Arina.id – Teheran menegaskan tidak akan mengirim delegasi negosiasi putaran kedua ke Islamabad Pakistan selama Amerika Serikat (AS) masih memblokade kapal-kapal dari Iran di Selat Hormuz. Demikian dilaporkan media Iran, Tasnim, mengutip sumber pejabat Iran.
Pasca-gagalnya negosiasi putaran pertama beberapa waktu lalu, pertukaran pesan kedua negara terus dilakukan menjelang negosiasi putaran melalui perantara Pakistan. Pertukaran pesan ini pada dasarnya merupakan kelanjutan dari proses negosiasi putaran awal pembicaraan—yang gagal karena ancaman, tuntutan dan ambisi Amerika.
Sejak berakhirnya negosiasi tersebut, perantara Pakistan terus menyampaikan pesan antara kedua belah pihak selama periode terakhir. Tim negosiasi Iran telah menegaskan bahwa selama deklarasi Presiden AS Donald Trump mengenai blokade angkatan laut terhadap Iran masih berlaku, tidak akan ada negosiasi.
Sementara itu juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengutuk blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan dan garis pantai Iran sebagai tindakan yang melanggar hukum dan pelanggaran gencatan senjata yang dimediasi Pakistan.
Dalam unggahan di akun Platform X-nya pada hari Minggu, 19 April 2026, Baqaei mengatakan bahwa blokade angkatan laut terhadap Iran oleh AS melanggar prinsip-prinsip dasar hukum internasional dan merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
“Apa yang disebut Amerika Serikat sebagai ‘blokade’ terhadap pelabuhan atau garis pantai Iran bukan hanya pelanggaran terhadap gencatan senjata yang dimediasi Pakistan, tetapi juga melanggar hukum dan merupakan tindakan kriminal. Hal itu melanggar Pasal 2(4) Piagam PBB; hal itu merupakan tindakan agresi berdasarkan Pasal 3(c) Resolusi Majelis Umum PBB 3314 (1974), yang secara eksplisit memasukkan blokade terhadap pelabuhan atau garis pantai suatu negara di antara tindakan-tindakan tersebut,” kata Baqaei.
“Terlebih lagi, dengan sengaja menjatuhkan hukuman kolektif kepada penduduk Iran, hal itu sama dengan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan,” katanya.
Adapun juru bicara Komando Militer Khatam al-Anbiya Iran menyatakan bahwa negaranya akan segera membalas aksi penyitaan kapalnya yang dilakukan militer Amerika Serikat di Teluk Oman. Sebelumnya Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi penyitaan kapal dagang Iran Touska yang berupaya menerobos blokade AS di Teluk Oman.
Menurutnya, kapal Iran tersebut kini berada di bawah kendali AS. “Kami memperingatkan bahwa angkatan bersenjata Republik Islam Iran akan segera merespons tindakan tersebut dan membalas pembajakan bersenjata yang dilakukan militer AS ini,” kata juru bicara komando militer Iran, seperti dikutip Reuters.
Pada 13 April, Angkatan Laut AS mulai menutup semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran di kedua sisi Selat Hormuz, yang menyumbang sekitar 20 persen dari pasokan minyak, produk minyak bumi, dan LNG global.
Washington menegaskan bahwa kapal-kapal non-Iran bebas melewati Selat Hormuz selama mereka tidak membayar bea masuk ke Teheran. Otoritas Iran belum mengumumkan pemberlakuan bea masuk, tetapi telah membahas rencana tersebut.





Comments are closed.