Thu,28 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Etika Bertamu: Mana yang Didahulukan, Ucapkan Salam atau Ketuk Pintu?

Etika Bertamu: Mana yang Didahulukan, Ucapkan Salam atau Ketuk Pintu?

etika-bertamu:-mana-yang-didahulukan,-ucapkan-salam-atau-ketuk-pintu?
Etika Bertamu: Mana yang Didahulukan, Ucapkan Salam atau Ketuk Pintu?
service

Lebaran adalah momen yang istimewa untuk mempererat tali silaturahmi. Bertamu ke rumah sanak saudara dan sahabat menjadi salah satu cara paling hangat untuk menyampaikan rasa kasih dan hormat. Namun, keindahan perjumpaan akan terasa kurang jika kita lupa akan adab bertamu.

Menjaga tata krama saat berkunjung dari menyapa dengan sopan, menghormati privasi tuan rumah, hingga memperhatikan waktu kunjungan, merupakan wujud penghargaan yang membuat pertemuan lebih bermakna.Menjaga etika saat kunjungan menjadi sarana memperkuat hubungan sosial yang tulus dan membawa keberkahan bagi semua pihak.

Protokol Isti’dzan: Seni Menghargai Privasi

Silaturahmi merupakan sarana utama dalam menjalin persaudaraan, terutama saat Lebaran. Salah satu bentuknya adalah bertamu. Namun, dalam Islam, rumah adalah wilayah privasi yang sangat dijaga kesuciannya melalui konsep Isti’dzan (meminta izin).

Hal ini salah satunya tercermin dalam firman-Nya dalam surat An-Nur ayat 27 yang berbunyi:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَدْخُلُوْا بُيُوْتًا غَيْرَ بُيُوْتِكُمْ حَتّٰى تَسْتَأْنِسُوْا وَتُسَلِّمُوْا عَلٰٓى اَهْلِهَاۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Demikian itu lebih baik bagimu agar kamu mengambil pelajaran.” (QS. An-Nur: 27)

Mana yang Didahulukan, Ucapkan Salam atau Ketuk Pintu?

Pernahkah kita bingung saat berdiri di depan pintu rumah orang lain? Haruskah kita berteriak “Assalamu’alaikum” dulu, atau mengetuk pintu baru kemudian mengucap salam?

Jika kita membaca surat An-Nur ayat 27 di atas, urutannya memang menyebutkan meminta izin baru kemudian memberi salam. Sebagian ulama memegang teguh urutan ini secara tekstual. Simak paparan Syekh Ali Ash-Shabuni dalam kitab Rawa’iul Bayan berikut:

ظاهر الآية الكريمة يدل على تقديم الاستئذان على السلام، وبهذا الظاهر قال بعض العلماء

Artinya: “Makna lahiriah dari ayat Al-Qur’an yang mulia ini menunjukkan bahwa meminta izin didahulukan sebelum mengucap salam. Pendapat ini dipegang oleh sebagian ulama berdasarkan teks lahiriah tersebut.” (Rawa’iul Bayan, [Damaskus, Maktabah Al-Ghazali: 1400], jilid. II, hal. 133)

Namun, mayoritas ahli fiqih mempunyai pendapat yang lebih populer dan dianggap lebih kuat. Tokoh besar seperti Imam An-Nawawi menegaskan, ucapkan salam dulu, baru minta izin masuk. Alasannya sederhana namun mendalam: “Salam dilakukan sebelum berucap kata.” Salam adalah doa dan sapaan damai, sementara meminta izin adalah prosedur teknisnya.

Imam An-Nawawi menegaskan:

الصحيح المختار تقديم التسليم على الاستئذان لحديث «السلام قبل الكلام» .

Artinya: “Pendapat yang shahih dan terpilih adalah mendahulukan salam sebelum meminta izin berdasarkan hadits: ‘Salam dilakukan sebelum berucap kata’.” (Rawa’iul Bayan, hal. 133)

Seni Melihat Situasi: Tips “Jalan Tengah”

Untuk memudahkan kita di lapangan, Imam Al-Mawardi memberikan panduan cerdas yang sangat logis:

– Jika kita sudah melihat orangnya: Misalnya, tuan rumah sedang menyapu teras atau terlihat di balik jendela, maka ucapkan salam terlebih dahulu sebagai bentuk penghormatan, baru ajukan izin bertamu.

– Jika kita tidak melihat siapapun: Misalnya pintu tertutup rapat, maka ketuklah pintu atau bunyikan bel terlebih dahulu (sebagai isyarat kehadiran), baru kemudian ucapkan salam setelah ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah. (hal. 134)

Penerapan di Era Modern: Bel dan Ketukan Pintu

Zaman dulu, orang memberi kode kehadiran dengan berdehem atau membaca tasbih keras-keras. Sekarang, kita punya bel rumah dan ketukan pintu. Bahkan, di era smartphone ini, mengirim pesan singkat via WhatsApp atau menelepon sebelum datang adalah bentuk “meminta izin” yang sangat disarankan untuk menghormati waktu tuan rumah.

Oleh karena itu, protokol ideal bertamu di zaman modern ini adalah:

Langkah 1: Bunyikan bel atau ketuk pintu dengan sopan.

Langkah 2: Ucapkan salam dengan suara yang jelas namun tidak berteriak.

Langkah 3: Tunggu jawaban. Jika setelah tiga kali tidak ada jawaban, saatnya pulang dengan hati lapang. (hal. 134-135)

Dari paparan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat dua pandangan utama mengenai mana yang harus didahulukan antara mengucap salam atau meminta izin masuk:

Pertama, sebagian ulama berpendapat, berdasarkan urutan kata dalam QS. An-Nur: 27, meminta izin (tasta’nisu) disebut lebih dahulu sebelum memberi salam (tusallimu).

Pada sisi lain, mayoritas ulama mengatakan bahwa salam didahulukan sebelum meminta izin. Pandangan ini dianggap paling shahih oleh Imam An-Nawawi berdasarkan hadis Nabi SAW: “Salam dilakukan sebelum berucap kata.”

Namun, untuk menjembatani perbedaan dalil dari kedua pendapat tersebut, urutan dapat disesuaikan dengan kondisi di lapangan berikut:

Kondisi A (melihat penghuni rumah): Jika tamu sudah melihat penghuni rumah, maka salam didahulukan sebagai bentuk penghormatan, baru kemudian meminta izin masuk.

Kondisi B (tidak melihat penghuni rumah): Jika tamu belum melihat siapa pun, maka meminta izin/isyarat didahulukan (seperti mengetuk atau berdehem) untuk menyadarkan penghuni, baru kemudian mengucap salam.

Idul Fitri adalah momentum untuk memperbaiki hubungan, bukan merusak privasi. Dengan menjaga adab, mulai dari hal kecil seperti urutan salam dan ketuk pintu, kita sedang menunjukkan bahwa kita menghargai tuan rumah lebih dari sekadar hidangan yang mereka sajikan.

Ingat, hakikat bertamu adalah membawa doa (salam) dan pulang dengan tetap menjaga kehormatan pemilik rumah. Dengan begitu, silaturahmi kita bukan hanya menggugurkan kewajiban, tapi benar-benar mendatangkan keberkahan. Wallahu a’lam.

—————-
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.