Sat,25 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Indonesiana
  3. Hadapi Potensi Lonjakan Harga Akibat Perang Iran vs AS-Israel, Smart Consumption Bisa Jadi Solusi

Hadapi Potensi Lonjakan Harga Akibat Perang Iran vs AS-Israel, Smart Consumption Bisa Jadi Solusi

hadapi-potensi-lonjakan-harga-akibat-perang-iran-vs-as-israel,-smart-consumption-bisa-jadi-solusi
Hadapi Potensi Lonjakan Harga Akibat Perang Iran vs AS-Israel, Smart Consumption Bisa Jadi Solusi
service

Hadapi Potensi Lonjakan Harga Akibat Perang Iran vs AS-Israel, Smart Consumption Bisa Jadi Solusi


Kondisi geopolitik dunia yang tidak stabil memunculkan kekhawatiran bagi sebagian besar masyarakat global, tak terkecuali Indonesia. Ketegangan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang tak kunjung membaik membuat masyarakat cemas karena dampak konflik yang berpotensi menekan ekonomi Indonesia.

Dalam sebuah survei yang dilakukan GoodStats, mayoritas responden mengaku khawatir dengan kemungkinan konflik yang terus berlanjut akan membuat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM), terguncangnya ekonomi nasional, sampai naiknya harga kebutuhan pokok. Akibatnya, masyarakat yang khawatir cenderung melakukan panic buying untuk menghindari kelangkaan atau kenaikan harga komoditas.

Smart Consumption Sebagai Solusi Hadapi Potensi Lonjakan Harga

Merespons kekhawatiran tersebut, Pakar Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Prof. Dr. Drs. Didit Welly Udjianto, M.S., menyarankan agar masyarakat menerapkan pola konsumsi bijak alias smart consumption alih-alih melakukan panic buying pada komoditas bahan pokok dan BBM.

Menurutnya, panic buying hanya akan memperparah keadaan karena memicu kelangkaan barang dan lonjakan harga. Dalam keterangannya di situs resmi upnyk.ac.id, ia menawarkan solusi jangka pendek bagi masyarakat, yakni dengan melakukan penghematan konsumsi BBM.

Panic buying justru akan menimbulkan kelangkaan barang-barang dan meningkatkan harga jadi lebih tajam,” kata Didit.

Hal senada disampaikan oleh Dosen Ekonomi Pembangunan UPN “Veteran” Yogyakarta. Dr. Sultan, S.E., M.Si. Dalam penjelasannya, perilaku panic buying justru akan mendorong inflasi psikologis.

Panic buying adalah perilaku kelompok dimana konsumen membeli suatu produk dalam jumlah banyak, biasanya untuk mengantisipasi bencana. Hal ini menyebabkan ketersediaan barang menipis dan harga yang meningkat,” papar Sultan.

Kekhawatiran masyarakat ini bukan tanpa sebab. Konflik Iran vs AS-Israel memicu ketidakpastian ekonomi global, salah satunya membuat harga minyak dunia naik. Hal ini terjadi imbas ditutupnya Selat Hormuz yang menjadi jalur transit lebih dari 20 persen minyak dunia.

Lebih lanjut, Sultan menerangkan jika 25 persen impor minyak mentah dan 30 persen LPG Indonesia berasal dari Timur Tengah. Tak ayal, konflik tersebut langsung mempengaruhi biaya energi Indonesia.

Bijak Konsumsi Jadi Solusi

Melihat kondisi dunia yang tak baik-baik saja, Didit meminta masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan. Konflik ini berisiko mengganggu rantai pasok pangan dan memicu lonjakan harga komoditas.

“Untuk menghadapi situasi ini, masyarakat bisa berhemat, dengan cara mengalokasikan dana untuk kebutuhan pokok dan memangkas pengeluaran non-esensial. Diversifikasi ke aset yang lebih stabil, seperti emas atau obligasi juga menjadi langkah antisipasi yang bijak,” ujarnya.

Di lain sisi, Sultan turut mengajak masyarakat untuk memprioritaskan konsumsi pada kebutuhan pokok. Masyarakat juga dianjurkan untuk mengonsumsi produk lokal demi memperkuat ekonomi domestik di tengan ketidakpastian dunia.

“Hindari konsumsi berlebihan atau pembelian impulsif yaitu perilaku atau tindakan yang dilakukan secara tiba-tiba, spontan, dan tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang,” papar Sultan.

Smart consumption bukan berarti mengerem konsumsi secara total. Akan tetapi, pola konsumsi lebih diutamakan di skala prioritas.

Masyarakat tidak dianjurkan menahan konsumsi secara ekstem, utamanya di momen Idulfitri 2026. Alih-alih berhemat ekstrem, alangkah baiknya jika melakukan konsumsi rasional dan produktif.

Saat ini, konsumsi rumah tangga menyumbang sekitar lebih dari 50 persen PDB Indonesia. Sekitar 90 persen aktivitas ekonomi Indonesia didukung dari permintaan domestik.

“Artinya, jika masyarakat menahan konsumsi secara drastis saat lebaran, justru dapat memperlambat ekonomi domestik,” pungkas Sultan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.