Mubadalah.id – Aku menatap layar laptop yang masih menyala, draft tulisan itu berhenti di satu kalimat: “Lalu di mana keberanian itu harus perempuan cari?” Kursor berkedip-kedip seperti ikut mengejek kebimbanganku sendiri.
Malam sudah terlalu larut, tapi pikiranku justru semakin riuh. Entah sejak kapan, kata berani terasa berat. Terlalu sering terucapkan, tapi jarang benar-benar kita pahami.
“Kenapa berhenti?”
Aku menoleh. Seorang perempuan berdiri di dekat jendela. Kebaya sederhana, rambut disanggul rapi, matanya tenang tapi tajam. Aku tahu wajah itu, terlalu sering kulihat di buku-buku sejarah.
“Kartini?” suaraku nyaris berbisik.
Ia tersenyum kecil. “Bukankah kau yang memanggilku, lewat tulisanmu itu?”
Aku terdiam. “Maaf, aku… tidak benar-benar memanggil. Aku hanya bertanya.”
“Pertanyaan yang serius,” jawabnya sambil mendekat. “Tentang keberanian.”
Aku menghela napas. “Kalau boleh jujur, aku lelah. Kita selalu diminta berani. Berani bicara, berani melawan, berani bersuara. Tapi realitasnya tidak sesederhana itu.”
Malam itu aku bersama Kartini. Ia duduk di kursi seberangku. “Ceritakan.”
“Ada terlalu banyak yang harus dihadapi perempuan hari ini,” kataku. “Kekerasan seksual, standar tubuh yang tidak masuk akal, tekanan sosial, ekonomi. Bahkan untuk sekadar merasa aman di tubuh sendiri saja sulit. Lalu orang masih bilang: ‘perempuan harus berani.’ Seolah-olah itu solusi.”
Keberanian adalah Tetap Melangkah, Meski Takut itu Ada
Ia tidak langsung menjawab. Hanya menatapku, seolah memberi ruang agar aku menyelesaikan kegelisahan.
“Kadang aku merasa,” lanjutku, “keberanian itu seperti kemewahan. Tidak semua perempuan punya akses untuk itu.”
Kartini mengangguk pelan. “Kau benar. Bahkan di zamanku, keberanian juga bukan sesuatu yang mudah dimiliki.”
“Tapi kamu tetap berani,” potongku cepat.
Ia tersenyum tipis. “Apa kau yakin?”
Aku mengerutkan kening. “Bukankah kamu menulis, berpikir, melawan batasan zamannya?”
“Aku takut,” katanya singkat.
Jawaban itu membuatku terdiam.
“Aku takut pada aturan keluarga, takut pada tradisi, takut pada masa depan yang sudah ditentukan tanpa persetujuanku,” lanjutnya. “Lalu, aku tidak lahir sebagai perempuan yang tanpa rasa gentar. Aku hanya tidak ingin diam.”
“Jadi keberanian itu bukan tidak takut?”
“Bukan,” jawabnya tegas. “Keberanian adalah tetap melangkah meski takut itu ada.”
Keberanian tidak Pernah Bekerja Sendirian
Aku menatap meja. “Masalahnya, tidak semua perempuan bisa melangkah. Ada yang terjebak dalam kekerasan, dalam kemiskinan, dalam relasi yang mengekang. Mereka bahkan tidak punya ruang untuk memilih.”
Kartini menghela napas panjang. “Kau sedang melihat keberanian sebagai sesuatu yang besar dan terlihat. Padahal, seringkali ia hadir dalam bentuk yang sangat kecil.”
“Maksudnya?”
“Perempuan yang bertahan hidup hari ini,” katanya pelan, “itu sudah berani. Perempuan yang bangun setiap pagi, mengurus keluarga, bekerja, menghadapi dunia yang tidak ramah, itu juga berani. Bahkan perempuan yang masih mencari cara untuk memahami dirinya sendiri, itu pun keberanian.”
Aku mengangkat kepala. “Tapi itu tidak cukup untuk mengubah sistem.”
“Benar,” katanya. “Karena keberanian tidak pernah bekerja sendirian.”
Aku terdiam, mencoba memahami.
“Kau aktivis perempuan, bukan?” tanyanya.
“Iya.”
“Lalu kenapa kau merasa harus memikul keberanian itu sendirian?”
Pertanyaan itu menohok.
“Aku tidak tahu. Mungkin karena tuntutan. Mungkin karena ekspektasi yang terlalu tinggi.”
Gagasan akan Menemukan Jalannya Sendiri
Kartini tersenyum hangat. “Di zamanku, aku menulis surat. Aku tahu, aku tidak bisa mengubah dunia sendirian. Tapi aku percaya, gagasan bisa menemukan jalannya sendiri.”
“Sekarang kita punya media sosial, kampanye, gerakan,” kataku. “Tapi tetap saja, perubahan terasa lambat.”
“Perubahan memang lambat,” jawabnya. “Dan seringkali menyakitkan. Tapi itu tidak berarti sia-sia.”
Aku menghela napas. “Kadang aku merasa kita hanya mengulang luka yang sama, dari generasi ke generasi.”
“Tidak sepenuhnya sama,” katanya. “Kau bisa berbicara seperti ini hari ini. Kau bisa menulis, bersuara, bahkan mempertanyakan keberanian itu sendiri. Itu sudah berbeda dari zamanku.”
Aku terdiam lagi.
“Zahra,” katanya pelan, menyebut namaku untuk pertama kali, “mungkin pertanyaanmu perlu diubah.”
Aku menatapnya. “Diubah bagaimana?”
“Bukan lagi ‘di mana perempuan harus mencari keberanian,’” ujarnya, “tapi ‘bagaimana kita menciptakan ruang agar perempuan tidak harus selalu dipaksa berani.’”
Aku tertegun.
“Karena dunia yang adil,” lanjutnya, “bukan dunia yang menuntut perempuan menjadi pahlawan setiap hari. Tapi dunia yang membuat mereka bisa hidup tanpa rasa takut yang berlebihan.”
Aku merasakan sesuatu menghangat di dada. Seperti ada yang pelan-pelan diluruskan.
“Jadi, keberanian bukan satu-satunya jawaban?”
“Keberanian penting,” katanya. “Tapi ia bukan beban yang harus selalu dipikul sendiri. Ia harus dibagi, ditopang, dan diperjuangkan bersama.”
Aku tersenyum tipis. “Kedengarannya lebih masuk akal.”
Kartini berdiri, berjalan kembali ke arah jendela. “Tulisanmu tadi,” katanya tanpa menoleh, “lanjutkan.”
“Apa yang harus kutulis?”
Ia menoleh, matanya tenang seperti awal tadi. “Tulis bahwa perempuan tidak selalu harus kuat sendirian. Tulis bahwa keberanian bisa lahir dari kebersamaan. Dan tulis bahwa bertahan hidup pun adalah bentuk perlawanan.”
Aku mengangguk perlahan.
Ketika aku kembali menatap laptop, kursi di seberang sudah kosong.
Kursor masih berkedip. Tapi kali ini, aku tahu harus menulis apa.
Aku mulai mengetik:
Menjadi Kartini hari ini mungkin bukan soal menjadi paling berani. Tapi tentang terus hidup, terus bersuara, dan saling menguatkan. Meski dunia belum sepenuhnya berpihak pada perempuan. []





Comments are closed.