Pesaing Menteri Kesehatan Budi Gunadi dalam bursa calon Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization juga daatang dari Hanan Balkhy. Dia bekerja di WHO dan berwarga negara Arab Saudi.
Meski awalnya dipandang sebagai kandidat regional, Hanan makin banyak dibicarakan sebagai solusi strategis bagi Amerika Serikat sebagai salah satu masalah paling mendesak bagi WHO.
Balkhy dapat diposisikan sebagai “langkah diplomasi yang brilian” bagi pemerintahan Trump. Ia lahir di Amerika Serikat tempat ia menghabiskan sebagian masa kecilnya dan kemudian kembali ke sana untuk menjalani residensi pediatri serta program pascadoktoral.
Saat ini Balkhy memimpin Wilayah Mediterania Timur WHO (EMRO), blok yang belum pernah memegang jabatan Direktur Jenderal. Sebagai Direktur Regional terpilih dan bukan penunjukan langsung dari Tedros, beberapa analis berpendapat bahwa keterkaitannya dengan “lingkungan Tedros” saat ini terlalu dibesar-besarkan.
Situasi ini memberinya jarak yang cukup untuk menampilkan dirinya. Menurut sumber, profil uniknya memungkinkan dia untuk tampil sebagai perwakilan dari Global South dan kekuatan yang sedang berkembang, Arab Saudi.
Balkhy sekaligus dipasarkan ke Gedung Putih sebagai “kandidat pemersatu” yang mampu menggantikan Direktur Jenderal WHO saat ini. Terlepas dari peran administratifnya dan latar belakangnya sebagai dokter, kelemahan utamanya adalah masa jabatan.
Setelah menjabat sebagai Direktur Regional selama lebih dari dua tahun, para kritikus berpendapat ia kurang memiliki rekam jejak yang berpengalaman sebagai administrator jangka panjang yang mengelola lembaga besar seperti WHO.
Pencalonannya pasti akan mengundang penolakan dari negara-negara anggota yang mengkritik catatan hak asasi manusia domestik Arab Saudi. Ia juga dapat sorotan karena posisi kebijakan Arab Saudi mengenai isu-isu kontroversial seperti hak kesehatan seksual dan reproduksi.
Menjelang berakhirnya mandat Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus pada Agustus 2027, manuver politik yang penuh intrik untuk menentukan Direktur Jenderal WHO berikutnya makin intensif. Intrik ini masuk di gedung-gedung pemerintahan Jenewa dan ibu kota-ibu kota di seluruh dunia.
Meskipun pengumuman resmi nominasi diperkirakan dilakukan pada hari-hari ini, belum ada kandidat yang menyatakan diri. “Desas-desus” di dunia kesehatan global, menurut healthpolicy-watch, sudah mulai beredar. Muncul nama-nama setidaknya 12 kandidat, di antaranya Budi Gunadi Sadikin.
Siapa pun yang masuk dalam daftar final harus menghadapi konvergensi krisis eksistensial yang dihadapi WHO.
Dari sisi eksternal, guncangan geopolitik akibat mundurnya Amerika Serikat di bawah pemerintahan Trump, menyebabkan organisasi ini mengalami kekurangan dana mencapai $1 miliar pada November 2025.
Jumlah ini kemudian berkurang menjadi sekitar $640 juta. Atau 15% dari anggaran dua tahunan 2026-2027, menurut laporan Direktur Jenderal pada pertemuan Dewan Eksekutif bulan Februari. Dan AS masih berutang lebih dari $260 juta dalam bentuk iuran.






Comments are closed.