Sat,16 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lifestyle
  3. Influencer Ini Alami Gatal Parah saat Hamil, Syok saat Didiagnosis ada Masalah pada Hati

Influencer Ini Alami Gatal Parah saat Hamil, Syok saat Didiagnosis ada Masalah pada Hati

influencer-ini-alami-gatal-parah-saat-hamil,-syok-saat-didiagnosis-ada-masalah-pada-hati
Influencer Ini Alami Gatal Parah saat Hamil, Syok saat Didiagnosis ada Masalah pada Hati
service

Jakarta

Kulit gatal sering kali dianggap sebagai keluhan normal selama kehamilan. Bagi kebanyakan Bunda, kondisi ini sering kali diremehkan karena yakin akan sembuh dengan sendirinya.

Tapi bagaimana bila rasa gatal menjadi parah hingga menyebabkan ruam kulit dan mengganggu aktivitas sehari-hari?

Rasa gatal selama hamil bisa saja merupakan gejala dari kondisi medis serius seperti kolestasis. Setidaknya itulah yang pernah dialami influencer bernama Abbie Herbert.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Perempuan 29 tahun ini tak pernah menganggap keluhan gatalnya saat hamil di trimester ketiga sebagai hal yang serius. Baru setelah dia mulai mengunggah video vlog harian, netizen menyadari ada sesuatu yang tidak beres dengan Herbert.

Dalam vlog tersebut, Herbert terlihat menggaruk telapak tangannya. Saat itu, ia menganggapnya sebagai gejala kehamilan yang aneh.

“Kulitku hanya meregang,” katanya saat itu, dilansir Today.

“Namun, saya mulai melihat beberapa komentar yang bilang seperti, ‘Kamu gatal. Sebaiknya kamu memeriksakannya’. Tapi saya sama sekali tidak mempedulikannya.”

Pada video vlog kedua dan ketiga yang di-postingnya, Herbert kembali menerima banyak komentar dan pesan langsung yang mendesaknya untuk memeriksakan diri. Itu juga pertama kalinya dia mendengar istilah kolestasis, yakni suatu kondisi pada organ hati yang menyebabkan tangan dan kaki gatal selama kehamilan.

Herbert lalu mencari informasi tentang kolestasis. Tetapi, ia merasa bahwa rasa gatalnya tidak separah yang dijelaskan di internet.

Namun, pada suatu hari, ia menyadari telah menggaruk cukup keras hingga menyebabkan ruam dan pembuluh darah di tangannya pecah. Ibunda Herbert lalu mendesak anaknya untuk segera memeriksakan diri ke dokter.

Herbert melahirkan segera setelah didiagnosis kolestasis

Herbert lalu memutuskan untuk menjalani serangkaian tes untuk mengetahui penyebab gatal di kulitnya saat hamil. Saat itu, hasil tesnya normal, Bunda.

Tetapi beberapa hari kemudian, tes asam empedu organ hati keluar. Hasilnya menunjukkan sesuatu yang abnormal atau dapat berarti Herbert positif kolestasis.

Untuk menyelamatkan bayinya, Herbert diminta untuk segera menjalani persalinan. Pada tanggal 5 Desember, ia melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat.

Apa itu kolestasis?

Kolestasis yang dialami Herbert merupakan suatu kondisi di mana asam empedu yang diproduksi di organ hati mulai menumpuk di aliran darah. Asam empedu tersebut dapat memengaruhi kondisi bayi di dalam kandungan, Bunda.

“Asam empedu itu dapat menembus plasenta, lalu ke bayi dan memengaruhi organ hati bayi,” kata dokter kandungan di Allegheny Health Network, Dr. Ron Cypher.

Menurut Cypher, kolestasis saat hamil juga dapat menyebabkan rasa gatal di tangan dan kaki. Jika tidak diobati, maka kolestasis dapat menimbulkan komplikasi termasuk kelahiran prematur atau masalah paru-paru pada bayi. Dalam skenario terburuk, kolestasis bisa menyebabkan bayi lahir mati atau stillbirth.

Cypher mengatakan, perempuan yang tidak hamil juga dapat mengalami kolestasis, Tetapi, para ahli berpendapat bahwa perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan dapat meningkatkan risiko terjadinya kondisi medis ini.

“Hormon-hormon tertentu dapat menyebabkan organ hati bekerja terlalu keras, yang mungkin menjelaskan mengapa kolestasis cenderung terjadi pada tahap akhir kehamilan,” ungkap Cypher.

Sebenarnya, tidak ada yang tahu penyebab utama kolestasis, Bunda. Jika kondisi tersebut terdeteksi lebih awal dalam kehamilan, pasien mungkin bisa mengonsumsi obat yang disebut ursodiol untuk membantu mengurangi asam empedu.

Tetapi, jika seseorang sudah berada pada usia kehamilan 36 minggu atau lebih, dokter mungkin akan merekomendasikan persalinan untuk menyelamatkan bayi.

Demikian kisah Bunda alami gatal parah saat hamil hingga didiagnosis mengidap kolestasis.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas HaiBunda Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.