● Restorasi gambut terbukti efektif mengurangi kebakaran saat El Niño 2019.
● Keberlanjutan restorasi dipertanyakan sejak berakhirnya tugas Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) pada 2024.
● Restorasi dan perlindungan ekosistem gambut harus terus berjalan di tengah potensi karhutla selama El Niño.
Kebakaran lahan gambut di Indonesia selalu menjadi ancaman besar, terutama saat El Niño melanda dan menyebabkan kemarau panjang. Pada 2015 silam, Indonesia mengalami kebakaran lahan dan gambut hebat. Sekitar 2,6 juta hektare lahan habis terbakar.
Polusi dan emisi dari kebakaran selama berbulan-bulan berdampak pada jutaan orang di Asia Tenggara. Kerugian ekonomi pun ditaksir mencapai lebih dari Rp220 triliun. Ini belum termasuk dampak lingkungan dan kesehatan yang sangat besar.
Kebakaran besar tersebut bukan hanya karena dipicu kekeringan akibat El Niño, melainkan dampak dari rusaknya ekosistem gambut akibat deforestasi, pembukaan kanal, maupun pengeringan lahan untuk pertanian dan pembangunan lainnya.
Pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) pada 2016 untuk melakukan program restorasi nasional guna mengembalikan fungsi ekosistem dan mencegah kebakaran. Pada 2020, BRG berubah menjadi BGRM dengan tambahan tugas restorasi mangrove.
Meski terjadi penurunan titik panas, belum ada riset yang mengukur efektivitas restorasi terhadap penurunan tersebut pada skala nasional. Penelitian terbaru kami menunjukkan bahwa restorasi lahan gambut besar-besaran itu menurunkan kepadatan titik api (hotspot) hingga 22% di area yang direstorasi selama El Niño 2019 dan berkontribusi sekitar 38% dari total penurunan kebakaran dibandingkan kondisi 2015.
Urgensi restorasi gambut
Hingga akhir masa tugasnya, BRGM melaporkan telah berhasil merestorasi lahan gambut sekitar 1,6 juta hektare. Namun, keberlanjutan restorasi gambut kini menjadi tanda tanya sejak masa tugas BRGM berakhir dan dialihkan ke lintas kementerian pada 2024.
Sementara El Niño berpotensi kuat berkembang sepanjang 2026 dan ratusan titik api sudah mulai muncul. Selama Januari – Juni 2026, pemerintah mencatat lebih dari 100 ribu ha lahan hangus terbakar.
Penelitian kami menunjukkan bahwa program restorasi gambut yang dilakukan BRGM terbukti mengurangi kebakaran lahan pada El Niño 2019.
Dengan kata lain, penurunan kebakaran gambut sejak 2015 terjadi bukan hanya karena cuaca lebih basah atau El Niño tidak separah tahun 2015, melainkan juga karena intervensi manusia melalui kegiatan restorasi.
Kami membandingkan area lahan gambut yang direstorasi dengan area serupa yang tidak direstorasi di Sumatra dan Kalimantan.
Melalui metode pencocokan (matching analysis), kami berhasil memisahkan pengaruh variabilitas iklim dari hasil restorasi itu sendiri.

Kami mengevaluasi dua metode utama restorasi pembasahan kembali (rewetting): pembuatan sekat kanal dan pembangunan sumur bor.
Hasil analisis kami menunjukkan bahwa restorasi gambut dengan sumur bor berhasil menurunkan kepadatan titik panas hingga 2,6 titik per kilometer persegi (km²), dibandingkan wilayah yang tidak direstorasi selama El Niño 2019. Sementara metode sekat kanal mengurangi sekitar 1,1 titik per km².
Restorasi dengan sumur bor ibarat menyiram spons yang kering menggunakan air pompa. Ketika musim kemarau datang dan lahan gambut mulai mengering, petugas akan menyalakan pompa untuk menyedot air dari dalam sumur.
Tujuannya, untuk membasahi lahan di sekitar sumur ataupun untuk memadamkan api. Sementara sekat kanal membasahi lahan dengan menahan air agar tidak mengalir keluar.
Secara keseluruhan, frekuensi kebakaran berkurang 22%, menyumbang sekitar 38% dari total penurunan karhutla antara 2015 dan 2019 pada 3.920 km² lahan gambut yang mengalami dampak program restorasi pembasahan kembali.
Dengan kata lain, jika secara keseluruhan terjadi penurunan 100 titik panas antara 2015–2019, sekitar 38 kejadian di antaranya diperkirakan merupakan dampak dari restorasi.
Penelitian kami menyimpulkan, berdasarkan kegiatan pembasahan yang sudah dilakukan, area dengan sumur bor mengalami penurunan kebakaran lebih tinggi dibandingkan sekat kanal. Sebab, air yang dipompa langsung membasahi area gambut kering maupun memadamkan api. Dampaknya juga menjangkau area lebih luas dan infrastruktur juga bertahan lebih lama.
Sekat kanal, di sisi lain, bersifat pasif, dan berdampak dalam radius beberapa ratus meter dari lokasinya.
Meski begitu, dalam kondisi ideal, sebenarnya sekat kanal punya potensi penurunan kebakaran lebih tinggi dibandingkan sumur bor. Efektivitasnya bergantung pada ketepatan lokasi, jumlah sekat yang cukup atau berkelompok.
Perawatan juga memengaruhi efektivitas sekat kanal memulihkan gambut. Tanpa pemeliharaan, banyak sekat menjadi rusak dan kehilangan kemampuannya dalam menjaga kondisi gambut tetap basah. Riset Pantau Gambut menemukan 70% unit sekat kanal berada dalam kondisi rusak.
Sementara dalam temuan kami, hanya sekat kanal berumur sekitar setahun yang benar-benar ampuh membasahi gambut.
Read more: Kehilangan gambut berarti kehilangan aset Indonesia berusia 13 ribu tahun
Rekomendasi ke depan
Meskipun program restorasi telah menunjukkan hasil positif, kebakaran masih tetap mengintai lahan gambut yang telah rusak.
Selain itu, walaupun menurun, kepadatan titik panas di area restorasi masih jauh lebih tinggi hingga 10 kali lipat dibandingkan hutan gambut alami.
Total luas kebakaran di wilayah kawasan hutan gambut juga masih konsisten berada di atas 500 ribu hektare. Tinggi muka air di lokasi intervensi juga masih di bawah ambang batas aman (40 cm).
Di sisi lain, masih banyak lahan gambut rusak yang perlu dipulihkan.
Hal ini menjadi pengingat penting bahwa restorasi, meski jelas bermanfaat, tidak bisa menggantikan lahan gambut alami. Karena itu, menjaga kelestarian hutan gambut tetap harus menjadi prioritas utama. Restorasi gambut dan perlindungan ekosistem harus terus berjalan beriringan.
Terlebih, di tengah risiko kembalinya karhutla, apalagi ketika ancaman peristiwa El Niño semakin kuat dan intens akibat perubahan iklim, strategi restorasi harus disiapkan dengan serius untuk mencegah kebakaran hebat tahun 2015 tidak terulang.



Comments are closed.