
Samudera Hindia masih menyimpan banyak misteri. Salah satunya berada di kawasan laut dalam sekitar Kepulauan Christmas dan Cocos, wilayah dekat dengan Indonesia. Ekspedisi ilmiah terbaru di kawasan ini menemukan 1.059 spesies laut, termasuk 149 spesies yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Temuan tersebut berasal dari penelitian berjudul Faunal community ecology of central-eastern Indian Ocean Seamounts. Sebanyak 33 peneliti internasional terlibat dalam ekspedisi yang dilakukan pada 2020 untuk memetakan dasar laut dan mempelajari kehidupan di sekitar 22 gunung bawah laut.
Gunung-gunung bawah laut tersebut merupakan struktur vulkanik purba yang berusia sekitar 40 hingga 120 juta tahun. Beberapa di antaranya memiliki diameter hingga 70 kilometer dan menjulang sedikitnya 1.000 meter dari dasar laut.
Keberadaan gunung bawah laut turut memengaruhi pergerakan arus laut dalam. Gangguan arus tersebut membawa nutrisi ke wilayah tertentu dan mendukung kehidupan berbagai organisme, terutama hewan yang memperoleh makanan dengan menyaring material dari air.
Penelitian ini dilakukan pada kedalaman yang sangat beragam, mulai 94 meter hingga 5.431 meter. Para peneliti menggunakan kapal riset RV Investigator milik Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO), yang dirancang untuk melakukan penelitian laut dalam.
“Orang-orang pernah menjelajahi pulau-pulau di perairan dangkal sebelumnya, tetapi belum ada yang meneliti kehidupan di perairan yang lebih dalam. Itu adalah celah besar dalam data,” kata Tim O’Hara, ilmuwan kelautan dari Museums Victoria sekaligus penulis utama penelitian.
149 Spesies Baru dari Laut
Untuk mengetahui kehidupan di dasar laut, peneliti menggunakan pukat berukuran sekitar empat meter yang ditarik perlahan di dasar laut menggunakan kabel sepanjang delapan kilometer. Sampel yang diperoleh kemudian diperiksa untuk mengidentifikasi berbagai organisme.
Ubur-ubur dan cacing laut menjadi kelompok yang banyak ditemukan. Peneliti juga memperoleh kepiting, lobster, serta berbagai hewan bercangkang dari jaring berukuran lebih kecil berbentuk kerucut.
Dari keseluruhan sampel, ditemukan 1.059 spesies, dengan 149 spesies di antaranya merupakan spesies baru bagi ilmu pengetahuan. Sebanyak 23 spesies ikan bahkan belum pernah tercatat sebelumnya di perairan Australia.
Ekspedisi tersebut tidak hanya mengandalkan penangkapan fisik. Para peneliti juga mengambil sampel DNA lingkungan atau environmental DNA (eDNA). Metode ini memungkinkan keberadaan organisme dideteksi melalui jejak materi genetik yang tertinggal di lingkungan tanpa harus menangkap seluruh hewan.
Kamera bawah laut juga digunakan untuk merekam kondisi ekosistem sekaligus mengukur parameter lingkungan, termasuk suhu, salinitas, dan kadar oksigen. Data tersebut membantu peneliti memahami hubungan antara kondisi fisik laut dengan persebaran organisme.
1.000 Gigi Hiu dari Dasar Laut
Salah satu temuan paling mengejutkan muncul ketika peneliti melakukan satu kali penarikan jaring di Cocos Abyssal Plain, dataran dasar laut di sekitar Kepulauan Cocos. Dalam satu tarikan, mereka mengangkat sekitar 1.000 fosil gigi hiu.
Fosil tersebut diperkirakan merekam sejarah evolusi hiu selama lebih dari 22 juta tahun. Di antara gigi yang ditemukan terdapat gigi dari berbagai kelompok hiu, termasuk hiu mako, hiu harimau, hiu putih raksasa, hingga Megalodon, predator laut purba yang telah punah.
Karena konsentrasi fosilnya yang tinggi, lokasi tersebut disebut para peneliti sebagai “The Shark Graveyard” atau “kuburan hiu”.
Penemuan ini juga menunjukkan bahwa dasar laut bukan sekadar tempat berlangsungnya ekosistem masa kini. Sedimen dan batuan di dalamnya dapat menyimpan rekaman kehidupan laut dari jutaan tahun lalu.
Menariknya, material mineral yang terbentuk secara alami di dasar laut juga ditemukan berkaitan dengan fosil gigi hiu tersebut. Formasi mineral semacam ini menjadi perhatian karena sejumlah mineral dasar laut memiliki nilai penting untuk berbagai teknologi modern, termasuk baterai kendaraan listrik dan turbin angin.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.
Tim Editor




Comments are closed.