Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا لِلْمُؤْمِنِينَ، وَمَوْسِمًا لِلْبِرِّ وَالتَّرَاحُمِ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الدِّينِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ سَارَ عَلَى نَهْجِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: فَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا صَوَافَّ فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْقَانِعَ وَالْمُعْتَرَّ كَذَلِكَ سَخَّرْنَاهَا لَكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Ma’asyiral Muslimin jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah
Menjadi kewajiban bagi khatib untuk berwasiat tentang ketakwaan di setiap penyampaian khutbahnya. Oleh karena itu pada kesempatan kali ini khatib mengajak kepada seluruh jamaah wabil khusus kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa menguatkan ketakwaan kepada Allah dalam wujud menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Takwa merupakan sifat mulia yang sering disampaikan oleh Allah dalam firman-firman-Nya dalam Al-Qur’an. Di antara ayat yang menyebutkan ketakwaan adalah surat Al-Hasyr ayat 18:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ١٨
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Dalam ayat ini, perintah bertakwa dikaitkan dengan perintah untuk senantiasa melakukan introspeksi dan evaluasi terhadap semua yang sudah dilakukan pada masa lampau. Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang yang bertakwa harus senantiasa menjadi pribadi yang lebih baik terus ke depan dengan melihat apa yang telah diperbuat pada hari kemarin. Introspeksi ini juga perlu kita lakukan setelah kita melewati Hari Raya Idul Adha yang baru saja kita rayakan.
Ma’asyiral Muslimin jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah
Hari Raya Idul Adha adalah hari mulia bagi kita, umat Islam. Pada hari itu kita mendengar gema takbir berkumandang di masjid, mushala, rumah-rumah, bahkan di jalan-jalan. Umat Islam berkumpul melaksanakan shalat Id, kemudian menyaksikan penyembelihan hewan kurban yang selanjutnya dibagikan kepada masyarakat. Suasana kebersamaan, kepedulian, dan pengorbanan begitu terasa.
Namun pertanyaannya muncul setelah Hari Raya berlalu, apa hikmah dan pesan yang bisa kita ambil dari Hari Raya Idul Adha sebagai bekal positif di masa yang akan datang?
Ma’asyiral Muslimin jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah
Idul Adha jangan hanya dipahami sebagai kegiatan ritual tahunan. Jangan sampai ibadah-ibadah di dalamnya seperti haji dan kurban hanya menjadi agenda seremonial yang hadir setahun sekali dan tidak meninggalkan bekas dalam jiwa dan perilaku kita sama sekali. Sesungguhnya Idul Adha bisa menjadi momentum muhasabah, momentum refleksi diri, untuk melihat kembali kualitas ketakwaan, keikhlasan, dan kepedulian sosial kita kepada sesama manusia.
Maka setelah Idul Adha berlalu, kita perlu bertanya kepada diri kita masing-masing. Apa yang sudah kita persiapkan untuk esok hari setelah lebaran usai? Apakah ibadah haji dan kurban yang kita lakukan benar-benar mampu mendekatkan diri kita kepada Allah? Apakah setelah Idul Adha berlalu, kepedulian sosial kita meningkat? Ataukah semua hanya berhenti sebagai tradisi tahunan tanpa perubahan sikap dan perilaku? Apakah kita sudah mampu menyeimbangkan antara urusan dunia dan akhirat setelah momentum Hari Raya ini?
Ma’asyiral Muslimin jamaah sholat Jumat yang dimuliakan Allah
Untuk menyelaraskan antara urusan dunia dan akhirat, kita perlu mengingat nasihat yang sangat terkenal dari Ibnu Umar RA:
اعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأنَّك تَعِيشُ أبَدًا، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا
Artinya: “Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok pagi.”
Nasihat ini mengajarkan keseimbangan hidup kepada kita. Islam tidak mengajarkan kita meninggalkan dunia. Islam tidak melarang manusia bekerja, mencari rezeki, membangun usaha, menuntut ilmu, dan mengembangkan kehidupan. Bahkan Islam memerintahkan umatnya menjadi kuat secara ekonomi, kuat secara ilmu, dan kuat secara sosial.
Tetapi di sisi lain, Islam juga mengingatkan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan bekal akhirat. Jangan sampai usia habis untuk mencari materi, tetapi kosong dari amal saleh dan kepedulian sosial.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Ibadah kurban sesungguhnya mengajarkan keseimbangan itu. Dalam kurban ada unsur duniawi berupa harta dan materi yang dikeluarkan. Seseorang membeli hewan terbaik, mengeluarkan biaya, tenaga, dan waktu. Tetapi semua itu dilakukan bukan semata-mata untuk kepentingan dunia, melainkan untuk mencari ridha Allah SWT dan menyiapkan bekal akhirat.
Karena itu, hakikat kurban bukan hanya menyembelih kambing atau sapi. Hakikat kurban adalah menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri manusia. Menyembelih egoisme, keserakahan, kesombongan, cinta dunia berlebihan, dan sifat individualistis yang semakin kuat di era modern sekarang ini.
Saat ini, kita hidup di zaman ketika manusia begitu mudah memamerkan kemewahan hidup melalui media sosial. Gaya hidup hedonis dipertontonkan setiap hari. Orang berlomba menunjukkan makanan mahal, kendaraan mewah, rumah megah, dan liburan ke mana-mana. Komunikasi memang semakin terbuka luas, tetapi ironisnya kepedulian sosial justru sering melemah. Banyak yang aktif di media sosial, tetapi tidak mengenal kesulitan tetangganya sendiri.
Padahal Idul Adha mengajarkan tentang kepedulian sosial. Ketika daging kurban dibagikan, sesungguhnya Islam sedang membangun solidaritas kemanusiaan. Orang kaya dan orang miskin bisa merasakan kebahagiaan yang sama. Ada semangat berbagi, ada rasa persaudaraan, ada nilai kesalehan sosial yang sangat kuat.
Maka jangan sampai semangat berbagi itu hanya hadir pada hari raya saja. Setelah Idul Adha berlalu, semangat membantu sesama harus tetap hidup. Membantu fakir miskin, peduli kepada tetangga, membantu anak yatim, memperhatikan masyarakat kecil, semuanya adalah bagian dari implementasi hikmah kurban dalam kehidupan sehari-hari.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Berlalunya Hari Raya Idul Adha harus menjadi momentum perubahan diri. Jangan sampai takbir berhenti, lalu semangat pengorbanan juga ikut berhenti. Jangan sampai setelah Idul Adha kita kembali menjadi pribadi yang individualis, egois, dan tidak peduli kepada sesama.
Mari jadikan Idul Adha sebagai sarana memperkuat ketakwaan, memperkuat kepedulian sosial dengan menghilangkan kesusahan dan membantu orang lain. Rasulullah bersabda dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
وَاللّٰهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
Artinya: “Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya.” (HR Muslim).
Kita harus sadar bahwa pada akhirnya, yang akan dibawa pulang bukan harta, jabatan, ataupun popularitas. Yang akan menyelamatkan manusia di hadapan Allah hanyalah iman, ketakwaan, dan amal saleh yang dilakukan dengan penuh keikhlasan.
Semoga setelah berlalunya Hari Raya Idul Adha, kita semua menjadi pribadi yang lebih bertakwa, lebih peduli kepada sesama, lebih ikhlas dalam beramal, dan lebih siap menghadapi kehidupan akhirat.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ يَوْمَ الْأَضْحَى عِيدًا لِلْمُؤْمِنِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةً نَرْجُو بِهَا النَّجَاةَ يَوْمَ الدِّينِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمَبْعُوثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ .أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
H Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung




Comments are closed.