Arina.id – KH Maimoen Zubair adalah salah satu ulama Indonesia yang selalu menyerukan semangat nasionalisme dan cinta tanah air semasa hidupnya. Beliau mengajarkan nilai-nilai cinta tanah air kepada keluarga dan santri-santrinya.
Mbah Moen banyak menungkapkan pandangannya tentang keindonesiaan. Salah satunya adalah beliau menjabarkan makna PBNU menjadi (P) Pancasila, (B) Bhinneka Tunggal Ika, (N) Negara Kesatun Republik Indonesia, dan (U) Undang-undang Dasar 1945. Ini menunjukkan bahwa menjadi NU harus menjadi Indonesia karena empat pilar kebangsaan ada dalam singkatan tersebut.
Kecintaan Mbah moen terhadap indonesia juga ditunjukkan terhadap beberapa doa-doa beliau untuk Indonesia, di antaranya adalah doa beliau saat pembukaan Rakernas Majelis Dzikir Hubbul Wathan di Asrama Haji Pondok Gede pada Rabu (21/2/2018) sebagaimana berikut:
فَاجْعَلْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيسْيا بَلْدَةً طَيِّبَةً وَأَنْتَ رَبٌّ غَفُوْرٌ اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذِهِ البَلْدَةَ بَلْدَةً -يَاالله- وَطَنِيَّةً -يَااِلَهَنَا- دِيْنِيَّةً يَاالله عَلَى مَا كَانَ عَلَيْهِ فِيْ تَعْلِيْمِ دِيْنِكَ -يَاالله- لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ, لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ, لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّيْنِ. فَنَحْنُ -يَااِلَهَنَا يَاالله- مَعَاشِرُ أَهْلِ الإِسْلَامِ إِجْعَلْ -يَاالَهَنَا- نَحْنُ عَلَى وَحْدَةٍ وَاتِّحَادٍ لَا لِأَجْلِ طَائِفَتِنَا فَقَطْ بَلْ لِأَجْلِ عَامَةٍ كَافَةٍ لِأَهْلِ البِلَادِ حَتَّى تَكُوْنَ هَذِهِ البَلْدَةِ بَلْدَةً طَيِّبَةً نَقُوْلُ هَكَذَا وَهَكَذَا وَأَنْتَ رَبٌّ غَفُوْرٌ.
اَللَّهُمَّ يَااِلَهَنَا يَاالله حَوِّلْ أَحْوَالَنَا اِلَى أَحْسَنِ الحَالِ بِجَاهِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَاحِبِ أَحْسَنِ الحَالِ وَأَحْسَنِ الْمَقَالِ, يَا كَبِيْرُ يَامُتَعَالِ أَكْرِمْنَا بِحُسْنِ الحَالِ خُصُوْصاً –يَاالله- مَا يَتَعَلَّقُ بِبِلَادِنَا إِنْدُوْنِيسيَا -ياالله- إِجْعَلْهَا بَلْدَةً آمِنَةً رَافِعَةً مُحْسِبَةً -يَااِلَهَنَا يَاالله- لَا هُنَاكَ التَّفَرُّقُ وَلَكِنْ هُنَاكَ -يَاالله- الْمَحَبَّةُ بَيْنَنَا الجَمِيْعَ حَتَّى كَانَتْ هَذِهِ البَلْدَةُ مُؤَيَّدَةً مِنْ عِنْدِكَ -يَااِلَهَنَا- مِنْ -يَاالله- مِنْ اَفْضَلِ البِلَادِ وَنَحْنُ عَلَى أَتَمِّ النِّعْمَةِ -يَااِلَهَنَا- وَأَتَمِّ الرَّحْمَةِ مِنْكَ يَارَبَّ العِبَادِ.
رَبَّنَا وَاٰتِنَا مَا وَعَدْتَّنَا عَلٰى رُسُلِكَ وَلَا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيْعَادَ
اَللَّهُمَّ سَلِّمْنَا الجَمِيْعَ وَأَيِّدْنَا الجَمِيْعَ وَأَيِّدْ رَئِيْسَنَا -يَااِلَهَنَا- رَئِيْسَ الْجُمْهُوْرِيَّةِ -يَاالله- إِنْدُوْنِيْسيَا -يَاالله- أَكْرِمْهُ وَأَكْرِمْ -يَااِلَهَنَا يَاالله- وَأَيِّدْ وُزَرَاءَهُ -يَااِلَهَنَا-وَوُكَلَاءَهُ حَتَّى تَمَّتْ النِّعْمَةُ عَلَى هَذِهِ البَلْدَةِ وَأَنْتَ رُبُّنَا وَرَبُّ كُلِّ شَيْءٍ فَأَكْرِمْنَا -يَااِلَهَنَا يَاالله- بِالرَّحْمَةِ وَالنِّعْمَةِ لِلْبَلْدَةِ الإِنْدُوْنِيْسيَا.
Artinnya: “Jadikanlah negara kami Indonesia negara yang baik, dan Engkau adalah Tuhan yang Maha pengampun. Ya Allah jadikanlah negara ini, negara yang nasionalis, dan religius, sesuai untuk mempelajari ilmu agama-Mu. Tidak ada paksaan dalam agama, tidak ada paksaan dalam agama tidak ada paksaan dalam agama. Maka kami adalah mayoritas penduduk muslim, jadikanlah kami dalam satu kesatuan dan persatuan tidak karena kelompok kita saja, tetapi karena kepentingan umum yang menyeluruh terhadap seluruh penduduk negeri, sehingga negeri ini menjadi negeri yang baik yang kita sebut dengan berbagai penyebutan, dan Engkau adalah Tuhan yang Maha pengampun.
Ya Allah Ya Tuhan kami rubahlah prilaku kami menjadi prilaku yang paling baik demi posisi Nabi-Mu Muhammad orang yang mempunyai prilaku terbaik, dan ucapan terbaik, wahai Dzat yang Maha besar dan Maha tinggi. Muliakan kami denga prilaku yang baik terkhusus segala sesuatu yang berhubungan dengan negeri kami Indonesia. Jadikanlah Indonesia negeri yang aman, maju, dan kaya. Tidak ada perpecahan di dalamnya, tetapi penuh kecintaan di antara kami semuanya sehingga negeri ini menjadi negeri yang kuat di sisi-Mu dan menjadi negeri yang paling utama, dan kami dalam kenikmatan yang sempurna dan rahmat yang paling sempurna dari-Mu wahai Tuhan seluruh hamba.
Ya Tuhan kami, anugerahilah kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak pernah mengingkari janji.”
Ya Allah selamatkanlah kami semuanya, dan kuatkanlah kami semuanya, dan kuatkan pemimpin kami, pemimpin tertinggi bangsa ini, bansa Indonesia, muliakanlah dia, dan muliakan serta kuatkanlah menteri-menteri dan kabinetnya, sehingga negeri ini mendapatkan kenikmatan yang sempurna dan Engkau adalah Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, maka muliakanlah kami dengan rahmat dan nikmat untuk negara Indonesia.”
Doa-doa Mbah Moen identik dengan sisipan kalimat “Ya Ilahana, Ya Allah”. Penulis sengaja menuliskan redaksi kalimat itu dengan diapit tanda (-) karena sisipan itu terhitung sebagai jumlah mu’taridhah, yaitu kata sisipan di antara susunan kalimat yang seharusnya saling berdampingan dalam ilmu sintaksis bahasa Arab.
Di samping untuk memantapkan penghambaan kepada Allah dalam sebuah doa, Penulis memahami bahwa kalimat ciri khas dalam doa Mbah Moen tersebut digunakan untuk jeda ketika beliau sedang merangkai kata dalam bait-bait doanya. Pada kenyataanya ciri khas yang paling ikonik dalam doa Mbah Moen adalah doa yang beliau buat sendiri yang menyesuaikan dengan kondisi dan konteks (Muqtadhal Hal).
Doa Kebangsaan dan Kemerdekaan
Selain doa untuk Indonesia, Mbah Moen juga pernah memanjatkan doa kebangsaan dan kemerdekaan saat acara Zikir Kebangsaan di halaman Istana Merdeka pada Selasa malam (1/8/2017).
Mbah Moen melantunkan doa dengan dua bahasa, bahasa Arab terlebih dahulu, kemudian bahasa Indonesia yang secara arti garis besar dan inti makna doanya adalah sama. Berikut redaksi doa berbahasa Arab dari beliau:
يَاالله شُكْراً لَكَ يَاإِلَهَنَا عَلَى مَا تَفَضَّلْتَ عَلَيْنَا مِنْ نِعْمَةِ الإِسْتِقْلَالِ مِنْ نِعْمَةِ الحُرِّيَّةِ حُرِّيَّةِ إِنْدُوْنِيْسيَا يَاالله فِيْ هَذاَ الشَّهْرِ العَظِيْمِ شَهْرِ أَغُوْسِتُوْس شَهْرِ الْمُعَظَّمِ عِنْدَنَا وَعِنْدَكَ يَاالله حَيْثُ بَعَثْتَ نَبِيَّكَ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم كَذَالِكَ فِيْ شَهْرِ أَغُوْسِتُوْس يَاالله يَارَبَّنَا لَكَ أَنْتَ أَعْلمُ مِنَّا يَاإِلَهَنَا أَعْطَيْتَنَا فِي شَهْرِ الْمُعَظَّمِ شَهْرِ أَغُوْسْتُوْس الَّذِيْ أَنْزَلْتَ فِيْهِ القُرِأَنَ وَبَعَثْتَ فِيْهِ نَبِيَّنَا مُحَمَّداً سَيِّدَ بَنِيْ الإِنْسَانِ يَاالله يَارَبِّ يوُاَفِقُ ذَلِكَ شَهْرَ رَمَضَانَ وَكَذَالِكَ يَاإِلَهَنَا يَالله إِسْتِقْلَالَنَا كَمَا كَانَ فِيْ شَهْرِ أَغُوْسْتُوْس كَذَالِكَ شَهْرِ رَمَضَانَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ فِيْهِ القُرْأَنَ يَاإِلَهَنَا وَفِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ إِجْتَمَعْنَا فِيْ هَذَا الْمَجْمَعِ فِي قَصْرِ الأَعْظَمِ إِسْتَانَا فَرِيْسِيْدِيْن.
Artinya: “Ya Allah Syukur kami panjatkan kepada-Mu atas keutamaan yang Engkau berikan kepada kami dari nikmat kemerdekaan, nikmat kemerdekaan bangsa Indonesia ya Allah di bulan agung ini, bulan Agustus, bulan yang mulia menurut kami dan menurut-Mu ya Allah, dengan Engkau mengutus Nabi-Mu Muhammad saw. juga di bulan Agustus. Ya Allah ya Rabbana, hanya untuk-Mu, Engkau lebih mengetahui daripada kami, Engkau telah menganugerahkan kami di bulan agung ini, bulan Agustus bulan yang Kau turunkan Al-Qur’an di dalamnya, dan Kau utus Nabi kami Muhammad, penghulu umat manusia. Ya Allah ya Rabbi yang bertepatan dengan bulan Ramadhan wahai Tuhan kami kemerdekaan kami sebagaimana di bulan Agustus sebagaimana di bulan ramadhan wahai Tuhan kami , di malam ini kami berkumpul di Istana Presiden.”
Kemudian Mbah Maimoen melanjutkan doa tersebut dengan redaksi doa berbahasa Indonesia sebagai berikut:
“Ya Allah, ya Allah, ya Allah turunkanlah nikmat-Mu kepada kami selalian bangsa Indonesia yang telah Kau beri nikmat, nikmat-Mu adalah kemerdekaan, satu-satunya kenikmatan yang harus kita junjung, kita syukuri. Ya Allah, ya Rabbi, alangkah nikmat ya Allah, Kau jadikan kemerdekaan kita dalam bulan Agustus. Kau mengutus utusan-Mu juga bulan Agustus. Bertepatan bulan Ramadhan dan istiqlal kemerdekaan kita juga bulan Ramadhan.
Ya Allah, berkahilah kami kumpul di sini untuk supaya bangsa kita yang sudah 72 tahun ini merdeka, jadikanlah menjadi bangsa yang bersatu, menjadi bangsa yang tak berpecah-belah, saling walau beraneka warna, bersuku-suku, tapi itu sesuai dengan firman-Mu lita’arafu, agar supaya bersatu, agar ada ta’aruf, sehingga di situ ada kata-kata yang sama dengan apa ajaran-Mu Bhinneka Tunggal Ika.
Ya Allah, ya Rabbi, ya Tuhan kami, anugerahilah kami ini, bangsa Indonesia yang beraneka ragam, bersuku-suku ya Allah berbahasa yang ribuan bahasa, tetapi walaupun begitu adalah satu. Inilah ucapan dan permohonan kami pada-Mu, mula sebab bulan yang besar, bulan Agustus, bulan yang kita muliakan dan Kau muliakan.
Ya Allah, ya Rabbi, kabulkanlah doa kami ini dan jadikanlah kekuatan kami ini kekuatan untuk persatuan dan kesatuan bangsa. Lindungilah ya Allah ya Rabbi kuatkanlah pemimpin-pemimpin kami, daripada para presiden wakilnya serta para menterinya, semua pemerintah Indonesia ini jadikanlah pemerintah kuat sehingga pada malam ini kelihatan Kau mengetahui yang Kau Maha Mengetahui kumpul para ulama dan umara dan jadikanlah ini sebagai ajaran yang Kau berikan kepada kami adalah kekuatan, adalah persatuan antara ulama dan umara.”



Comments are closed.