Fri,28 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Jaga 10 Ada Silaturahim Saat Kunjungan Idul Fitri

Jaga 10 Ada Silaturahim Saat Kunjungan Idul Fitri

jaga-10-ada-silaturahim-saat-kunjungan-idul-fitri
Jaga 10 Ada Silaturahim Saat Kunjungan Idul Fitri
service

Jakarta, NU Online

Idul Fitri dan hari-hari setelahnya menjadi momentum untuk menjalin silaturahim ke sejumlah kerabat, sahabat, dan teman guna saling memohon maaf satu sama lain. Butuh waktu beberapa hari bagi sebagian umat Islam karena faktor jarak hingga banyak sanak-famili yang perlu dikunjungi. 

Kunjungan silaturahim ini penting dan mulia, bukan saja karena hendak melebur kesalahan dengan cara bermaaf-maafan, tetapi juga guna menjaga silaturahim yang menjadi bagian utama yang dianjurkan dalam Islam.

Oleh karena itu, tujuan mulia tersebut hendaknya sejalan dengan sikap yang ditunjukkan dalam kunjungan tersebut dengan memperhatikan adab atau tata krama dalam bersilaturahim.

Setidaknya, ada 10 adab bertamu yang penting untuk dijaga dalam kunjungan silaturahim Idul Fitri ini. Hal tersebut sebagaimana ditulis Ustadz M Tatam Wijaya mengutip Kitab Ihya ‘Ulumiddin karya Imam Al-Ghazali dan Kitab Fashlul Khithab.

Pertama, niat silaturahim. Menurutnya, niat ini sangat penting, karena segala sesuatu bergantung kepada niatnya. Niat yang dapat ditanam dalam hati sekaligus diekspresikan dalam wujud perbuatan antara lain niat menyambung tali silaturahim, memperkuat ikatan sesama Muslim, dan membahagiakan orang yang dikunjungi. 

“(Niat) berbakti kepada orang tua dan memuliakan mereka jika yang dikunjungi adalah orang tua,” tulis Ustadz M Tatam Wijaya Ini 10 Adab Bertamu di saat Lebaran yang Harus Diketahui, yang Terakhir Sering Dilupakan dikutip NU Online, Senin (23/3/2026).

Kedua, perhatikan jadwal bertamu. Saat berkunjung atau bertamu hendaknya tidak dilakukan pada waktu istirahat atau saat tuan rumah baru pulang bepergian. Tujuannya agar tidak mengganggu waktu istirahat dan kenyamanannya.

“Makanya, agar tuan rumah lebih siap, sebaiknya kita membuat janji atau jadwal terlebih dahulu,” terang Penyuluh dan Petugas KUA Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.

Ketiga, tidak terburu-buru sekaligus tidak terlalu lama. Namun, hal ini dikecualikan jika ada permintaan dari tuan rumah. Jika harus menginap, lannjutnya, Rasulullah menganjurkan, paling lama sampai tiga hari.

Keempat, tidak pilih-pilih dan membedakan kelas sosial orang-orang yang hendak dikunjungi. Namun, Ustadz Tatam menegaskan bahwa syariat dan budaya menuntun agar orang lebih mudah datang mengunjungi yang lebih tua, bawahan datang kepada atasan.

“Apa pun keadaan mereka, hendaknya tidak menjadi halangan bagi kita untuk menemui dan mengunjunginya,” tulis Ustadz Tatam.

Kelima, tak bertujuan mencari makan atau jamuan gratis. Hal ini berkaitan langsung juga dengan niatan silaturahmi. Sebab, kunjungan tersebut sebaiknya diniati untuk mencari kekuatan ibadah, menuai keberkahan makan bersama, dan sebagainya. 

“Kendati disiapkan hidangan, terima dan cicipilah dengan senang hati meski merasa sedikit kenyang, menerimanya tidak berlebihan,” tuturnya.

Keenam, menjaga sikap dan sopan santun di hadapan tuan rumah dan keluarganya. Adab ini penting diperhatikan agar selama berkunjung benar-benar khidmat. Hal ini dapat dilakukan dengan mengucap salam, menyalami orang yang hadir, hingga duduk di tempat yang diinginkan tuan rumah.

Ketujuh, bahagiakan tuan rumah. Bahkan, demi membahagiakan tuan rumah tersebut, jika pun berpuasa, tamu diperbolehkan berbuka selama puasa yang ditunaikan adalah puasa sunnah, bukan puasa wajib. 

Kedelapan, hindari fitnah. Seorang laki-laki hendaknya tidak bertamu ke rumah seorang yang tuan rumahnya perempuan sendirian, kecuali si laki-laki membawa istri atau keluarga istrinya yang lain.   

Kesembilan, tidak pamer kekayaan. Berkunjung kepada seseorang bukan ajang untuk pamer kekayaan atau barang yang kita miliki. Pasalnya, penampilan yang berlebihan bisa menimbulkan hal yang tidak diinginkan, seperti orang yang dikunjungi merasa minder, malu, dan tidak nyaman. Karenanya, Ustadz Tatam menyarankan agar berpenampilan secara sederhana dan seperlunya saja dalam berkunjung.

Terakhir, bawa bingkisan. Hal ini juga menjadi bagian dari membahagiakan tuan rumah, baik untuk si pemilik rumah, keluarga, atau anak-anaknya. Namun ini bukan satu keharusan, sehingga menjadi penghalang tercapainya silaturahim. 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.