Rumah milik Citra Dewi menjadi satu-satunya tempat bernaung bagi ratusan warga ketika banjir melanda Dusun Bahagia, Aceh Tamiang. Warga saling jaga, meski berhari-hari hidup dikepung banjir dan tanpa bantuan pemerintah.
Air datang tanpa aba-aba pada Kamis 27 November 2025 dini hari. Dalam hitungan jam, Gang Cendana di Dusun Bahagia, Kampung Bundar, Aceh Tamiang, berubah menjadi lorong sunyi yang ditelan arus. Pagar kalah lebih dulu, lalu teras, lalu halaman. Dalam sekejap, air sudah setinggi dada orang dewasa, dan suara jerit minta tolong bersahut-sahutan dari rumah ke rumah.
Di ujung gang itu, rumah dua lantai milik Citra Dewi berdiri seperti pulau kecil. Rumah itu menjadi satu-satunya tempat yang paling aman untuk mengungsi warga. Para tetangganya satu per satu datang dalam kondisi basah kuyup. Ada yang sambil menggendong anak, menenteng karung barang penting. Mereka merasakan ketakutan yang sama: banjir yang menggila.

Totalnya ada 134 orang berhimpitan mengungsi ke sana, di antaranya ada tiga bayi dan dua puluh balita. Citra, yang merupakan PNS di Badan Kepegawaian dan Pengembangan SDM (BKPSDM) di Kuala Simpang, tak pernah membayangkan rumahnya akan menjadi tempat pengungsian.
“Awalnya kan tetangga-tetangga datang, untuk mengungsi karena air mulai tinggi. Tapi kami sepakat untuk anak-anak dan perempuan saja, yang bapak-bapak mengungsi di Masjid. Rupanya makin malam air makin naik, dan Masjid pun sudah hampir tenggelam, mau gak mau akhirnya bapak-bapak pun ikut ngungsi disini, ini udah masalah keselamatan jiwa gak mungkin kami tolak,” ucap Citra.
Semakin malam air terus naik, dari jendela lantai dua, mereka melihat atap-atap rumah tetangga hampir tenggelam. Suara air menghantam dinding serta benda-benda hanyut yang beradu di arus deras semakin menambah ketakutan.
“Kami bingung, listrik mati, HP kami pun gak ada sinyal, suara-suara minta tolong banyak kali kami dengar dari rumah-rumah tetangga, tapi kami gak bisa apa-apa, kami pasrah sambil berdoa semoga cepatlah air surut,” tambahnya dengan suara tangis yang tertahan.

Bagi mereka tangis bayi adalah suara yang paling menakutkan malam itu. Bukan karena mengganggu, tapi karena semua tahu, bahwa tangisan berarti lapar, dingin atau pun sakit.
“Bayi dan anak-anak, kami tempatkan di kamar, jadi waktu bayi-bayi udah mulai nangis, cepat-cepat lah kami cari makanan yang bisa buat mereka berhenti nangis. Pas ada tepung di rumah saya ini, itulah yang kami masak untuk mereka makan.”
Di sudut ruangan serta di balkon teras atas, para lelaki duduk diam, memandangi air dari jendela. Mereka menghitung jam dan debit air yang terus naik dengan harapan segera surut.
Pada malam hari pertama bencana, empat orang laki-laki memutuskan untuk keluar dari rumah dan mencoba menyeberang menggunakan boks plastik untuk mencari makanan. Harapannya bisa membawa apa saja yang dapat dimakan dari luar kampung, namun yang terjadi mereka yang pergi tak kunjung kembali. Kekhawatiran pun semakin menjadi.
“Kami khawatir, tapi kita kan gak boleh nyerah, dengan banyaknya anak-anak ini pulalah kami jadi kuat dan akhirnya keesokan harinya, keluar lagilah dua orang laki-laki tapi itu pun sama, mereka tak kembali juga.”

Di tengah kekalutan itu Syafrizal, suami Citra memutuskan untuk menambahkan campuran semen ke dalam bak mandi yang penuh air lumpur, untuk mempercepat proses pengendapan. Air bersih juga sudah habis, mereka harus mencari cara agar tetap bisa bertahan. Lumpur-lumpur yang mengendap meninggalkan air yang sudah sedikit terlihat bersih. Air itu segera mereka masak hingga mendidih untuk minum para pengungsi, mulai dari bayi, anak-anak, ibu hamil dan semuanya ikut mengkonsumsi air tersebut.

“Gak tega saya dengar suara tangis bayi dan anak-anak yang sudah kelaparan dan kehausan, stok makanan di rumah kami ini pun sudah habis, setidaknya dengan air itu bisalah buat menghangatkan badan dan lepaskan haus mereka,” ujar Syafrizal.
Syafrizal tak mampu berbuat banyak, karena ia juga sedang dalam keadaan sakit. Namun dengan banyaknya warga yang ikut mengungsi di rumahnya, mau tak mau ia juga harus bergerak.
“Saya kena hipertensi, jadi waktu kejadian itu, saya masih sakit. Saya belum sanggup berdiri karena pusing, tapi mungkin karena kejadian ini sangat mengerikan. Akhirnya tak lagi saya rasakan sakit saya itu,” jelas Syafrizal.
Pada hari ketiga, air belum juga surut, arusnya juga masih deras, namun beberapa orang memberanikan diri turun. Mereka membuat rakit dari empat batang pohon pisang, lalu dengan rakit itu enam orang laki-laki dan Citra keluar mencari bantuan.

Mereka berangkat menerjang arus setinggi tujuh meter. Tujuan mereka adalah ke kota berharap ada posko yang dapat membantu. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan beberapa orang yang tengah berenang dengan galon-galon Aqua sebagai pelampung. Orang-orang itu menyarankan Citra untuk tidak melanjutkan perjalanan, karena di kota juga tidak ada posko ataupun bantuan, air dan arus justru lebih tinggi.
“Belum sampai Simpang, kami lihat ada jajan-jajanan hanyut, itulah yang kami tangkap, mie gelas yang udah kembang, apa ajalah yang bisa dimakan, termasuk buah-buahan yang hanyut kami ambil aja. Itu pun posisi kawan-kawan yang berenang di samping rakit udah pada keram, ada yang keram perut, keram kakinya, karena kami pun belum makan.”
Akhirnya Citra dan rombongan memilih untuk berhenti lalu pulang.
Waktu berjalan lambat. Bau lumpur melekat di kulit. Tidur pun dilakukan sambil berdiri, terkecuali untuk bayi dan anak-anak. Mereka diperlakukan khusus bersama para ibu hamil dan menyusui.
Di sela-sela kecemasan, ada hal-hal kecil yang menguatkan. Salah seorang anak usia 11 tahun, berusaha menjadi penghibur bagi mereka. Ia bercerita dan bernyanyi mengajak anak-anak lainnya untuk bermain dan tertawa.
“Ada itu kan anaknya bijak, dia gak kerasa seperti dalam bencana, dia yang gerakkan kawan-kawannya semua, nyanyi-nyanyi, jadi kayak hiburan juga buat kita, jadi empat hari itu tegang lah kan, tapi di balik itu, ukhuwah kami jadi makin kuat, kami salat bersama, berdoa bersama, betul-betul lah udah seperti saudara kami semua,” kisah Citra.
Pada hari kelima, air pun mulai surut, dan sudah mulai bisa diseberangi dengan aman. Warga yang mengungsi pun satu per satu meminta izin untuk pergi ke rumah keluarga lainnya atau pun keluar untuk melihat keadaan rumah mereka.
“Kami berpelukan satu persatu, perasaan kami pun campur aduk, sedih, bahagia karena kami selamat dari bencana, tangis kami pun pecah juga, padahal selama kami bersama hal itulah yang paling kami jaga, biar kami bisa tetap kuat,” ujar Citra dengan tangis yang pecah juga di tengah perbincangan.
Wajah Citra terlihat lelah, matanya masih sembab, pakaiannya pun masih basah.
Air menyisakan lumpur pada setiap sudut rumah Citra. Tangga yang kotor, dinding penuh bekas air dan perabotan yang porak poranda.


Meski berantakan diterjang banjir, rumah dua lantai itu bukan sekadar bangunan, namun ia adalah ruang aman, dapur darurat, tempat tidur bersama, dan sekolah solidaritas. Di sanalah 134 orang belajar bahwa bertahan hidup bukan hanya soal logistik, tetapi tentang keberanian untuk membuka pintu dan kesediaan untuk berbagi segalanya.






Comments are closed.