Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Jalur Hormuz Terganggu, Minyak AS Jadi Buruan Kilang Dunia

Jalur Hormuz Terganggu, Minyak AS Jadi Buruan Kilang Dunia

jalur-hormuz-terganggu,-minyak-as-jadi-buruan-kilang-dunia
Jalur Hormuz Terganggu, Minyak AS Jadi Buruan Kilang Dunia
service

KABARBURSA.COM — Ketegangan yang dipicu konflik Iran mulai terasa langsung di pasar energi global. Pada perdagangan Sabtu, 7 Maret 2026, minyak mentah berat dari wilayah Teluk Amerika Serikat melonjak tajam setelah beberapa produsen minyak Timur Tengah mengurangi produksi dan pembeli beralih mencari pasokan alternatif.

Lonjakan itu terutama terlihat pada minyak Mars sour crude, salah satu jenis minyak unggulan yang diproduksi di Teluk Meksiko dan banyak digunakan oleh kilang di berbagai negara. Dilansir dari Reuters, para broker menyebut minyak Mars diperdagangkan dengan premi sekitar USD11 di atas harga patokan minyak Amerika West Texas Intermediate atau sekitar Rp185.350 per barel lebih tinggi.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2020. Hanya dalam satu hari, premi itu melonjak USD4 atau sekitar Rp67.400 dari posisi sehari sebelumnya. Kenaikan tersebut bahkan jauh melampaui posisi sepekan lalu yang masih berada di kisaran USD1,50 atau sekitar Rp25.275.

Kenaikan harga juga terjadi pada jenis minyak berat lainnya dari Amerika Serikat, termasuk Heavy Louisiana Sweet dan West Texas Sour.

Gangguan Pasokan Timur Tengah

Lonjakan harga minyak Amerika tidak bisa dilepaskan dari perkembangan konflik di kawasan Teluk Persia. Serangan yang terjadi pada pekan sebelumnya memicu gangguan pada jalur distribusi minyak global.

Harga minyak mentah acuan Brent melonjak hingga USD92,69 per barel atau sekitar Rp1,56 juta pada penutupan perdagangan Jumat. Itu merupakan level tertinggi sejak Oktober 2023.

Salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan tersebut adalah terganggunya arus minyak melalui Selat Hormuz. Jalur sempit yang berada di antara Iran dan negara-negara Teluk itu menjadi lintasan penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Penutupan efektif jalur tersebut memaksa beberapa negara produsen, termasuk Irak, memangkas produksi. Selat Hormuz biasanya menjadi rute utama pengiriman minyak mentah jenis medium dan heavy sour dari kawasan Teluk Persia. Dengan aliran tersebut terhenti, pasokan di pasar internasional pun langsung menyusut.

Keputusan Kuwait yang juga memangkas produksi pada Jumat semakin memperketat pasokan dan ikut mendorong kenaikan harga minyak Mars, kata seorang pedagang energi.

Pembeli Berburu Alternatif

Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, para pembeli segera mencari sumber minyak pengganti. Amerika Serikat menjadi salah satu alternatif paling logis.

Analis minyak kawasan Amerika dari Kpler, Matt Smith, mengatakan kilang yang selama ini mengandalkan minyak dari Timur Tengah harus mencari jenis minyak yang serupa untuk menggantikan pasokan yang hilang.

“Kilang yang selama ini bergantung pada jenis minyak tersebut harus mencari alternatif yang serupa atau mendekati untuk menggantikan pasokan yang hilang. Karena itu, Mars dan minyak berat serta medium bersulfur dari Teluk Amerika Serikat menjadi pengganti alami dan kini harganya didorong naik secara agresif,” ujarnya.

Smith menambahkan bahwa pembeli, terutama dari Asia, kini berlomba mendapatkan minyak mentah medium dan heavy dari Amerika Serikat.

Di tengah gangguan pasokan akibat konflik, faktor musiman juga ikut memperkuat tekanan harga. Kepala ekonom Matador Economics, Tim Snyder, mengatakan periode ini biasanya menandai peralihan dari musim dingin menuju musim berkendara di Amerika Serikat.

Pada fase tersebut permintaan bahan bakar biasanya meningkat sehingga kebutuhan minyak mentah dari berbagai jenis ikut naik. “Pada akhirnya gangguan pasokan yang disebabkan perang inilah yang mendorong harga naik,” kata Snyder.

Ia memperkirakan kenaikan harga minyak jenis ini masih akan berlanjut selama jalur pengiriman utama di Selat Hormuz belum kembali dibuka. “Dalam jangka pendek kita akan terus melihat harga jenis minyak ini naik sampai Selat Hormuz dibuka kembali,” kata Snyder.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.