Indonesia kini tergabung dalam Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) kawasan regional Pasifik Barat atau Western Pacific Regional Office (WPRO). WHO WPRO mengeluarkan pernyataan di kawasan ini diperkirakan ada 2,9 juta pasien tuberkulosis (TB) di seluruh negara WPRO.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, menyatakan Indonesia, Filipina, dan China adalah tiga negara yang tergolong dalam lima besar penyumbang kasus TB di dunia. “Disebutkan juga bahwa tuberkulosis adalah satu dari penyebab kematian akibat penyakit menular di kawasan kita,” kata dia dalam keterangan untuk Prohealth.id.
Ia menyatakan, WHO WPRO menyebutkan tiga pendekatan utama untuk menangani TB di kawasan ini. Pertama adalah mendekatkan pelayanan langsung ke masyarakat, melalui pelayanan kesehatan primer. Jadi bukan dengan rumah sakit canggih. Dengan ini, lanjut dia, penemuan kasus dapat lebih cepat diobati sehingga tidak terlambat dan penularan di masyarakat dapat dicegah.
Kedua, ucap dia, WHO WPRO mendorong negara-negara, termasuk Indonesia, untuk segera menggunakan tes diagnostik molekuler yang direkomendasi WHO atau “near-point-of-care NPOC molecular tests”. Tes ini akan mendeteksi TB lebih cepat dan lebih akurat. “WHO memang pada 9 Maret 2026 mengeluarkan rekomendasi NPOC ini, yang sebaiknya kita ikuti, juga di negara kita,” kata Tjandra.
Ketiga, kata Tjandra, WHO WPRO menegaskan stigma buruk tentang TB harus dihilangkan. Dan, pelayanan harus diberikan dengan berorientasi ke yang memerlukan atau “people-centred care”.
Tjandra menegaskan, WHO juga menyatakan bahwa mengakhiri TB di suatu negara adalah kebijakan politik yang strategik dan keputusan ekonomi yang tepat pula. Menurut dia, bukti ilmiah menunjukkan setiap investasi 1 dolar Amerika untuk program pengendalian TB akan memberi manfaat balik 43 dolar Amerika bagi kesehatan dan ekonomi di negara itu.
Tjandra mengutip pernyataan Saia Ma’u Piukala, Direktur WHO WPRO, yang menegaskan bahwa kita akan dapat mengakhiri TB di kawasan kita, asal kita melakukan transformasi pelayanan, melakukan desentralisasi pelayanan kesehatan dan dengan sangat segera (“greater urgency”) melakukan tindakan yang tepat. “Selamat Hari TB Sedunia, semoga negara kita dapat sukses dalam pengendalian tuberkulosis,” kata Tjandra.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Oktavianus menegaskan pentingnya strategi deteksi dini tuberkulosis yang agresif, masif, hingga menjangkau tingkat rumah tangga. Melalui pendekatan baru ini, pemerintah fokus pada perubahan paradigma penanggulangan TBC dari pasif, menunggu pasien datang, menjadi aktif dengan mendatangi sumber penularan.
“Langkah ini diambil guna menekan tajam angka infeksi yang masih tinggi demi mengejar target eliminasi pada 2030,” kata dia, dikutip dari laman Kementerian Kesehatan.
Benny, panggilan dia, menekankan pentingnya penguatan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (Puskesmas) melalui strategi deteksi dini yang lebih masif. Ia menargetkan 100 persen kontak erat dari pasien TBC wajib diperiksa untuk memastikan penanganan komprehensif sejak dini sekaligus memutus mata rantai penularan.
Sebagai gambaran, dari sekitar 235.000 kasus TBC di Provinsi Jawa Barat, terdapat sekitar 235.000 rumah yang harus didatangi. Diestimasi, sedikitnya 1 juta orang yang merupakan kontak erat akan terdeteksi dan diperiksa.
Menurut dia, masyarakat yang terjangkit TBC harus terus diperiksa, dicek kesehatannya, dan dilakukan pencegahan. Kalau positif TBC bakal terus diobati sampai sembuh 100 persen, karena TBC ini bisa disembuhkan asalkan meminum obat secara teratur. “Pengobatan tersedia gratis di Puskesmas,” kata Benny.
Dalam Program Nasional, setiap provinsi ditargetkan mampu menemukan minimal 90% dari estimasi kasus TBC tahunan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan, Jawa Barat menunjukkan kinerja yang sangat optimal dengan berhasil mendeteksi 96% dari total estimasi 234.280 kasus pada tahun 2025. Sebuah capaian yang berada di atas standar nasional.
Tingginya angka penemuan kasus ini menjadi kunci utama dalam mempercepat inisiasi pengobatan bagi pasien. Dengan terdeteksinya penderita secara lebih dini, pemerintah dapat segera memberikan intervensi medis yang tepat untuk memutus rantai penularan di masyarakat secara lebih efektif.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2024 Indonesia menyumbang 10 persen kasus TBC global atau sekitar 1,08 juta kasus. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun 2010 yang berada di level 7 persen (842 ribu kasus).
Diperkirakan 1.080.000 orang sakit TBC, dengan 126.000 di antaranya meninggal akibat penyakit TBC. Situasi ini mendorong Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming meluncurkan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau Quick Win Pengentasan TBC 2025-2029. Targetnya adalah menurunkan insiden TBC sebesar 50 persen menjadi 190 per 100.000 penduduk pada 2029.
Program ini berfokus pada empat indikator utama: penemuan kasus, inisiasi pengobatan, angka keberhasilan pengobatan, dan pemberian Terapi Pencegahan TBC (TPT).





Comments are closed.