhatsApp dan unggahan di media sosial.
“HIV itu virus yang mematikan. Kalau dekat orang yang kena, tonk (kita) bisa tertular,” kata Lia, mengulang apa yang sering ia dengar.
Ia mengingat bagaimana orang-orang membersihkan kursi sebelum duduk hanya karena sebelumnya diduduki seseorang yang dicurigai mengidap HIV. Dalam bayangan banyak orang, HIV dianggap menular lewat sentuhan, napas, bahkan kebersamaan.
Hoaks lain yang kuat adalah anggapan bahwa perempuan dengan HIV pasti menularkan virus kepada anaknya. Kehamilan dan menyusui dipersepsikan sebagai tindakan berbahaya.
“Perempuan hamil dengan HIV dianggap mengerikan, anaknya juga pasti kena,” ujar Lia.
Padahal secara medis, dengan terapi antiretroviral (ARV) dan pendampingan yang tepat, risiko penularan dari ibu ke anak dapat ditekan hingga sangat rendah. Namun penjelasan medis sering kalah oleh cerita yang lebih dulu dipercaya.
Hoaks Menyebar dari Gawai ke Kehidupan Nyata
Kini, banyak informasi keliru tentang HIV tidak lagi menyebar dari mulut ke mulut saja. Telepon genggam menjadi jalur utamanya.
Anggi, ibu rumah tangga di Kota Jayapura, mengatakan kabar-kabar tentang HIV yang ia terima sering datang dari percakapan digital.
“Biasa itu kita dapat informasi HIV yang hoaks dari grup-grup WhatsApp. Di grup RT, grup keluarga juga banyak yang dishare informasi hoaks,” ujarnya.
Salah satu pesan yang sempat beredar luas menyasar langsung ketakutan perempuan terhadap layanan kesehatan. Isinya ditulis seperti peringatan dari orang dekat.
“Kam perempuan-perempuan, mama-mama, hati-hati kalau kam pi (pergi) suntik KB di puskesmas. Sudah ada yang kena HIV karena jarum suntik yang dorang (tenaga medis) pakai itu bekas orang HIV punya.”
Pesan itu tidak menyebut sumber jelas, tapi bahasanya akrab dan terasa meyakinkan. Karena dibagikan oleh orang yang dikenal, banyak yang langsung percaya.
Baca Juga: ‘No One Left Behind’ Sebatas Slogan, Buktinya Banyak Pengucilan pada Perempuan dengan HIV
Margaretha, ibu rumah tangga lainnya, mengaku pernah menerima pesan semacam itu. “Kalau sudah ada begitu, orang langsung takut. Dorang bilang jangan ke puskesmas dulu,” katanya.
Padahal, tenaga kesehatan memastikan penggunaan jarum suntik di fasilitas kesehatan mengikuti prosedur ketat dan menggunakan alat sekali pakai. Namun klarifikasi seperti itu sering datang terlambat, setelah rasa takut lebih dulu menyebar.
Pola penyebarannya pun hampir selalu sama. Pesan diteruskan tanpa diperiksa, lalu ditambah cerita baru agar terdengar lebih nyata, seolah terjadi di fasilitas kesehatan yang dekat dan familiar. Karena datang dari kerabat atau anggota grup yang dikenal, pesan itu jarang diragukan. Lama-lama, cerita yang belum tentu benar berubah menjadi keyakinan bersama.
Di titik itulah hoaks digital berhenti menjadi sekadar pesan di layar. Ia menjelma menjadi ketakutan nyata yang membuat perempuan menunda berobat, menghindari tes HIV, bahkan menjauh dari layanan kesehatan reproduksi.
Ketakutan yang Membuat Perempuan Diam
Stigma yang diperkuat hoaks membuat banyak perempuan Papua memilih diam. Tes HIV bukan dipandang sebagai langkah pencegahan, melainkan ancaman sosial.
“Kalau perempuan tes HIV, orang langsung curiga. HIV itu bikin takut dan bikin malu,” kata Anggi.
Suster Siti, tenaga kesehatan yang menangani layanan HIV di Jayapura, menyebut hampir semua pasien perempuan datang dengan kecemasan besar.
“Hampir 90 persen perempuan dengan HIV takut hasilnya diketahui keluarga atau lingkungan,” ujarnya.
Ia sering menemui pasien yang datang dalam kondisi sudah lemah.
“Waktu ditanya kenapa terlambat periksa, mereka bilang takut ke puskesmas karena dengar cerita-cerita begitu,” kata dia.
Ketika Moral dan Hoaks Mengalahkan Medis
Di ruang konseling, Amri, seorang konselor HIV, kerap berhadapan dengan keyakinan yang terbentuk dari informasi keliru di media sosial. Salah satu yang paling sering ia dengar adalah anggapan bahwa HIV tidak ada obatnya dan pasti berujung kematian cepat.
“Orang berpikir HIV itu vonis mati,” ucapnya.
Tak jarang pula pasien percaya HIV disebabkan oleh guna-guna, kutukan atau doti dalam dialeg Papua. Di media sosial, klaim pengobatan alternatif yang menjanjikan kesembuhan instan juga mudah ditemukan.
“Ada pasien yang berhenti ARV karena percaya ramuan yang dia lihat di internet bisa menyembuhkan,” kata Suster Siti.
Padahal ARV memungkinkan orang dengan HIV hidup sehat, bekerja, berkeluarga, dan menjalani hidup produktif.
Perempuan yang Menanggung Stigma Berlapis
Bagi pendamping komunitas, stigma HIV terhadap perempuan Papua adalah stigma berlapis. HIV sering dikaitkan dengan moral perempuan, bukan dengan sistem kesehatan atau ketimpangan akses informasi.
Perempuan yang tertular dari suami tetap disalahkan, perempuan yang berani tes dianggap mencurigakan. Perempuan yang sakit dianggap membawa ancaman.
Akibatnya, banyak perempuan menyembunyikan kondisi kesehatannya, bahkan dari keluarga terdekat. Mereka berobat diam-diam, atau berhenti sama sekali.
Peran Media di Tengah Banjir Hoaks Digital
Di tengah derasnya arus informasi digital, media memiliki peran penting. Cara media memberitakan HIV dapat memperkuat stigma atau justru meluruskannya.
Liputan yang empatik, berbasis data, dan membongkar hoaks yang beredar di media sosial dapat membantu masyarakat membedakan fakta dan ketakutan.
“Jangan pakai judul yang menghakimi. Fokus pada hak kesehatan perempuan,” ujar Nana, pendamping komunitas.
Harapan dari Perempuan Papua
Lia menyimpan harapan sederhana. Ia ingin perempuan Papua tidak lagi takut tes HIV dan tidak merasa sendirian.
“Kalau kita tahu lebih awal, kita bisa jaga diri dan keluarga,” katanya.
Ia juga ingin perempuan yang terdiagnosis HIV tidak langsung merasa hidupnya berakhir.
“HIV bukan akhir dari segalanya. Kita masih punya harapan.” Ucap Lia.
Hoaks HIV di Kota Jayapura bukan sekadar kesalahan informasi. Ia menyebar cepat melalui layar ponsel, masuk ke grup keluarga, grup RT, dan percakapan pribadi, lalu menjelma menjadi stigma nyata.
Selama HIV terus dilekatkan pada moral perempuan dan dibungkus ketakutan digital, perempuan Papua akan terus memikul beban yang seharusnya tidak mereka tanggung sendiri. Melawan HIV berarti melawan virus dan disinformasi sekaligus. Dan langkah pertama adalah berhenti menghakimi, memeriksa kebenaran informasi, lalu mulai mendengar.*
Liputan ini merupakan republikasi hasil kolaborasi antara RRI Jayapura, Kabar Makassar, Konde.co dan didukung oleh BBC Media Action. Baca artikel asli di sini.




Comments are closed.