Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Hady Alan

Hady Alan

hady-alan
Hady Alan
service

Oleh: Dahlan Iskan

Iri. Umur segitu masih sangat sehat. Hady Alan Wajahnya masih halus –tanpa keriput. Ia anak nomor enam dari tujuh bersaudara. Berarti kakak-kakaknya jauh di atas 75 tahun.

Pun orang tua. Juga bisa saling iri. Ia juga iri pada kondisi badan saya. Kami seumur, hanya beda shio. Juga beda nasib –nasibnya jauh lebih baik. Ups, bukan nasib. Tapi kecerdasan. Kecerdasannya lebih baik. Terutama dalam memilih jenis bisnis.

Saya memilih bisnis yang ternyata mati lebih cepat dari perkiraan: koran. Ia pilih bisnis di bidang distribusi dan logistik. Nama orang itu: Hady Karyono. Nama perusahaannya: PT Borwita.

Pun produsen sebesar P&G dan Philips percaya pada Borwita –untuk mendistribusikan produk mereka. Sudah sejak puluhan tahun lalu.

Seperti juga pendirinya Borwita berumur panjang. Pekan lalu Borwita genap 50 tahun. Hady, pendiri dan pemilik Borwita, genap 75 tahun –tiga hari sebelumnya. Perkawinan mereka berusia 54 tahun.

Bisnis koran mati. Bisnis distribusi justru berkembang. Pun tahun lalu: ketika banyak orang mengeluh ekonomi sedang sulit. Borwita tumbuh pesat.

Salah satu manajer Borwita pun bertanya kepada saya: bagaimana masa depan bisnis distribusi. Apakah bisa mati.

“Yang jelas tidak akan seperti koran,” jawab saya. Ada kecualinya: sampai di suatu saat barang sudah bisa dikirim pakai email.

Sekitar 250 manajer Borwita kumpul di hari ulang tahun itu. Dari seluruh Indonesia. Hady, istri, dan dua putrinya ikut hadir. Satu-satunya anak laki-lakinya, Alan Karyono, lagi ke Jakarta. Tapi istri Alan hadir.

Mereka pun saya ajak berkhayal. Sayangnya tidak ada manajer yang berlatar belakang pendidikan fisika. Padahal saya ingin tahu jawaban dari pertanyaan ini: “apakah benda terkecil di dunia?”

Ada yang mencoba menjawab: “atom”. Pasti itu jawaban dari pelajaran sekolah zaman dulu. Belakangan sudah ditemukan benda lebih kecil dari atom. Lalu ditemukan lagi yang lebih kecil lagi.

Akhirnya disepakati bahwa benda terkecil itu masih bisa dibelah lagi menjadi lebih kecil: disebut gelombang.

Begitulah penjelasan seorang ahli fisika kepada saya. Saya percaya pada keilmuannya. Bagi yang tidak percaya bisa membantahnya.

Kalau saja informasi itu benar, maka suatu saat kelak benda-benda yang perlu didistribusikan Borwita bisa diurai menjadi gelombang. Lalu ditransmisikan lewat email. Sampai di tujuan sana gelombang-gelombang itu disatukan lagi. Jadi benda aslinya lagi.

Mungkin itu belum akan terjadi ketika semua orang masih waras. Namanya saja berkhayal. Kalau pun teknologi akan sampai di sana Borwita mungkin tetap bisa memanfaatkannya. Sekarang pun Borwita sudah memanfaatkan teknologi terbaru: artificial intelligence. Borwita punya layanan AI, sangat mirip ChatGPT.

Namanya Bowie.

Bowie adalah nickname yang keren untuk Borwita.

Produsen yang mempercayakan distribusi barangnya ke Borwita bisa masuk ke aplikasi Bowie. Bisa bertanya apa saja mengenai status barang mereka. Sampai ke perkembangan penjualannya. Termasuk agen mana saja yang berkembang dan yang tidak berkembang.

Di resepsi ulang tahun ke 50 Borwita –dua hari sebelum diskusi dengan saya itu– Bowie diluncurkan. Resepsi ulang tahun itu sendiri megah-meriah. Gemerlap.

Hady Alan

Perusahaan-perusahaan yang mendistribusikan barang lewat Borwita diundang. Mereka boleh naik panggung mencoba aplikasi Bowie.

Seorang produsen, wanita, naik pentas. Layar digital memenuhi semua dinding ballroom. Ke mana pun hadirin menghadap bisa menyaksikannya.

Si produsen menanyakan penjualan produknyi di wilayah Sulawesi. Dalam hitungan detik, di layar lebar, muncul angka-angka hasil penjualan di kota-kota di seluruh Sulawesi.

Si produsen lantas bertanya lebih dalam lagi: agen mana saja yang penjualannya naik. Tidak sampai lima detik di layar muncul nama agen, nama kota dan angka pencapaiannya.

Tak terbayangkan perusahaan distribusi pun sudah melakukan modernisasi sejauh itu.

“Semua itu hasil kerja anak laki-laki saya,” ujar Hady. Dari tiga anak, Hady punya satu yang laki-laki: Alan Karyono. Ia lulusan Amerika Serikat. Jabatan Alan: managing director di Borwita.

Hady Alan

Jabatan Dirut memang masih di pegang sang pendiri. “Tapi semua hal sudah Alan yang menangani,” ujar Hady.

Hady sendiri mulai belajar kerja sejak putus sekolah: SMA Xinzhong ditutup ketika Hady baru setahun sekolah di situ.

Tahun itu seluruh sekolah Tionghoa di Indonesia harus tutup. Hady pun pilih langsung bekerja. Yakni di toko obat milik pamannya.

Tugas pertama Hadi di gudang. Pekerjaannya bungkus-bungkus obat yang akan dikirim ke pemesan. Kalau kebetulan karyawan di bagian pengiriman tidak masuk Hady yang kirim barang. Pakai sepeda.

Papanya sendiri punya toko obat: di Pasar Atom lama. Ia ingin toko papanya maju. Ia usulkan banyak perubahan. Papanya tidak setuju. “Akhirnya saya bikin toko sendiri,” kata Hady.

Hadi pun kerja keras. Usahanya maju. Sampai bisa mendirikan PBF –Pedagang Besar Farmasi. Sampai punya pabrik tetes mata yang Anda sudah pakai: Aito. Sampai menjadikan Borwita seperti sekarang ini.

Alan masih akan mengembangkan Borwita ke bisnis makanan siap saji. Yakni makanan khas Indonesia. Ups…bukan baru “akan”. Alan sudah memulainya. Dimulai dari rendang. Lalu kare. Lalu lain-lainnya.

Yang menarik, makanan itu tidak perlu dipanasi dulu. Bisa langsung dimakan.

Di usianya sekarang ternyata Hady punya kegemaran yang sama dengan saya: olahraga pagi. Satu jam. Bedanya, saya di halaman terbuka di Rumah Gadang, ia di gym hotel berbintang.

Bedanya lagi: ia sudah melakukan itu sejak muda. Sejak hotel itu masih bernama Hyatt. Sedang saya baru hijrah 12 tahun terakhir. (Dahlan Iskan)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.