Jakarta, Arina.id — Akademisi sekaligus pengkaji filsafat dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Fahruddin Faiz, menegaskan bahwa kualitas seorang pemimpin memiliki pengaruh besar dalam menentukan arah, karakter, dan kekuatan sebuah kelompok.
Dalam kajian yang membahas pemikiran tokoh penakluk dunia, Alexander Agung, Fahruddin Faiz mengutip sebuah pernyataan yang populer mengenai kepemimpinan. Menurutnya, kalimat tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kelompok tidak semata-mata ditentukan oleh kualitas anggotanya, melainkan oleh sosok yang berada di posisi pemimpin.
“Ada kalimat yang sangat populer dari Alexander, yaitu, ‘Aku tidak takut sepasukan singa yang dipimpin oleh seekor domba. Namun aku takut sekumpulan domba yang dipimpin oleh seekor singa’,” ujar Fahruddin Faiz dalam tayangan Channel Ngaji Filsafat diakses Senin (22/6/2026).
Ia menjelaskan, sekelompok orang yang memiliki potensi besar sekalipun dapat kehilangan daya dan kekuatannya apabila dipimpin oleh sosok yang lemah dalam visi, keberanian, maupun karakter. Sebaliknya, kelompok yang secara kapasitas biasa-biasa saja dapat berkembang menjadi kuat ketika dipimpin oleh figur yang memiliki jiwa kepemimpinan yang tangguh.
Menurut Fahruddin Faiz, analogi singa dan domba dalam ungkapan tersebut menggambarkan bagaimana seorang pemimpin mampu membentuk pola pikir, perilaku, hingga orientasi hidup orang-orang yang dipimpinnya.
“Sekumpulan singa yang dipimpin domba akan diarahkan untuk hidup dengan gaya dan visi domba. Meskipun hakikatnya singa, kalau mental dan perilakunya seperti domba, kualitas yang muncul juga kualitas domba,” katanya.
Sebaliknya, lanjut dia, sekumpulan domba yang dipimpin seekor singa akan terdorong untuk berpikir, bertindak, dan berperilaku seperti singa. Kepemimpinan yang kuat mampu menumbuhkan keberanian, daya juang, serta keyakinan dalam diri para anggota kelompok.
Karena itu, Fahruddin Faiz menilai bahwa faktor terpenting dalam sebuah organisasi, komunitas, maupun kelompok sosial terletak pada kualitas pemimpinnya.
“Mengerikan atau tidaknya suatu kelompok tergantung siapa pemimpinnya, domba atau singa. Kalau pemimpinnya singa, maka meskipun anggotanya hanya domba-domba, mereka akan menjelma seperti singa dalam cara berpikir, bertindak, dan memiliki visi hidup,” jelasnya.
Setiap Orang adalah Pemimpin
Fahruddin juga mengingatkan bahwa konsep kepemimpinan tidak hanya berlaku pada level negara atau organisasi besar. Dalam pandangan Islam, setiap individu memiliki tanggung jawab kepemimpinan sesuai dengan lingkupnya masing-masing.
Ia mengutip prinsip yang dikenal dalam hadis, kullukum ra’in, bahwa setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.
Menurutnya, seorang kepala keluarga memimpin keluarganya, guru memimpin peserta didiknya, dan setiap individu pada dasarnya memiliki peran kepemimpinan dalam ruang yang berbeda-beda.
“Maka jadilah pemimpin yang singa. Atau jika kita harus memilih seorang pemimpin, pilihlah pemimpin yang singa,” ujarnya.
Fahruddin menilai pesan tersebut menjadi pengingat penting agar setiap orang terus mengembangkan kualitas diri, memperkuat karakter, dan meningkatkan kapasitas kepemimpinannya.
“Paling tidak prinsipnya sekarang sudah terpegang bahwa pemimpin itu posisi yang penting. Karena itu mari membentuk kualitas diri kita dalam memimpin dan membentuk diri seperti singa,” katanya.
Tetap Berbuat Baik Meski Dikritik
Selain membahas pentingnya kepemimpinan, Fahruddin juga menyoroti pandangan Alexander mengenai sikap menghadapi kritik. Ia menilai pemimpin tidak mungkin terlepas dari penilaian negatif, bahkan ketika telah berusaha melakukan yang terbaik.
Dalam kesempatan tersebut, ia mengutip pernyataan Alexander yang berbunyi, “Ada satu kemuliaan tersendiri saat mendengarkan omongan jelek tentang diriku meskipun aku sudah melakukan yang terbaik.”
Menurut Fahruddin, pernyataan itu mengandung pelajaran bahwa kritik dan komentar negatif merupakan hal yang wajar dalam kehidupan, terutama bagi mereka yang memikul tanggung jawab kepemimpinan.
“Kadang-kadang komentar itu selalu macam-macam, termasuk yang jelek-jelek. Meskipun kita sudah berusaha melakukan yang baik dan yang terbaik sejauh yang kita mampu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak dapat mengendalikan seluruh penilaian orang lain. Perbedaan latar belakang, pengalaman, dan sudut pandang membuat setiap orang bisa memberikan penilaian yang berbeda terhadap tindakan yang sama.
Karena itu, yang terpenting bagi seorang pemimpin adalah memastikan bahwa dirinya telah berusaha menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh dan memberikan yang terbaik sesuai kemampuan yang dimiliki.
“Yang kita anggap positif tidak selalu dilihat positif oleh orang lain. Kalau mengikuti kalimat Alexander ini, yang penting sudah melakukan yang terbaik yang mampu dilakukan. Setelah itu, apa pun komentar orang, itu bagian dari respons dan penilaian mereka,” kata Fahruddin.
Menurutnya, sikap tersebut dapat menjadi bekal penting bagi para pemimpin di berbagai tingkatan, mulai dari lingkungan keluarga, masyarakat, hingga organisasi yang lebih besar. Dengan berpegang pada integritas dan usaha terbaik, seorang pemimpin tidak akan mudah goyah oleh kritik maupun penilaian negatif yang muncul dari berbagai pihak.




Comments are closed.