Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Jangkung Mangkurat: Ketika Anatomi Diri Jawa Bersinggungan dengan Anatomi Politik Eropa

Jangkung Mangkurat: Ketika Anatomi Diri Jawa Bersinggungan dengan Anatomi Politik Eropa

jangkung-mangkurat:-ketika-anatomi-diri-jawa-bersinggungan-dengan-anatomi-politik-eropa
Jangkung Mangkurat: Ketika Anatomi Diri Jawa Bersinggungan dengan Anatomi Politik Eropa
service

Dhalang puniku Ingsun

Nglegena tanpa surjan lan kawung

Tangeh lamun curiga sinengkelit

Mung hawa sumrambah wangwung

Awang-uwung tanpa blangkon

Sapa Sira, Sapa Ingsun, Heru Harjo Hutomo

Dari berbagai bentuk dan jenis keris, entah kenapa saya terkesan dengan keris “Jangkung Mangkurat.” Bentuk dan jenis keris ini konon dibuat pada era Amangkurat di Mataram. Lazimnya, keris ini memiliki luk tiga yang cocok untuk menghiasi busana para pemimpin Jawa pada masa lalu.

Dari sisi nama, “Jangkung” merujuk pada sang pengayom yang karena itulah kenapa jenis keris Jangkung pantas disandang oleh para pemimpin.

Namun sebenarnya, istilah “rat” pada “Jangkung Amangkurat” konon lebih diarahkan pada jagat pribadi yang juga terdiri dari sang pengayom dan yang diayomi.

Dalam kebudayaan Jawa, sang pengayom itu kadang disebut sebagai “Pangeran” yang diartikan sebagai “pangengeran” atau dzat yang dijadikan tuan.

Dzat itulah yang konon membuat iblis, meskipun ia ma’rifat pada Tuhan, menjadi tercerabut status kemalaikatannya. Sebab, ia tak mau sujud pada Adam, sebagai representasi dari manusia, yang pada dasarnya tak sekedar berkomposisikan tanah sebagaimana yang ia anggap.

Maka tepatlah ketika kebudayaan Jawa menyebut manusia sebagai “manungsa” atau “manunggaling rasa,” karena ia memang segurat titik persinggungan dari beberapa unsur yang berasal dari berbagai dimensi: lahir-batin, kasar-halus, dsb.

Terdapat sebuah metrum dari Serat Cebolek Yasadipuran yang mengisahkan salah satu sebab vonis kafir dijatuhkan pada Kaji Mutamakin, yang telah mengaku sebagai sang “Mukhamad Khakiki,” dimana hal itu adalah salah satu unsur yang menjadi bagian dari diri manusia.

Dadya para ngulama pasisir

Andhinginken iber-iber laying

Marang pra ngulama kabeh

Pajang Metaram Kedhu

Ing Bagelen manca negari

Sarta kang nunukilan

Ing panganggepipun

Telade kang ingandheman

Ki Cabolek ngaku Mukhamad Khakiki

Wani yen den ukuma

Dengan demikian, pada dasarnya, manusia adalah serupa istilah “pemerintah” yang ternyata terdiri dari beberapa unsur, yang dalam teori trias politica, dikenal sebagai lembaga eksekutif, yudikatif, dan legislatif.

Maka, dalam perspektif semacam itu, tak tepatlah ketika mendamik manusia hanya pada sebatang hidungnya belaka, misalnya—sebagaimana mendamik “pemerintah” hanya pada sebatas presiden, gubernur, bupati, dan segenap jajarannya.

Meskipun tak semua keris Jangkung memiliki luk tiga, namun bentuk yang seperti itulah yang sampai kini melekat pada keris berjenis Jangkung. Karena memang, konon, untuk sampai pada “nyata,” segala sesuatu mestilah berangkat dari tiga azas atau yang dalam spiritualitas Jawa lebih akrab disebut sebagai “Trimurti.

Meskipun mampu berdiri sendiri, ketiga azas atau Trimurti itu memiliki kaitan yang erat, di mana antara yang satu dengan yang lainnya dapat saling memengaruhi. Dan inilah, konon, salah satu keistimewaan seorang anak manusia yang dapat mengaitkan ketiganya—ketika malaikat, jin, binatang ataupun tumbuhan, tak bisa terkonfirmasikan kemampuan untuk mengaitkannya.

Dengan demikian, rumus untuk menuju, taruhlah, pemerintahan yang “nyata” (yang memenuhi unsur Trimurti), adalah ketika sang eksekutif “lerem,” maka sang yudikatif pun “bening,” dan akhirnya sang legislatif akan “padhang.” Dan pada saat itulah sebuah “pemerintah”-an akan benar-benar “jumeneng.”

Mengaitkan konsep Trimurti Jawa, yang mengendap dalam filosofi keris Jangkung Mangkurat, dengan teori politik modern sebagaimana teori trias politica, ternyata bukanlah sebentuk hal ngayawara.

Karena, pertama, dapat diketahui bahwa benarlah bahwa keris Jangkung Mangkurat berasal dari zaman Amangkuratan (Mataram-Plered) yang pernah jatuh pada tahun 1677, setelah sang raja kala itu menghapuskan tradisi musyawarah di Mataram dan mengadakan sentralisasi kekuasaan.

Dengan kata lain, Amangkurat Agung, bisa jadi, telah menyingkirkan konsep Trimurti sebagai filosofi jagat Jawa yang telah terwariskan sejak lama. Dan keris Jangkung Mangkurat adalah sebuah upaya kultural untuk merevisi sistem diri sekaligus sistem politik Jawa (Trimurti) yang tak lagi tersentralisasi secara mutlak.

Yang kedua,12 tahun kemudian, di Eropa, John Locke menyelesaikan karya monumentalnya, Two Treatise of Government (1689), yang mencantumkan dasar dari teori Trias Politica yang kemudian disempurnakan oleh Montesquieu pada 1748 (The Spirit of the Law).

Apakah kemudian Jawa mendahului Eropa dalam hal sistem politik, bukanlah pertanyaan yang patut dijawab. Namun, yang jelas, secara epistemologis (sebelum teori relativitas Einstein tercipta), di Jawa jagat kabir (makrokosmos) memang terkait erat dengan jagat saghir (mikrokosmos) dan Trimurti adalah azas yang menjadikannya “dumadi.” 

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.