
Surabaya | Unsplash/Puji Nugroho
Persoalan sampah perkotaan sering kali menjadi tantangan yang sulit diatasi oleh banyak pemerintah daerah di Indonesia. Akan tetapi, bukan berarti masalah sampah tidak bisa diatasi dengan baik.
Kota Surabaya misalnya. Ibu kota Provinsi Jawa Timur ini dinobatkan sebagai daerah dengan kinerja pengelolaan sampah terbaik di Indonesia oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Tahun 2025.
Dikenal sebagai salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia setelah Jakarta, permasalahan sampah jelas menjadi pekerjaan rumah serius bagi Pemkot Surabaya sejak lama. Lalu, apa rahasia kota ini bisa mendapatkan predikat daerah dengan kinerja pengelolaan sampah terbaik nasional?
Daftar Daerah dengan Kinerja Pengelolaan Sampah Terbaik
Dalam penilaian tersebut, KLH menggunakan beberapa indikator, yakni anggaran, sarana fasilitas, hingga kondisi Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Menariknya, tidak ada satu pun kabupaten atau kota di Indonesia yang berhasil mencapai nilai minimum untuk meraih piala Adipura atau Adipura Kencana pada periode ini.
Akan tetapi, sebagai gantinya, 35 daerah berhasil memenuhi standar untuk membawa pulang predikat Sertifikat Menuju Kabupaten atau Kota Bersih.
Berikut adalah daftar 10 besar daerah penerima Sertifikat Menuju Kabupaten atau Kota Bersih:
- Kota Surabaya (Metropolitan) – 74,92
- Kabupaten Ciamis (Kabupaten Terbaik) – 74,68
- Kota Balikpapan (Kota Besar) – 74,55
- Kota Banjar (Kota Sedang) – 74,33
- Kota Bontang (Kota Sedang) – 74,07
- Kota Parepare (Kota Sedang) – 72,79
- Kota Malang (Metropolitan) – 71,45
- Kota Padang (Kota Besar) – 71,44
- Kabupaten Sidoarjo (Metropolitan) – 70,55
- Kabupaten Bone (Kabupaten Sedang) – 69,59
Secara keseluruhan, daerah-daerah tersebut dinilai mampu mengelola sampah secara serius serta menghindari sistem pembuangan liar di lingkungan sekitar.
Jurus Jitu Surabaya Memerangi Sampah dari Hulu
Prestasi yang diraih oleh Surabaya tidak datang begitu saja tanpa adanya strategi yang matang di lapangan. Melansir dari situs resmi Pemerintah Kota Surabaya, ada beberapa cara yang mereka lakukan untuk memerangi persoalan sampah yang kian banyak di Kota Pahlawan itu.
Pemkot Surabaya menekankan, pencapaian ini merupakan hasil dari gotong royong seluruh elemen masyarakat. Kuncinya terletak pada komitmen dua arah antara pemerintah kota yang konsisten menjaga kebersihan dan kesadaran warga yang tinggi.
Dengan volume sampah harian kota yang menyentuh angka sekitar 1.600 ton, Surabaya memprioritaskan penanganan langsung dari area hulu. Warga setempat didorong secara aktif untuk melakukan pemilahan sampah sejak dari tingkat rumah tangga dan lingkungan kampung. Strategi ini dinilai sangat efektif untuk memangkas timbulan sampah yang nantinya masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Partisipasi aktif masyarakat ini juga diperkuat dengan kehadiran kader lingkungan yang bergerak di hampir seluruh pelosok kampung. Para kader ini bertugas mengedukasi warga sekitar, mengelola bank sampah lokal, hingga mengolah sampah organik secara mandiri menggunakan metode biopori. Hasilnya, sebagian besar masalah sampah berhasil diselesaikan di tingkat terbawah sebelum menumpuk di hilir.
Tak hanya di tingkat permukiman warga, pelaku usaha besar pun diwajibkan untuk mengambil peran dalam menjaga kebersihan kota. Pihak hotel, apartemen, pusat perbelanjaan, hingga restoran didorong untuk mengolah sampah mereka secara mandiri. Skema ketat ini terus diperkuat agar beban Tempat Pemrosesan Akhir dapat ditekan serendah mungkin.
Komitmen penataan lingkungan di Surabaya juga diintegrasikan secara menyeluruh dengan program estetika kota yang berkesinambungan. Pemerintah kota giat merapikan tumpukan kabel listrik, menertibkan baliho yang semrawut, hingga merehabilitasi fungsi trotoar bagi pejalan kaki. Semua langkah nyata ini dijalankan selaras demi mewujudkan lingkungan kota yang aman, sehat, resik, dan indah bagi seluruh warganya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.
Tim Editor




Comments are closed.