Sun,17 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Business
  3. Pertemuan Trump-Xi tak Hasilkan Terobosan, Persaingan AS-China Masuk Babak Baru

Pertemuan Trump-Xi tak Hasilkan Terobosan, Persaingan AS-China Masuk Babak Baru

pertemuan-trump-xi-tak-hasilkan-terobosan,-persaingan-as-china-masuk-babak-baru
Pertemuan Trump-Xi tak Hasilkan Terobosan, Persaingan AS-China Masuk Babak Baru
service

KABARBURSA.COM — Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing pekan ini mungkin tidak menghasilkan terobosan besar jika diukur dengan standar pertemuan puncak AS–China. Namun pertemuan itu memperlihatkan satu hal yang cukup jelas, bahwa setelah gejolak perang dagang dan saling balas tarif dalam beberapa tahun terakhir, Washington dan Beijing tampaknya kembali pada pola lama—bersaing, saling menekan, tetapi tetap menjaga hubungan agar tidak pecah terbuka.

Dua hari pembicaraan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping menunjukkan persaingan strategis kedua negara belum berubah banyak, meski sebelumnya sempat muncul tarif tinggi ala “Liberation Day” dari Trump dan gencatan dagang sementara yang dicapai pada akhir tahun lalu.

Bagi Amerika Serikat, sejumlah persoalan utama tetap menggantung. Mulai dari kebijakan perdagangan China yang dinilai terlalu proteksionis hingga upaya Beijing memperluas pengaruh militer di kawasan Indo-Pasifik, sebagian besar belum menemukan titik temu.

Sebaliknya bagi Xi Jinping, situasi saat ini memberi ruang bernapas. Ketegangan memang belum hilang, tetapi tantangannya kembali terasa lebih terukur dan dapat diprediksi. Pekan ini Xi bahkan tampak memperkenalkan kerangka baru hubungan kedua negara yang ia sebut sebagai “stabilitas strategis yang konstruktif.”

Gencatan Perang Dagang yang Rapuh

Menurut Scott Kennedy, pakar China dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Washington, posisi China justru relatif lebih diuntungkan dibanding setahun lalu, ketika pemerintahan Trump menerapkan pendekatan perdagangan yang jauh lebih agresif.

“Dibandingkan posisi kita setahun lalu, saat tarif mencapai 145 persen dan AS benar-benar mencoba mendorong China serta dunia untuk berubah secara fundamental, sekarang kita mengalami semacam kontra-revolusi dan kembali pada stabilitas,” kata Kennedy, dikutip dari Reuters, Minggu, 17 Mei 2026.

Pernyataan itu menggambarkan perubahan besar. Pemerintahan Trump sebelumnya berupaya menggunakan tarif tinggi sebagai alat tekanan agar Beijing memberikan konsesi sepihak. Namun strategi tersebut tidak berjalan sesuai harapan.

China membalas dengan menaikkan tarif dan mengancam pembatasan pasokan mineral penting yang dibutuhkan industri Amerika. Situasi itu menciptakan kebuntuan yang membuat kedua pihak sama-sama berhitung ulang.

Sejak saat itu, Gedung Putih juga dinilai enggan mengambil langkah lebih jauh yang berisiko besar bagi ekonomi domestik, misalnya menjatuhkan sanksi terhadap bank-bank besar China atau memperketat tekanan finansial secara menyeluruh.

Trump datang ke Beijing dengan membawa sejumlah tokoh besar dunia bisnis Amerika, mulai dari CEO Tesla Elon Musk hingga CEO Nvidia Jensen Huang. Namun hasil konkret yang muncul dinilai minim. Selain jamuan kenegaraan mewah, pertemuan tersebut tidak menghasilkan banyak kesepakatan ekonomi besar yang diumumkan ke publik.

China juga tidak memberikan komitmen terbuka untuk membantu Amerika menghentikan konflik Iran yang belakangan mengguncang pasar global dan memengaruhi tingkat kepuasan publik terhadap Trump.

Craig Singleton, pengamat China dari Foundation for Defense of Democracies, menilai pertemuan itu lebih menunjukkan stabilitas ketimbang penyelesaian masalah.

“Pertemuan puncak itu memproyeksikan stabilitas, tetapi kebuntuan tetap bertahan,” kata Singleton.

Menurut dia, pertemuan tersebut “menghasilkan capaian yang sederhana, dapat dipasarkan, dan terkelola—dan mungkin hanya itu yang sanggup ditanggung hubungan AS-China saat ini.”

Gedung Putih menolak anggapan hasil pertemuan terlalu kecil. Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Trump memanfaatkan hubungan pribadinya dengan Xi Jinping untuk membawa pulang sejumlah capaian bagi masyarakat Amerika, merujuk pada penjualan pesawat Boeing dan kesepakatan sektor pertanian guna memperluas ekspor AS.

Sementara Kedutaan Besar China di Washington menggambarkan dialog Xi dan Trump sebagai pertemuan yang berlangsung “jujur, mendalam, konstruktif, dan strategis,” sekaligus membuka jalan untuk mengeksplorasi “cara yang tepat bagi dua negara besar untuk hidup berdampingan.”

Perubahan nada dalam hubungan kedua negara terlihat dari absennya sejumlah tuntutan lama Amerika. Pekan ini hampir tidak ada pembahasan terbuka mengenai isu kelebihan kapasitas industri China—topik yang selama bertahun-tahun dikeluhkan negara mitra dagang karena dianggap membanjiri pasar global dengan produk murah.

Beijing tampak nyaman dengan kondisi gencatan sementara yang rapuh ini. Di dalam negeri, ekonomi China masih menghadapi perlambatan. Pada saat yang sama, pemerintah berusaha memperkuat teknologi strategis yang dipandang penting dalam persaingan jangka panjang melawan Amerika.

Menariknya, pejabat tinggi pemerintahan Trump sejak awal memang telah meredam ekspektasi publik. Mereka menyebut tidak ada urgensi memperpanjang kesepakatan dagang sementara yang akan berakhir lima bulan lagi.

Hasil Pertemuan Dinilai di Bawah Ekspektasi

Sumber yang mengetahui negosiasi perdagangan mengatakan China sebenarnya menginginkan perpanjangan gencatan dagang lebih lama dibanding yang bersedia diberikan pemerintahan Trump.

Beijing juga menginginkan kepastian terkait investigasi Amerika yang berpotensi menghidupkan kembali sejumlah tarif impor.

Menurut sumber tersebut, kedua pihak memang tidak banyak membawa agenda besar ke meja perundingan. Sebagian kesepakatan komersial kemungkinan baru dimunculkan saat Xi diperkirakan melakukan kunjungan balasan ke Gedung Putih pada musim gugur mendatang.

Sumber itu meminta identitasnya dirahasiakan agar dapat berbicara lebih terbuka. Jika dibandingkan dengan kunjungan Trump ke China pada 2017, hasil kali ini jauh lebih kecil. Saat itu, perusahaan-perusahaan yang ikut dalam rombongan menandatangani kesepakatan dan nota kesepahaman senilai sekitar USD250 miliar.

Pekan ini, salah satu topik penting—penjualan chip kecerdasan buatan Nvidia H200 ke China—juga tidak menghasilkan terobosan. Trump memang mengklaim Boeing berhasil memperoleh kesepakatan penjualan 200 pesawat ke China. Namun jumlah itu masih jauh di bawah ekspektasi sekitar 500 unit dan lebih kecil dibanding komitmen pembelian 300 pesawat pada kunjungan tahun 2017.

Wendy Cutler, mantan pejabat sementara Perwakilan Dagang Amerika Serikat, menilai capaian ekonomi dari pertemuan ini belum memuaskan. “Hasil ekonomi yang diperoleh jauh di bawah ekspektasi,” kata Cutler.

Bagi China, pertemuan tersebut tetap dipandang positif. Profesor hubungan internasional Universitas Renmin Beijing, Cui Shoujun, menilai Washington dan Beijing kini mulai menerima kenyataan bahwa persaingan akan berlangsung lama.

“Washington dan Beijing tidak lagi berusaha mengembalikan hubungan AS-China ke masa keemasan kerja sama, tetapi mulai mengakui sifat jangka panjang dari persaingan dan perbedaan pendapat,” ujarnya.

Kalimat itu mungkin menjadi gambaran paling tepat mengenai hubungan dua ekonomi terbesar dunia saat ini. Kondisi saat ini bukan lagi soal siapa yang menang atau kalah dalam satu perundingan, melainkan bagaimana keduanya belajar hidup dalam kompetisi yang tampaknya belum akan berakhir dalam waktu dekat.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.