Mubadalah.id – Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) secara resmi meluncurkan Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia 2026 melalui sebuah forum diskusi daring pada Jumat (1/5) siang. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30–15.30 WIB ini menghadirkan sejumlah tokoh penting, di antaranya aktivis perempuan Ita Fatia Nadia, praktisi Samia Kotele, dan akademisi Zakiya Derajat, dengan Andy Yetriyani sebagai moderator.
Peluncuran ini menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan sepanjang bulan Mei yang didedikasikan untuk memperkuat peran dan kontribusi ulama perempuan dalam membangun peradaban yang berkeadilan serta bebas dari kekerasan.
Sekretaris Majelis Musyawarah KUPI, Masruchah, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya acara tersebut sekaligus mengapresiasi tingginya antusiasme peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Ia juga menyampaikan penghormatan kepada para tokoh yang hadir. Termasuk para kiai, aktivis, dan pimpinan lembaga penyangga KUPI seperti Rahima, Fahmina, Alimat, Gusdurian, dan Aman Indonesia.
“Ini adalah momentum penting untuk merawat ingatan kolektif. Sekaligus memperkuat perjuangan ulama perempuan yang telah berlangsung panjang dalam sejarah Indonesia,” ujarnya.
Masruchah menegaskan bahwa KUPI lahir dari keyakinan bahwa Islam menjunjung tinggi keadilan bagi seluruh manusia tanpa diskriminasi. Baik dalam ruang privat, publik, maupun negara. Nilai-nilai yang KUPI usung mencakup keislaman yang moderat, kebangsaan, kemanusiaan, serta komitmen terhadap anti-kekerasan dan non-diskriminasi.
Bukan Fenomena Baru
Menurutnya, gerakan ulama perempuan bukanlah fenomena baru. Sejak masa sebelum kemerdekaan, perempuan telah memainkan peran penting sebagai pemegang otoritas keagamaan sekaligus aktor sosial yang terlibat dalam perjuangan melawan penjajahan dan ketidakadilan. Peran tersebut terus berlanjut hingga saat ini dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk dalam upaya memajukan perempuan dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan.
“Ulama perempuan tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi sebagai pelaku aktif dalam perjuangan keadilan dan kemanusiaan,” tegasnya.
Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan sendiri pertama kali KUPI luncurkan pada tahun 2025. Sejak itu, bulan Mei ditetapkan sebagai ruang refleksi sekaligus konsolidasi gerakan ulama perempuan di Indonesia. Melalui berbagai kegiatan seperti diskusi, penulisan, shalawatan, dan advokasi. Maka KUPI berupaya menghadirkan suara ulama perempuan dalam merespons persoalan-persoalan kemanusiaan yang mendesak.
Tahun ini, tema yang diangkat adalah “Kebangkitan Ulama Perempuan untuk Indonesia Tanpa Kekerasan.” Tema tersebut merefleksikan keprihatinan atas masih maraknya berbagai bentuk kekerasan yang dialami perempuan. Sekaligus menjadi seruan kolektif untuk menghentikan praktik-praktik tersebut.
Peluncuran pada hari pertama ini juga diisi dengan diskusi yang membahas dinamika gerakan perempuan, baik di tingkat nasional maupun global. Para narasumber kita harapkan dapat memberikan perspektif yang memperkaya pemahaman sekaligus memperkuat jejaring solidaritas antar gerakan perempuan.
Rangkaian kegiatan akan berlanjut pada 2 hingga 21 Mei melalui diskusi serial yang mengangkat biografi ulama perempuan. Baik yang masih hidup maupun yang telah wafat. Diskusi ini bertujuan untuk mendekatkan publik dengan sosok-sosok inspiratif yang selama ini berkontribusi dalam perjuangan keadilan dan kemanusiaan.
Puncak acara dijadwalkan berlangsung pada 24 Mei 2026, yang akan diisi dengan berbagai kegiatan seperti shalawatan, syiiran, pidato kebangsaan, deklarasi kebangkitan ulama perempuan, serta pernyataan sikap kebangsaan KUPI.
Menyemarakan Bulan Kebangkitan
KUPI juga mengajak seluruh jaringan dan komunitas di berbagai daerah untuk turut serta menyemarakkan Bulan Kebangkitan ini melalui kegiatan-kegiatan serupa yang relevan dengan konteks lokal masing-masing.
Masruchah menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan ini. Sekaligus mengajak seluruh peserta untuk menjadikan momentum ini sebagai bagian dari perjuangan bersama.
“Untuk para penyintas kekerasan, untuk korban Mei 1998, untuk perempuan korban kekerasan berbasis gender, untuk bangsa, untuk Indonesia, dan untuk semesta. Mari kita kuatkan langkah bersama,” ujarnya.
Peluncuran Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia 2026 pun secara resmi kita buka dengan pembacaan basmalah, menandai mulainya gerakan kolektif sepanjang bulan Mei dalam memperjuangkan Indonesia yang lebih adil dan bebas dari kekerasan. []





Comments are closed.