KABARBURSA.COM – Aroma rotasi sektor mulai terasa menjelang Idul Adha 2026. Sejumlah saham berbasis konsumsi domestik, pangan, dan ritel perlahan kembali masuk radar pelaku pasar setelah sempat tertahan tekanan IHSG dalam beberapa pekan terakhir.
Namun pergerakan saham-saham tersebut tidak berjalan seragam. Di tengah momentum konsumsi masyarakat yang mulai meningkat jelang hari raya kurban, ada saham yang mulai dikoleksi asing, tetapi ada pula yang justru terkena distribusi besar.
JPFA Kumpulkan Dana Asing Rp3,80 Miliar
Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Setelah bergerak melemah beberapa hari sebelumnya, JPFA mendadak melonjak 4,10 persen ke level 2.540 pada perdagangan 13 Mei 2026.
Kenaikan tersebut terjadi ketika asing kembali masuk cukup agresif. Data perdagangan menunjukkan JPFA mencatat foreign buy Rp19,45 miliar dengan foreign sell Rp15,65 miliar, sehingga menghasilkan net foreign buy Rp3,80 miliar.
Jika ditarik sejak awal Mei, aliran dana asing di JPFA sebenarnya masih cukup konsisten masuk. Pada 6 Mei, saham ini mencatat net foreign buy Rp8,79 miliar, lalu berlanjut Rp5,71 miliar pada 7 Mei dan melonjak Rp11,08 miliar pada 8 Mei.
Momentum tersebut muncul di tengah sentimen Idul Adha yang mulai mengangkat ekspektasi konsumsi protein hewani dan distribusi pangan. Pasar membaca bahwa emiten unggas berpotensi mendapatkan efek rambat dari meningkatnya aktivitas konsumsi masyarakat selama periode libur panjang.
Meski Idul Adha identik dengan sapi dan kambing, konsumsi ayam dan produk olahan biasanya juga ikut meningkat selama momentum hari besar keagamaan. Hal itu yang membuat saham JPFA mulai diperhatikan trader dan investor jangka pendek.
Namun penguatan JPFA belum sepenuhnya mulus. Orderbook menunjukkan area offer masih cukup tebal di level 2.600 dengan antrean mencapai 8.555 lot.
CPIN Kumpulkan Rp3,76 Miliar Dana Asing
Cerita serupa juga mulai terlihat di saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN). Saham ini berhasil rebound 4,52 persen ke level 4.160 pada perdagangan terakhir, setelah sempat turun ke area psikologis 4.000.
Asing terlihat kembali masuk ke CPIN dengan net foreign buy Rp9,64 miliar pada 13 Mei. Padahal sehari sebelumnya, saham ini masih mencatat net foreign sell Rp3,76 miliar.
Jika diakumulasi sejak 5 Mei hingga 13 Mei, CPIN masih membukukan net foreign buy sekitar Rp7,29 miliar. Artinya, di tengah volatilitas pasar, asing sebenarnya masih menjaga akumulasi tipis di saham ini.
Pergerakan CPIN juga menarik, karena level 4.000 beberapa kali berhasil menjadi area pertahanan harga. Dari sisi teknikal, area tersebut mulai dibaca pasar sebagai support penting untuk menjaga peluang rebound lanjutan.
AMRT Tenang, tapi Asing Agresif Jual
Kondisi berbeda justru terlihat pada PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT). Saham ritel ini malah mengalami tekanan cukup besar jelang Idul Adha.
Pada perdagangan 13 Mei, AMRT ditutup stagnan di level 1.415. Namun di balik pergerakan yang terlihat tenang itu, tekanan jual sebenarnya cukup agresif.
Saham sempat jatuh hingga level 1.305 sebelum akhirnya ditarik kembali ke area penutupan. Data perdagangan menunjukkan asing melakukan net foreign sell jumbo mencapai Rp34 miliar dalam sehari.
Distribusi tersebut menjadi tekanan asing terbesar AMRT sepanjang periode Mei berjalan. Padahal sebelumnya, saham ini sempat mendapatkan aliran dana asing cukup besar dengan net foreign buy Rp31,11 miliar pada 6 Mei.
Meski begitu, orderbook AMRT masih menunjukkan antrean beli yang sangat tebal. Total bid tercatat mencapai 312.450 lot, jauh di atas offer yang hanya sekitar 55.554 lot.
Kondisi tersebut menunjukkan pasar domestik mulai mencoba menyerap tekanan distribusi asing di area bawah. Area 1.350 juga terlihat menjadi titik pertahanan utama dengan antrean bid mencapai lebih dari 60 ribu lot.(*)
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.





Comments are closed.