Jakarta, Arina.id—Miris, jelang Ramadan fenomena tanah bergerak masih menimpa sejumlah wilayah Indonesia. Mulai dari Kabupaten Tegal, Semarang, Bandung Barat, Bogor, hingga Bukittinggi, beberapa daerah dilaporkan mengalami pergeseran tanah yang berdampak pada kerusakan bangunan dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Berdasarkan hasil investigasi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah, peristiwa ini dipicu oleh fenomena creeping atau rayapan tanah. Bencana ini menyebabkan ratusan rumah mengalami kerusakan.
Creeping merupakan salah satu jenis pergerakan tanah yang umumnya terjadi di wilayah luas dan memiliki kemiringan. Pergerakannya memang lambat, tetapi berlangsung terus-menerus sehingga berdampak pada bangunan di atasnya.
Berbeda dengan likuifaksi yang terjadi akibat perubahan struktur tanah dan kadar air yang menyebabkan tanah kehilangan kekuatan, tanpa harus berada di lereng. Namun creeping, membutuhkan kemiringan lahan dan berlangsung secara bertahap.
Guru Besar Teknik Geologi dan Lingkungan Universitas Gadjah Mada, Dwikorita Karnawati mengatakan peningkatan intensitas hujan dan beban bangunan sebagai pemicu percepatan pergerakan tanah. Perubahan iklim dinilai membawa curah hujan yang melampaui kapasitas stabilitas tanah di kawasan tersebut.
Kunci utama mitigasi adalah pengelolaan air secara ketat, terutama melalui sistem drainase yang baik. Tujuan rekayasa drainase adalah agar air hujan tidak meresap dan menjenuhkan lapisan lempung di dalam tanah.
Relokasi dinilai menjadi opsi untuk mencegah kerugian materiil lebih besar dan mengindari potensi korban jiwa di masa depan. Sebab, pergerakan tanah ini bersifat siklus dan mengikuti musim hujan.
“Penentuan relokasi pun harus melalui penelitian tanah yang mendetail agar tidak terjadi risiko serupa di kemudian hari,” tuturnya.
1. Tanah Bergerak di Tegal
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Tengah (Jateng) mencatat, jumlah rumah terdampak bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Jatinegara, Kabupaten Tegal, bertambah 863 unit.
Saat ini Pemkab Tegal, bersama instansi terkait, tengah melakukan asesmen lokasi pembangunan hunian sementara untuk merelokasi 2.461 pengungsi.
Tak hanya di Padasari, tanah bergerak juga merembet ke Kajen, Lebaksiu. Berdasarkan data terbaru, sebanyak 54 rumah warga terdampak, dengan rincian 21 unit mengalami rusak sedang hingga berat dan 33 unit rusak ringan. Wilayah yang terdampak meliputi RT 01 hingga RT 04 di RW 09.
Selain rumah warga, Musala Baitul Mutaqin mengalami rusak berat, sementara Madrasah Nurul Hidayah rusak sedang. Retakan juga terlihat pada jalan desa di depan musala akibat pergerakan tanah yang masih berlangsung.
Jumlah pengungsi tercatat 27 Kepala Keluarga atau 83 jiwa, terdiri dari 42 laki-laki dan 41 perempuan, termasuk balita, anak-anak, remaja, dewasa, serta lansia.
2. Tanah Bergerak di Semarang
Fenomena tanah bergerak terjadi di wilayah Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah. Peristiwa ini menyebabkan satu rumah warga roboh dan mengancam sedikitnya sembilan rumah lainnya.
Selain merusak bangunan, pergerakan tanah juga mengakibatkan jalan utama kampung mengalami retak-retak bahkan sebagian amblas, sehingga membahayakan aktivitas warga.
3. Tanah Bergerak di Bogor
Pergerakan tanah terjadi di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Bogor, Jawa Barat, akibat hujan yang berlangsung lama. Sebanyak 11 rumah warga mengalami kerusakan.
4. Tanah Bergerak di Bukittinggi
Kepanikan juga terjadi di kawasan Bukit Cangang Kayu Ramang Kota Bukittinggi, Sumatera Barat sejak 23 November lalu. Daerah yang berada di bibir Ngarai Sianok tersebut mengalami pergeseran dan pergerakan tanah yang mengancam keselamatan warga.
Kepala BPBD Kota Bukittinggi, Zulhendri mengatakan, pihaknya telah merelokasi 68 orang dari kawasan tersebut.





Comments are closed.