Sat,22 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Kenapa Semuanya Diganti dengan Kimpul? Apa sih Kimpul itu Sebenarnya?

Kenapa Semuanya Diganti dengan Kimpul? Apa sih Kimpul itu Sebenarnya?

kenapa-semuanya-diganti-dengan-kimpul?-apa-sih-kimpul-itu-sebenarnya?
Kenapa Semuanya Diganti dengan Kimpul? Apa sih Kimpul itu Sebenarnya?
service

Bincangperempuan.com- Belakangan ini, layar media sosial kita mendadak diserbu oleh “perkimpulan” massal. Mulai dari komentar di TikTok, cuitan di X, sampai editan meme, semuanya sepakat memakai pola yang sama: “Karena nggak ada …., jadi saya ganti kimpul.” Lelucon receh ini meledak berkat eksperimen kreatif akun TikTok @black.sheep8208 yang nekat mengganti bahan-bahan masakan kekinian, seperti lasagna, mashed potato, hingga chewy cookie menggunakan umbi kimpul.

Sekilas, tren ini seperti konten lucu biasa yang viral sebentar dan bakal hilang begitu ada yang baru. Tapi kalau ditarik lebih jauh, ada hal menarik yang patut kita renungkan di balik viralnya kimpul ini. Kenapa bahan pangan yang selama ini mengendap di balik bayang-bayang sejarah, diremehkan sebagai makanan “ndeso”, dan dianggap cuma layak dimakan saat masa sulit, mendadak butuh bantuan komedi media sosial agar dilirik kembali oleh anak muda?

Baca juga: Mengapa Joke Seksis Terus Ada? Menelaah Ketimpangan Gender dalam Panggung Komedi 

Apa Sih Kimpul Itu Sebenarnya?

Kimpul, atau yang secara ilmiah disebut Xanthosoma sagittifolium, adalah umbi-umbian dari keluarga talas-talasan (Araceae). Di berbagai daerah di Indonesia, ia punya banyak nama, ada yang menyebutnya talas Belitung, bentul, bothe, genjlong, glitung, linjik, hingga busil. Meski sering disamakan dengan talas biasa (Colocasia esculenta), keduanya berbeda. Kimpul biasanya menghasilkan banyak umbi anak yang tumbuh mengelilingi umbi induknya, daunnya berbentuk seperti mata panah, dan teksturnya setelah dimasak cenderung lebih lembut, pulen, dan sedikit memiliki butiran seperti pasir.

Rasa kimpul sering digambarkan sebagai perpaduan antara kentang, talas, dan singkong. Rasanya gurih dengan sedikit manis alami. Karena itu, ia mudah diolah menjadi berbagai hidangan, baik yang tradisional maupun yang modern. Yang menarik, data dari Direktorat Aneka Kacang dan Umbi, Ditjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, menunjukkan bahwa dalam 100 gram umbi kimpul terdapat sekitar 28,66 persen karbohidrat, 2,81 persen protein, dan hanya 0,08 persen lemak. Kandungan seratnya juga cukup tinggi, baik yang larut maupun tidak larut air.

Prof. Evy Damayanthi, Guru Besar Ilmu Gizi dari IPB University, pernah menegaskan bahwa talas kimpul merupakan sumber karbohidrat yang rendah lemak dan memiliki indeks glikemik relatif rendah. Ia juga mengandung serat pangan, pati resisten, mineral seperti kalium dan tembaga, serta komponen bioaktif seperti diosgenin dan flavonoid yang baik untuk pencernaan. Bahkan, kimpul secara alami bebas gluten, sehingga bisa menjadi alternatif bagi mereka yang ingin mengurangi konsumsi tepung terigu atau nasi putih.

Baca juga: Bisakah Cewek dan Cowok Berteman Dekat Tanpa Baper? 

Dengan Segala Keuntungannya, Mengapa Kimpul Terlupakan?

Selama puluhan tahun, beras dipaksakan menjadi satu-satunya simbol “sudah makan”. Padahal, jika kita menengok sejarah piring makan di Jawa, keberagaman pangan lokal adalah makanan sehari-hari masyarakat kita. Masyarakat Sunda, misalnya, begitu akrab dan kreatif mengolah per-aci-an yang berasal dari pati umbi atau sagu. Di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, masyarakat bertahan dan berdaya lewat nasi tiwul dari singkong, olahan suweg, gembili, hingga grontol jagung yang gurih dan manis.

Sayangnya, keberagaman ini perlahan digeser ke pinggiran. Umbi-umbian lokal, termasuk kimpul, mulai tersingkir. Di banyak keluarga, kimpul hanya muncul saat paceklik atau dijadikan makanan pengganti sementara. Generasi muda yang tumbuh di kota bahkan mungkin belum pernah melihat bentuk aslinya, apalagi mencicipinya. Citra ndeso dan stempel “makanan masa susah” justru menempel kuat, sehingga potensi kimpul sebagai pangan lokal yang bergizi tinggi dan tahan perubahan iklim malah kurang mendapat perhatian.

Padahal, Indonesia memiliki kekayaan umbi-umbian yang luar biasa, mulai dari singkong, ubi jalar, gembili, suweg, hingga kimpul. Namun, ketergantungan masyarakat pada beras masih sangat tinggi. Ketika harga beras melonjak atau produksinya terganggu akibat dinamika cuaca ekstrim, masyarakat baru heboh melirik alternatif. Padahal, kimpul tergolong tanaman yang sangat tangguh: relatif tahan kekeringan dan sanggup tumbuh subur di berbagai kondisi lahan, dari dataran rendah hingga ketinggian sedang.

Di sisi lain, pembahasan tentang pangan lokal tidak bisa dilepaskan dari peran perempuan. Dalam banyak rumah tangga, perempuan adalah pengelola dapur, pengambil keputusan menu harian, sekaligus penjaga pengetahuan tradisional tentang bahan pangan lokal di sekitarnya. Merekalah yang tahu persis teknik mengolahnya. Pengetahuan berharga ini biasanya diwariskan secara lisan dari ibu ke anak perempuan, dari nenek ke cucu.

Ketika kimpul “hilang” dari meja makan, yang lenyap sebenarnya bukan cuma satu jenis umbi, melainkan juga rantai pengetahuan lokal yang selama ini dijaga erat oleh perempuan. Tren viral di media sosial, meski berawal dari konten sehari-hari yang viral, justru berhasil membuka ruang wacana baru. Eksperimen seorang ibu rumah tangga yang konsisten mengolah kimpul menjadi hidangan kekinian sukses membuat ribuan anak muda penasaran. 

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan sejati berakar pada memori kolektif, identitas budaya, serta peran perempuan yang menjaga pengetahuan itu tetap hidup. Perempuan, yang berada di garis depan pengelolaan dapur rumah tangga, memiliki posisi yang sangat strategis. Jika pengetahuan mereka tentang umbi lokal seperti kimpul terus dihargai dan diperbarui—baik lewat konten kreatif media sosial maupun program pemberdayaan—maka peluang kita untuk lepas dari ketergantungan pada satu jenis pangan pokok akan semakin terbuka lebar.

Sebab diversifikasi pangan seharusnya sudah menjadi praktik sehari-hari yang dimulai dari dapur rumah, dikomunikasikan lewat konten kreatif, dan dibangun dari kesadaran bahwa makanan yang dulu dicap ndeso ternyata menyimpan nilai gizi serta ketahanan ekologis yang luar biasa.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.