Jakarta, Arina.id—Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 103 orang meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT). Selain korban meninggal, sebanyak 1.666 orang mengalami luka atau sakit dan 185.131 orang terpaksa mengungsi.
Data penanganan darurat gempa M7,7 NTT yang dirilis BNPB menunjukkan dampak bencana tersebar di tujuh kabupaten/kota. Data tersebut diperbarui hingga Selasa (25/8/2026) pukul 16.00 WIB .
Dari total pengungsi, jumlah terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 50.556 jiwa. Selanjutnya Kabupaten Nagekeo sebanyak 50.358 jiwa, Manggarai Timur 31.372 jiwa, dan Manggarai Barat 27.167 jiwa.
Pengungsi lainnya tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak 18.833 jiwa, Ende 4.294 jiwa, serta Ngada 2.551 jiwa.
Selain menimbulkan korban jiwa dan pengungsian dalam jumlah besar, gempa juga menyebabkan kerusakan pada berbagai bangunan dan fasilitas publik.
BNPB mencatat sebanyak 77.912 rumah mengalami kerusakan akibat gempa. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas kesehatan, dengan 118 fasilitas terdampak.
Sementara itu, sebanyak 496 kantor dan 402 rumah ibadah tercatat mengalami kerusakan akibat gempa tersebut.
Data BNPB menunjukkan Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan dampak signifikan. Selain mencatat jumlah pengungsi tertinggi, wilayah tersebut juga mengalami kerusakan pada jaringan jalan dan irigasi.
Berdasarkan data BNPB, kerusakan jaringan jalan dan irigasi tercatat di sejumlah kabupaten, antara lain Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
BNPB terus melakukan penanganan darurat bersama pemerintah daerah dan unsur terkait untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, termasuk penanganan korban, pengungsian, serta pemulihan fasilitas yang mengalami kerusakan.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau tetap mengikuti informasi dan arahan dari pemerintah serta petugas di lapangan selama masa penanganan darurat.




Comments are closed.