Mon,24 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Fatayat NU Inggris Dorong Perempuan Muda Pimpin Transformasi Global

Fatayat NU Inggris Dorong Perempuan Muda Pimpin Transformasi Global

fatayat-nu-inggris-dorong-perempuan-muda-pimpin-transformasi-global
Fatayat NU Inggris Dorong Perempuan Muda Pimpin Transformasi Global
service

Jakarta, NU Online 

Perempuan muda, termasuk diaspora Indonesia di Inggris, didorong untuk mengambil peran sebagai agen perubahan dalam menghadapi berbagai tantangan global. Mereka dinilai tidak cukup hanya menjadi pengamat, tetapi perlu tampil sebagai pemimpin di berbagai sektor.

Pesan itu mengemuka dalam International Young Women Forum (IYWF) 2026 yang diselenggarakan Pengurus Cabang Istimewa (PCI) Fatayat NU United Kingdom di University of Warwick, Inggris, serta diikuti secara daring melalui Zoom, Sabtu (20/6/2026).

Forum yang mengusung tema Leading the Future: Women at the Forefront of Global Transformation itu berlangsung dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Forum tersebut terbagi dalam dua sesi diskusi. Panel pertama bertajuk Leading with Purpose: Women Advancing Equity and Inclusion Across Sectors menghadirkan Senior Policy Lead NHS England Sara Javid, EDI Director Shehla Imtiaz-Umer, dan Managing Director Association of British Muslims Paul Salahuddin Armstrong.

Dalam paparannya, Sara Javid mengatakan ketimpangan kesehatan tidak hanya berkaitan dengan kualitas layanan kesehatan. Menurut dia, persoalan tersebut juga dipengaruhi kepercayaan masyarakat, akses informasi, kondisi ekonomi, latar belakang etnis, pengalaman keagamaan, hingga relasi antara institusi dan komunitas.

Berbekal pengalaman 18 tahun di bidang kesehatan publik dan NHS, Sara menyoroti masih rendahnya partisipasi masyarakat Muslim dalam program vaksinasi serta skrining kanker payudara dan serviks. Ia menilai perbaikan layanan kesehatan perlu didukung data yang kuat, bahasa yang mudah dipahami, serta pendekatan yang sensitif terhadap kondisi komunitas.

Sementara itu, Shehla Imtiaz-Umer menekankan bahwa kepemimpinan dalam mendorong kesetaraan tidak selalu bergantung pada jabatan formal. “Kamu tidak perlu menjadi direktur kesetaraan untuk mendorong kesetaraan,” kata Shehla.

Paul Armstrong menambahkan bahwa masyarakat global yang semakin beragam membutuhkan dialog lintas iman dan budaya. Menurut dia, perempuan muda Muslim memiliki posisi strategis untuk menunjukkan bahwa identitas keagamaan dapat berjalan beriringan dengan profesionalisme dan kontribusi di ruang publik.

Panel kedua bertajuk Women at the Crossroads: Identity, Faith, and Global Influence menghadirkan Wakil Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Sahadatun Donatirin, Chief Imam and Head of Religious Affairs London Central Mosque Syeikh Khalifa Ezzat, serta Assistant Professor University of Leicester Siti Nurhafiza Shari.

Diskusi tersebut menyoroti identitas, iman, dan pengalaman perempuan sebagai sumber kekuatan moral sekaligus modal sosial dalam membangun kepemimpinan. Para pembicara mendorong perempuan muda untuk tetap menjaga identitasnya sembari memperluas jejaring dan berkiprah di tingkat internasional.

Syekh Khalifa Ezzat mengatakan nilai-nilai spiritual dapat menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang damai. Menurut dia, perempuan Muslim muda berpeluang besar berkontribusi apabila mampu memadukan ilmu pengetahuan, akhlak, dan penghormatan terhadap keberagaman.

Adapun Sahadatun Donatirin menegaskan perempuan Indonesia yang tinggal di luar negeri tidak perlu meninggalkan identitas kebangsaannya untuk dapat berkiprah secara global.

“Tantangannya bukan memilih antara menjadi Indonesia atau menjadi global, tetapi bagaimana menjadikan nilai gotong royong, toleransi, dan keberanian berkontribusi sebagai kekuatan dalam membangun karier, diplomasi, dan peran publik di masyarakat internasional,” ujarnya.

Ketua PCI Fatayat NU United Kingdom, Kartini Laras Makmur, mengatakan perempuan muda saat ini hidup di tengah beragam identitas yang saling beririsan. Menurut dia, kondisi tersebut bukan hambatan, melainkan peluang untuk melahirkan kepemimpinan global yang lebih inklusif dan berakar pada nilai-nilai etis.

Forum tersebut diikuti peserta dari PCI Fatayat NU di Jepang, Arab Saudi, Brunei Darussalam, Tunisia, dan Maroko, serta diaspora Indonesia dan komunitas Muslim di Inggris. Secara daring, acara juga dihadiri Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Titi Eko Rahayu, yang membacakan pidato kunci Menteri PPPA Arifah Choiri Fauzi.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.