Sat,18 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Jurnalistik
  3. Jejak seni tertua umat manusia ditemukan di Sulawesi

Jejak seni tertua umat manusia ditemukan di Sulawesi

jejak-seni-tertua-umat-manusia-ditemukan-di-sulawesi
Jejak seni tertua umat manusia ditemukan di Sulawesi
service

Selama ini, Eropa kerap dianggap sebagai titik awal sejarah seni dunia. Deretan lukisan gua tersohor di Prancis dan Spanyol sering kali dijadikan bukti bahwa wilayah tersebut merupakan simbol rahim kebudayaan manusia.

Namun, temuan terbaru dari Indonesia merombak peta sejarah tersebut secara dramatis. Penelitian kami, yang baru saja terbit di jurnal Nature, mengungkapkan bahwa penduduk yang mendiami wilayah Indonesia Timur telah menciptakan seni cadas jauh lebih awal dari yang pernah dibuktikan sebelumnya.

Para seniman ini bukan sekadar pembuat gambar pertama di dunia, melainkan kemungkinan besar adalah bagian dari populasi yang kelak menjadi cikal bakal leluhur penduduk asli Australia (Aborigin) dan Papua.

Stensil tangan dari masa lalu

Temuan ini berasal dari gua-gua kapur di Pulau Sulawesi. Di sana, jejak stensil tangan berwarna merah pudar—yang dibuat dengan cara meniupkan pigmen pada tangan yang ditempelkan ke dinding batu—tampak samar di balik lapisan endapan mineral.

Dengan menganalisis kandungan uranium dalam jumlah sangat kecil pada lapisan mineral tersebut, kami dapat menentukan waktu pembentukannya. Karena mineral ini terbentuk tepat di atas lukisan, penanggalan tersebut mengungkap usia termuda yang mungkin dari karya seni di bawahnya.

Dalam beberapa kasus, ketika lukisan dibuat di atas lapisan mineral, data ini juga dapat menunjukkan batas usia tertua dari gambar-gambar tersebut.

Guratan samar stensil tangan pada dinding berbatu kapur.

Seni cadas tertua yang pernah diketahui hingga saat ini: stensil tangan berusia 67.800 tahun di dinding gua. Supplied

Salah satu stensil tangan yang berhasil diidentifikasi berasal dari setidaknya 67.800 tahun yang lalu—menjadikannya seni cadas dengan penanggalan paling akurat yang pernah ditemukan di dunia.

Temuan ini setidaknya 15 ribu tahun lebih tua dibandingkan seni cadas di wilayah ini yang pernah kami teliti sebelumnya, serta lebih dari 30 ribu tahun lebih tua daripada seni gua tertua di Prancis. Hal ini membuktikan bahwa manusia telah menciptakan karya seni gua jauh lebih awal dari yang kita yakini selama ini.

Foto stensil tangan yang telah melalui proses penanggalan (a) dan hasil pelacakan digital (b); ka merupakan singkatan dari ‘ribu tahun yang lalu’. Supplied

Stensil tangan ini juga terasa istimewa karena mengusung gaya unik yang hanya ditemukan di Sulawesi. Ujung jemarinya dibentuk sedemikian rupa hingga tampak meruncing, menyerupai cakar hewan.

Modifikasi citra tangan manusia seperti ini diyakini memiliki makna simbolis, yang kemungkinan besar berkaitan dengan pemahaman masyarakat kuno tersebut mengenai hubungan antara manusia dan hewan.

Dalam penelitian sebelumnya di Sulawesi, kami menemukan gambar sosok manusia berkepala burung dan fitur hewan lainnya yang berusia setidaknya 48 ribu tahun. Secara kolektif, berbagai temuan kami menunjukkan bahwa masyarakat awal di wilayah ini telah memiliki pemikiran kompleks mengenai identitas dan hubungan manusia-hewan sejak masa yang sangat lampau.

Permukaan berbatu dengan stensil tangan yang dikelilingi pigmen merah dan jemari yang meruncing.

Stensil tangan dengan jemari meruncing di Leang Jarie, Maros, Sulawesi. Adhi Agus Oktaviana

Bukan sekadar momen kreativitas sesaat

Hasil penanggalan ini membuktikan bahwa gua-gua tersebut telah digunakan sebagai media lukis dalam kurun waktu yang sangat panjang. Karya seni terus diproduksi secara berulang hingga mencapai puncaknya sekitar 20 ribu tahun lalu—puncak dari zaman es terbaru.

Setelah jeda yang panjang, gua-gua ini kembali dihiasi oleh para petani pertama di Indonesia, yakni masyarakat penutur bahasa Austronesia yang tiba di wilayah tersebut sekitar 4.000 tahun silam. Mereka menambahkan citra-citra baru di atas lukisan zaman es yang jauh lebih tua.

Rangkaian sejarah yang panjang ini menunjukkan bahwa ekspresi simbolis bukanlah sebuah inovasi singkat yang terisolasi. Sebaliknya, hal tersebut merupakan tradisi budaya yang langgeng dan dipelihara secara turun-temurun oleh masyarakat yang mendiami Wallacea—wilayah kepulauan yang memisahkan daratan Asia dengan Australia dan Papua Nugini.

Seorang pria menggunakan senter khusus untuk menyingkap jejak jemari pada dinding berbatu di gua yang gelap.

Adhi Agus Oktaviana menyorot salah satu stensil tangan dengan senter. Max Aubert

Apa hubungannya dengan penduduk asli Australia?

Implikasinya lebih dari sekadar sejarah seni.

Bukti arkeologi dan genetik menunjukkan bahwa manusia modern mencapai benua kuno Sahul—daratan luas yang menyatukan Australia dan Papua—sekitar 65.000 hingga 60.000 tahun yang lalu.

Perjalanan menuju ke sana membutuhkan pelayaran laut yang terencana, yang merupakan ekspedisi laut jarak jauh tertua yang pernah dilakukan oleh spesies kita.

Para peneliti memperkirakan dua rute migrasi utama menuju Sahul. Rute utara membawa manusia dari daratan Asia Tenggara melewati Kalimantan dan Sulawesi, sebelum menyeberang ke Papua dan Australia.

Sementara rute selatan melewati Sumatra dan Jawa, lalu melintasi Kepulauan Nusa Tenggara, termasuk Timor, sebelum akhirnya mencapai Australia bagian barat laut

Kemungkinan rute migrasi manusia modern menuju Australia/Papua Nugini; rute utara ditandai dengan panah merah, sedangkan rute selatan ditandai dengan panah biru. Titik-titik merah merepresentasikan area dengan temuan seni cadas dari zaman Pleistosen yang telah teridentifikasi penanggalannya. Supplied

Hingga saat ini, bukti arkeologi masih menyisakan celah besar di sepanjang jalur migrasi tersebut. Temuan seni cadas yang terletak tepat di sepanjang rute utara ini dapat memberikan bukti langsung tertua tentang keberadaan manusia modern di koridor migrasi kunci menuju Sahul.

Dengan kata lain, masyarakat yang membuat stensil tangan di gua-gua Sulawesi tersebut kemungkinan besar merupakan bagian dari populasi yang kelak menyeberangi lautan dan menjadi leluhur penduduk asli Australia.

Memikirkan ulang dari mana budaya bermula

Temuan ini menambah jajaran bukti yang menunjukkan bahwa kreativitas manusia awal tidak muncul di satu tempat saja, pun tidak terbatas di Eropa pada zaman es.

Sebaliknya, perilaku simbolis—termasuk seni, tradisi bercerita, serta penandaan wilayah dan identitas—telah berkembang pesat di Asia Tenggara seiring dengan persebaran manusia ke seluruh penjuru dunia.

Seorang pria berhelm putih duduk di atas bebatuan gua, dengan deretan karya seni megah terpampang di atasnya.

Shinatria Adhityatama working in the cave. Supplied

Hal ini menunjukkan bahwa populasi pertama yang mencapai Australia membawa serta tradisi budaya yang telah lama mengakar, termasuk bentuk-bentuk ekspresi simbolis yang kompleks yang akar terdalamnya kemungkinan besar berasal dari Afrika.

Temuan ini memicu pertanyaan penting: jika seni sekuno itu ada di Sulawesi, lantas berapa banyak lagi yang belum terungkap?

Sebagian besar wilayah Indonesia dan pulau-pulau di sekitarnya masih belum dieksplorasi secara arkeologis. Jika hasil penelitian kami menjadi acuan, maka bukti tradisi budaya yang sama kunonya—atau bahkan lebih tua—mungkin masih tersembunyi di dinding-dinding gua di seluruh kawasan ini.

Seiring dengan pencarian yang terus kami lakukan, satu hal yang pasti: kisah kreativitas manusia jauh lebih tua, lebih kaya, dan lebih beragam secara geografis daripada yang pernah kita bayangkan sebelumnya.


Penelitian mengenai seni cadas awal di Sulawesi ini telah diangkat ke dalam sebuah film dokumenter berjudul ‘Sulawesi l’île des premières images’. Film ini diproduksi oleh ARTE dan dirilis di Eropa belum lama ini.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.