Jakarta, Arina.id—Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mencatat bahwa 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, salah satunya adalah skizofrenia.
Kemampuan deteksi dini pada gejala psikosis akibat skizofrenia penting dikuasai karena mengingat deteksi dini kondisi psikosis sering terlambat karena gejalanya kerap disalahartikan sebagai dinamika emosi remaja biasa.
Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Titi Eko Rahayu menegaskan kemampuan mendeteksi kesehatan mental anak harus dikuasai para orangtua, keluarga terdekat, dan juga guru.
Gangguan mental pada anak sering kali muncul melalui perubahan perilaku sehari-hari, seperti penurunan motivasi belajar, perubahan emosi, menarik diri dari lingkungan sosial, sulit berkonsentrasi, hingga tekanan psikologis akibat kekerasan, perundungan, tekanan akademik, maupun persoalan pengasuhan.
“Kondisi ini harus diketahui orangtua, keluarga terdekat, guru, dan masyarakat pada umumnya,” ujar Titi pada Webinar Deteksi Dini Gangguan Psikososial daring, Rabu (27/5).
Titi menambahkan deteksi dini dapat dilakukan dengan mengenali perubahan perilaku yang drastis secara cepat, membangun komunikasi yang aman, suportif, serta tidak menghakimi.
Selain itu, lingkungan terdekat harus memperhatikan kondisi emosional anak sehari-hari, serta memastikan adanya pendampingan awal dan rujukan yang tepat ke fasilitas kesehatan jika diperlukan.
“Kita tidak boleh menunggu sampai anak berada dalam situasi krisis. Yang jauh lebih penting adalah membangun sistem yang mampu mengenali tanda-tanda awal, menciptakan ruang aman bagi anak untuk bercerita, dan memastikan adanya respons yang cepat, tepat, serta berpihak pada kepentingan terbaik anak,” ujar Titi.
Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Skizofrenia Sedunia, Titi menyampaikan peringatan ini mengingatkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai skizofrenia. Skizofrenia adalah salah satu gangguan kesehatan jiwa yang bisa juga dialami oleh anak.
“Sudah saatnya melihat kesehatan jiwa anak secara lebih utuh, tidak hanya ketika anak telah berada dalam kondisi yang membutuhkan penanganan, tetapi sejak tahap promotif dan preventif melalui penguatan lingkungan pengasuhan, pendidikan, serta dukungan sosial yang sehat,” imbuhnya.
Kemen PPPA telah menyusun Pedoman Penanganan Gangguan Psikososial pada Peserta Didik serta memfasilitasi pelatihan intensif bagi Guru Bimbingan Konseling (BK) dan tenaga pendidik guna meningkatkan kompetensi mereka dalam melakukan deteksi dini dan memberikan pendampingan psikologis awal.
Sementara itu, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen, Nunuk Suryani sepakat bahwa deteksi dini atas kesehatan mental anak harus dikuasai oleh sekolah.
“Satuan pendidikan perlu menjadi ruang aman dan suportif bagi anak. Guru, wali kelas, maupun tenaga kependidikan perlu memiliki sensitivitas dalam mengenali perubahan perilaku dan kondisi emosional anak agar penanganan dapat dilakukan sejak dini,” ungkap Suryani.
Ketua Tim Kerja Deteksi Dini dan Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa Kemenkes, Yunita Arihandayani menambahkan bahwa deteksi dini menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan psikososial berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.
“Deteksi dini merupakan kunci utama untuk mengintervensi masalah kesehatan jiwa sejak awal agar tidak berlanjut pada kondisi yang lebih mendalam,” ujarnya.
Diperlukan penguatan skrining kesehatan jiwa di sekolah harus berjalan beriringan dengan peningkatan kepekaan lingkungan terdekat anak dalam mengenali tanda awal tekanan psikologis.
Psikiater RS Hasan Sadikin, Shelly Iskandar mengingatkan pentingnya kepekaan lingkungan terdekat ketika anak tiba-tiba menjadi pendiam, mudah marah, kehilangan minat belajar, atau menarik diri dari lingkungan sosial membutuhkan perhatian dan dukungan agar tidak mengalami tekanan psikologis berkepanjangan.
“Anak perlu memiliki ruang aman untuk bercerita tanpa takut dihakimi agar proses pendampingan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujar Shelly.




Comments are closed.