Fri,1 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Di BKUPI 2026, Ita Fatia Nadia Beberkan Peran Penting Perempuan Indonesia Sejak Masa Kolonial

Di BKUPI 2026, Ita Fatia Nadia Beberkan Peran Penting Perempuan Indonesia Sejak Masa Kolonial

di-bkupi-2026,-ita-fatia-nadia-beberkan-peran-penting-perempuan-indonesia-sejak-masa-kolonial
Di BKUPI 2026, Ita Fatia Nadia Beberkan Peran Penting Perempuan Indonesia Sejak Masa Kolonial
service

Mubadalah.id – Aktivis perempuan Ita Fatia Nadia menegaskan pentingnya menata ulang penulisan sejarah Indonesia yang selama ini dinilai terlalu maskulin dan mengabaikan peran perempuan. Hal tersebut ia sampaikan dalam forum Launching Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI) 2026 yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (1/5).

Dalam paparannya, Ita mengungkapkan bahwa saat ini ia tengah menyusun sebuah buku bertajuk Kronik Sejarah Gerakan Perempuan, yang mulai digarap sejak akhir 2024 dan masih terus berkembang hingga kini. Ia menyebut proses penulisan tersebut sebagai perjalanan panjang yang justru membuka semakin banyak temuan baru terkait kontribusi perempuan dalam sejarah Indonesia.

“Apa yang saya sampaikan ini hanya penggalan kecil dari proyek besar yang sedang saya kerjakan. Semakin ditulis, semakin banyak yang muncul,” ujarnya.

Melalui pendekatan interseksi dan agensi perempuan dalam gerakan dekolonisasi, Ita menyoroti bagaimana perempuan Indonesia sejatinya telah lama terlibat dalam dinamika internasional. Namun, kontribusi tersebut kerap diabaikan dalam arus utama historiografi nasional.

Menurutnya, dominasi perspektif patriarki dalam penulisan sejarah membuat perempuan tidak terlihat dalam proses pembentukan kebangsaan. Padahal, berbagai kajian menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran signifikan, baik dalam perjuangan kemerdekaan maupun dalam membangun pemikiran politik dan sosial.

“Perempuan sering hadir dalam fase perjuangan, tetapi setelah kemerdekaan, mereka dikembalikan ke ranah domestik,” kata Ita Fatia Nadia.

Ia kemudian memaparkan sejumlah tokoh perempuan Indonesia yang memiliki pengaruh besar, bahkan hingga level geopolitik dan internasional. Salah satunya adalah Ratu Kalinyamat, yang ia sebut tidak hanya sebagai penguasa. Tetapi juga pemikir strategi maritim yang berperan dalam jalur pelayaran Asia.

Malahayati

Selain itu, Ita juga menyinggung Malahayati sebagai sosok yang selama ini hanya terkenal sebagai pemimpin pasukan. Padahal ia juga merupakan perumus strategi militer laut, termasuk dalam pertempuran melawan Belanda.

Tokoh lain yang ia sorot adalah Safiatuddin dari Aceh, yang berkontribusi dalam pengembangan pendidikan intelektual di kawasan Asia Tenggara. Ia juga memperkenalkan konsep ekonomi perempuan seperti harta peunulang, yang kemudian dihapus pada masa kolonial.

Dalam konteks perlawanan terhadap kolonialisme, Ita mengangkat peran Ratu Ageng Tegalrejo, sebagai penggagas ide-ide besar di balik Perang Jawa. Dari lingkungan yang ia bangun, lahir tokoh seperti Nyai Ageng Serang, seorang panglima perempuan yang berperan aktif dalam perlawanan terhadap Belanda.

Tak hanya itu, Ita juga memperkenalkan sosok Nyai Ageng Gresik sebagai wali perempuan yang menguasai sektor ekonomi maritim di pesisir utara Jawa. Termasuk dalam pengelolaan pajak kapal.

“Enam perempuan ini menunjukkan bahwa jauh sebelum abad ke-20, perempuan sudah menjadi aktor penting dalam geopolitik, ekonomi, pendidikan, dan perlawanan,” jelasnya.

Memasuki abad ke-20, Ita menyoroti munculnya perempuan-perempuan pelopor yang memanfaatkan media tulis sebagai alat perjuangan. Raden Ajeng Kartini menjadi salah satu figur penting yang meninggalkan warisan pemikiran melalui surat-suratnya.

Siti Sundari

Selain Kartini, ada pula Siti Sundari yang mendirikan surat kabar Wanita Swara pada 1913 dan telah membahas isu-isu seperti kekerasan terhadap perempuan, poligami, dan kawin paksa. Bahkan, ia tercatat mengikuti konferensi perempuan internasional di Paris pada 1920-an.

Tokoh lainnya adalah Rohana Kudus, pendiri surat kabar Sunting Melayu, yang berperan dalam membangun tradisi literasi perempuan.

Menurut Ita, pada masa tersebut, surat kabar perempuan berkembang pesat di berbagai daerah, menjadi ruang diskusi dan transformasi gagasan. Perempuan tidak hanya menulis, tetapi juga membangun komunitas belajar yang memperkuat tradisi intelektual mereka.

Perkembangan ini kemudian diikuti oleh lahirnya organisasi perempuan seperti Aisyiyah yang memiliki agenda politik antikolonial, pendidikan, dan kesetaraan.

Ita juga menekankan bahwa perempuan Indonesia telah aktif dalam forum internasional sejak era 1930-an. Termasuk dalam kongres perempuan Muslim dan berbagai pertemuan global. Mereka terlibat dalam pendidikan politik bersama tokoh seperti Soekarno dan Ki Hajar Dewantara.

Pada periode berikutnya, tokoh-tokoh seperti Maria Ulfah Santoso dan S.K. Trimurti turut berperan dalam forum internasional, termasuk dalam gerakan anti-perang dan anti-nuklir.

Namun, Ita mencatat bahwa setelah peristiwa 1965, gerakan perempuan mengalami kemunduran akibat kebijakan negara yang membatasi ruang gerak perempuan ke ranah domestik. Sistem patriarki, menurutnya, diperkuat secara struktural pada masa tersebut.

Kendati demikian, semangat gerakan perempuan kembali bangkit melalui berbagai inisiatif. Termasuk organisasi seperti Solidaritas Perempuan serta gerakan lingkungan dan advokasi hak asasi manusia.

Momentum penting terjadi pada Reformasi 1998, ketika perempuan turut memimpin aksi-aksi demonstrasi dan mendorong lahirnya Komnas Perempuan.

Gerakan Perempuan

Ita menegaskan bahwa gerakan perempuan merupakan transformasi dari pengalaman personal menjadi gerakan sosial-politik yang bertujuan menciptakan keadilan dan kesetaraan.

“Memori dan pengalaman hidup perempuan adalah sumber penting untuk membangun masa depan yang adil,” tegasnya.

Ita Fatia Nadia juga menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam mendengar dan merekonstruksi kembali suara perempuan yang selama ini terpinggirkan. Dengan demikian, upaya tersebut mampu memutus rantai ketidakadilan serta menciptakan kehidupan yang bebas dari kekerasan.

Paparan ini menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia 2026, yang mengusung semangat memperkuat peran perempuan dalam mewujudkan masyarakat yang adil, setara, dan berkeadaban. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.