Mon,27 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Di balik promo murah, pekerja gig masih berjuang demi perlindungan dan upah

Di balik promo murah, pekerja gig masih berjuang demi perlindungan dan upah

di-balik-promo-murah,-pekerja-gig-masih-berjuang-demi-perlindungan-dan-upah
Di balik promo murah, pekerja gig masih berjuang demi perlindungan dan upah
service

Peringatan Hari Buruh tahun ini kembali mengingatkan publik pada perjuangan kelompok pekerja yang selama ini kerap luput dari perlindungan ketenagakerjaan, yaitu pengemudi ojek online (ojol). Di balik berbagai promo murah yang dinikmati konsumen, tersimpan persoalan panjang mengenai pendapatan, jam kerja, hingga perlindungan sosial bagi jutaan pekerja berbasis kontrak (pekerja gig) di Indonesia.

Sepanjang 2025, ribuan pengemudi melakukan aksi turun ke jalan menuntut perbaikan kesejahteraan dan sistem kemitraan. Memasuki awal 2026, peluncuran tarif hemat dari aplikator kembali memicu penolakan karena dinilai semakin menekan pendapatan pengemudi dan memunculkan fenomena krisis ojol

Melihat persoalan tersebut, The Conversation Indonesia menggelar Conversation Corner bertajuk Ilusi Hemat Bikin Pekerja Gig Melarat pada 24 April 2026. Diskusi yang dipandu Editor Ekonomi The Conversation Indonesia, Andi Ibnu Masri Rusli, menghadirkan Lily Pujiati, Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI), dan Nailul Huda, Ekonom sekaligus Director Economy Center of Economic and Law Studies (CELIOS).

Tarif murah menyamarkan beban pengemudi

Dalam diskusi, Lily Pujiati menggambarkan kondisi yang dialami para pengemudi setiap hari. Menurutnya, banyak masyarakat mengira lonjakan tarif pada jam sibuk sepenuhnya menjadi keuntungan pengemudi. Kenyataannya, sebagian besar pendapatan tetap terpotong oleh aplikator.

Ia menjelaskan, potongan tarif berkisar 20 – 30% untuk layanan penumpang dan dapat mencapai 50% pada layanan pesan antar makanan. Kondisi tersebut diperberat dengan sistem double atau triple order, karena pengemudi harus mengantarkan beberapa pesanan sekaligus dengan tambahan upah yang sangat kecil.

Tekanan ekonomi itu membuat banyak pengemudi harus bekerja hingga 17 jam sehari demi memperoleh penghasilan yang layak. Namun, jam kerja panjang tersebut tidak diikuti perlindungan memadai ketika terjadi kecelakaan, pembegalan, atau risiko kerja lainnya.

Siaran ulang Conversation Corner #13 ‘Ilusi Hemat Bikin Pekerja Gig Melarat”

Mencari jalan tengah bagi pekerja gig

SPAI menilai pengemudi ojol seharusnya diakui sebagai pekerja karena hubungan kerja yang terjadi telah memenuhi unsur pekerjaan, upah, dan perintah. Namun, di sisi lain, perubahan status jutaan pengemudi menjadi pekerja tetap juga menghadirkan tantangan bagi ekosistem sharing economy, terutama bagi mereka yang bekerja secara paruh waktu.

Menanggapi persoalan ini, Nailul Huda menawarkan pendekatan yang lebih bertahap. Menurutnya, prioritas utama bukan semata mengubah status hubungan kerja, melainkan memastikan setiap pekerja gig memperoleh perlindungan sosial yang setara.

Ia mengusulkan penguatan regulasi melalui skema pembiayaan yang lebih inovatif, seperti dana abadi maupun koperasi, sehingga perlindungan sosial dapat diberikan tanpa membedakan status pekerja.

“Yang kita perlukan adalah kesetaraan. Kita cari cara untuk memenuhi perlindungan sosial bagi pengemudi ojek online ataupun teman-teman gig worker secara keseluruhannya,” ujar Nailul.

Andi Ibnu (kiri) dan Nailul Huda (kanan) ketika berdiskusi mengenai jalan tengah tuntutan kemitraan ojol.

Perdebatan mengenai status pekerja gig atau pekerja lepas berbasis kontrak jangka pendek memang belum akan selesai dalam waktu singkat. Namun, satu hal semakin jelas: di balik kemudahan layanan digital dan promo yang dinikmati masyarakat, ada jutaan pekerja yang masih memperjuangkan hak dasar atas penghasilan yang layak, jam kerja yang manusiawi, dan perlindungan sosial.

Oleh karena itu, mempertemukan pengalaman pekerja dengan perspektif akademisi menjadi langkah penting untuk memperkuat dasar kebijakan, agar transformasi ekonomi digital tidak dibangun di atas kerentanan para pekerjanya.

Acara Conversation Corner hadir secara rutin setiap bulannya bersama akademisi, peneliti, dan pakar untuk membahas isu sosial terkini. Jika kamu tertarik untuk bekerja sama mengadakan diskusi bersama The Conversation Indonesia, hubungi kami di: kemitraan@theconversation.com.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.