Tue,21 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. #KBGOut: Kasus ‘Rape Academy’, Kekerasan Seksual yang ‘Diajarkan’ dan ‘Dipelihara’ di Ruang Digital

#KBGOut: Kasus ‘Rape Academy’, Kekerasan Seksual yang ‘Diajarkan’ dan ‘Dipelihara’ di Ruang Digital

#kbgout:-kasus-‘rape-academy’,-kekerasan-seksual-yang-‘diajarkan’-dan-‘dipelihara’-di-ruang-digital
#KBGOut: Kasus ‘Rape Academy’, Kekerasan Seksual yang ‘Diajarkan’ dan ‘Dipelihara’ di Ruang Digital
service

Peringatan pemicu: isi dari artikel ini mengandung narasi eksplisit tentang pemerkosaan yang dapat memicu trauma, khususnya bagi korban/penyintas kekerasan seksual.

Dominique Pelicot, seorang laki-laki dari Selatan Prancis, melakukan kekerasan seksual terhadap istrinya sendiri, Gisèle, selama bertahun-tahun. Ia menghilangkan kesadaran perempuan itu dengan mencampurkan obat penenang ke dalam makanan dan minuman untuk membuatnya tertidur, setiap waktu. Lalu, ketika Gisèle sudah dibius, Pelicot mengundang para laki-laki lain—yang ditemuinya di sebuah ruang obrolan daring bernama “Without Her Knowledge” dalam situs “kencan” Coco—untuk memperkosa istrinya. Lebih dari 200 kali. Oleh 70 laki-laki berbeda.

Kamu pikir itu premis sebuah film atau novel fiksi? Sayangnya, bukan; ia kejadian nyata.

Kejahatan seksual yang dilakukan Dominique Pelicot itu bikin publik gempar dan marah. Kasus tersebut juga memantik media CNN untuk melakukan investigasi atas kasus-kasus kekerasan seksual dengan pola serupa. Pada Maret 2026 lalu, CNN pun mengeluarkan hasil investigasinya berjudul “Rape Academy”. Judul yang sangat ekstrem ketika pertama kali mendengarnya. Namun, semakin jauh kita membaca laporan tersebut, semakin jelas pula sebiadab apa kejahatan seksual yang terjadi hingga mereka menyebutnya demikian.

Tim CNN menelusuri Motherless.com, sebuah situs pornografi yang mendeskripsikan dirinya sebagai “moral free file host where anything legal is hosted forever.” Di sana, mereka menemukan lebih dari 20.000 video dalam kategori yang disebut “sleep content“. Isinya video-video yang merekam perempuan dalam kondisi tidur atau tidak sadarkan diri. Video-video itu diunggah oleh pengguna situs tersebut, dengan total ratusan ribu penonton. Pada Februari 2026 saja, situs ini menerima sekitar 62 juta kunjungan, dengan mayoritas audiens berbasis di Amerika Serikat.

Baca Juga: KBGO Terhadap LGBTQ+ di 2024: Mencari Ruang Digital Aman Bebas Diskriminasi

Di antara ribuan video itu, ada sebuah tagar yang berulang kali muncul: #eyecheck.

Tagar ini digunakan untuk mengkategorikan berbagai video yang menunjukkan laki-laki mengangkat kelopak mata perempuan yang sedang tidur atau tersedasi. Itu untuk membuktikan kepada penonton bahwa perempuan tersebut benar-benar tidak sadar. Beberapa video dengan tagar ini ditonton lebih dari 50.000 kali.

Lebih mengejutkan lagi, tampaknya ada komunitas yang sudah terbangun dalam website Motherless.com itu. Pasalnya, para anggota sampai bertukar cara untuk membius pasangan masing-masing.

CNN kemudian menemukan sebuah grup obrolan dengan nama “Zzz” yang mereka dapatkan juga dari salah satu pengguna Motherless. Dalam grup itu, anggotanya juga bertukar ide dan cara untuk membius pasangan. “Been wanting to do this to my Mrs for ages. I can get ***, but honestly shit scared of overdose (Sudah lama ingin melakukan ini kepada istri saya. Saya bisa mendapatkan ***, tapi takut sekali akan overdosis),” ujar salah satu pengguna grup itu. 

Pembahasan cara membius istri, takaran dosis yang aman, obat yang paling tidak meninggalkan jejak, dan cara menyembunyikan semuanya. Itulah ekosistem yang ditemukan tim investigasi. CNN bahkan menemukan seorang pengguna yang mengaku menjalankan bisnis pengiriman cairan tidur “sleeping liquid” ke seluruh dunia. Pengguna ini berasal dari Ceuta, eksklave Spanyol di Afrika Utara. Ia menjual cairan yang tidak berbau dan tidak berasa seharga 150 Euro atau sekitar 3.029.314 Rupiah pada saat artikel ini ditulis.

Baca Juga: Bernadya Speak Up Soal Komentar Melecehkan: Stop Normalisasi KBGO 

Tak berhenti di situ, CNN juga menemukan ada yang menyiarkan langsung pemerkosaan terhadap istrinya yang sedang tidak sadar. Siaran itu ditayangkan seharga 20 Dollar per penonton dengan mata uang Kripto. Dengan 20 Dollar itu, para penonton bisa memberikan instruksi kepada pengguna yang menyiarkan langsung untuk melakukan tindakan selanjutnya kepada korban.

Selama berbulan-bulan, CNN berkomunikasi secara diam-diam dengan salah satu anggota grup. Ia seorang laki-laki dari Polandia yang mereka sebut dengan nama Piotr (bukan nama asli). Piotr berbicara terbuka tentang upayanya menidurkan istrinya. Ia berbagi foto. Ia meminta saran dari anggota lain tentang dosis obat-obatan penidur. 

Piotr adalah laki-laki biasa yang, kalau sekilas kita berpapasan dengannya di pinggir jalan, rasanya tidak ada yang salah. Ia laki-laki yang punya alamat rumah, yang pergi ke restoran bersama istrinya, menjalani kehidupan sehari-hari yang tampak normal dari luar. CNN akhirnya melacak dan menemukan Piotr beserta istrinya di sebuah restoran di kota asalnya di Polandia. Namun, mereka memilih untuk tidak mengkonfrontasikan secara langsung demi keselamatan sang istri, dan meneruskan temuan mereka kepada polisi. 

Pada awal April 2026, otoritas Polandia menangkap seorang laki-laki dengan tuduhan pemerkosaan berat. Media Polandia mengidentifikasinya sebagai Piotr. Ia menghadapi hukuman tiga hingga dua puluh tahun penjara.

Baca Juga: Jadi Korban KBGO Karena Mendapat Kiriman Konten Seksual, Tapi Kenapa Malah Dikriminalisasi?

Anggota parlemen Prancis Sandrine Josso, yang juga pernah menjadi korban kekerasan seksual difasilitasi obat-obatan (drug-facilitated sexual assault) oleh seorang mantan senator, memberikan nama kepada “komunitas” ini dengan tepat. 

“Saya bahkan akan menyebutnya sebagai ‘akademi pemerkosaan online (online rape academy)’. Setiap ‘mata pelajaran’ diajarkan. Ada semua ‘mata pelajaran’ dan ‘disiplin’ yang dibutuhkan untuk menjadi seorang pemerkosa atau predator seksual yang ‘baik’,” ungkapnya pada CNN. 

Dari situlah judul investigasi CNN berasal. 

Rape academy” yang dibongkar oleh CNN ini bermarkas di ruang digital yang tiada batas ruang dan waktunya. Di Indonesia sendiri, kekerasan seksual berbasis digital terhadap perempuan terus meningkat. Kementerian Komunikasi dan Digital mencatat sekitar 1.600 laporan kasus setiap tahunnya. Angka ini sesungguhnya hanyalah puncak gunung es. Banyak kasus lain tetap tak terlihat, terbungkam oleh rasa takut korban untuk melapor, stigma sosial, hingga tekanan dan relasi kuasa yang dimiliki pelaku.

Seperti baru-baru ini, Indonesia dihebohkan oleh kasus pelecehan seksual daring yang dilakukan oleh sejumlah mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Ironi yang tak bisa dinegosiasikan: para pelaku adalah subjek yang sedang dididik untuk memahami hukum, namun justru mereproduksi kekerasan berbasis gender. 

Kasus ini mencuat setelah bocornya isi grup obrolan milik para pelaku ke ruang publik. Di dalamnya, tubuh perempuan direduksi menjadi objek diskursif: dikomentari, dinilai, dilecehkan, dan dijadikan komoditas dalam percakapan laki-laki. Perempuan tidak hadir sebagai subjek dengan agensi, melainkan sebagai entitas yang dapat diakses, dinilai, dan dikontrol secara kolektif. Pernyataan seperti “diam adalah consent” bukan sekadar candaan, melainkan manifestasi dari rape culture yang mengakar. Sebuah cara pandang yang menegasikan persetujuan aktif dan mengaburkan batas kekerasan.

Baca Juga: #KBGOut: Pornografi Hilir-Mudik di Trending Topic Medsos X, Lagi-Lagi Objeknya Perempuan

Sama seperti grup “Zzz” yang ditemukan oleh CNN, ruang digital ini berfungsi sebagai ekosistem yang memelihara solidaritas maskulin toksik. Di dalamnya, kekerasan tidak hanya dinormalisasi, tetapi juga diamini oleh sesama anggotanya. Laki-laki saling mengafirmasi praktik objektifikasi, membangun “ruang aman”; tentu bukan bagi korban, tetapi bagi pelaku untuk terus melanggengkan dominasi.

Kasus yang terjadi di dalam investigasi CNN dan grup chat FH UI itu memiliki nama. Para pegiat hak perempuan dan peneliti menyebutnya Kekerasan Berbasis Gender Online, atau KBGO, sebuah istilah yang menggambarkan segala bentuk kekerasan berbasis gender yang difasilitasi atau diperparah oleh teknologi digital.

KBGO bukan kategori baru. Komnas Perempuan telah mendokumentasikannya sejak awal 2000-an, dan dalam beberapa tahun terakhir kasusnya melonjak tajam seiring dengan semakin dalamnya kehidupan sosial kita bermigrasi ke ruang digital. Tapi meski namanya sudah ada, pemahaman publik tentang apa yang termasuk di dalamnya masih sangat terbatas dan inilah yang membuat KBGO begitu berbahaya.

Baca Juga: Pemberitaan KBGO Harusnya Berperspektif Korban, Media Jangan Nirempati

Banyak orang masih membayangkan kekerasan seksual sebagai sesuatu yang fisik dan kasat mata. KBGO cara kerjanya berbeda. Ia bisa berbentuk komentar merendahkan tentang tubuh perempuan di grup chat tertutup yang tidak pernah dilihat korban. Bisa berbentuk penyebaran foto atau video intim tanpa persetujuan yang dikenal sebagai non-consensual intimate image sharing. Bisa berbentuk cyber harassment, doxing, atau teks seksual yang dikirim paksa tanpa persetujuan korban.

Dan ia bisa berbentuk seperti grup “Zzz”, komunitas di situs Motherless.com, jaringan livestream berbayar tempat penonton memberi instruksi kepada pelaku secara real-time. Semua itu adalah KBGO dalam bentuknya yang paling terorganisir dan paling brutal. Teknologi tidak hanya memfasilitasi kekerasan itu. Teknologi mengamplifikasinya, membuatnya komunal, dan mengabadikannya. Video yang diunggah ke Motherless tidak hilang ketika korban melapor. Percakapan di grup “Zzz” tidak terhapus ketika pelaku menutup aplikasinya. Kekerasan yang terjadi dalam satu malam bisa dikonsumsi ribuan orang selama bertahun-tahun, karena hal yang sudah pernah ada di internet tidak akan pernah selamanya hilang. 

Baca Juga: #KBGOut: Deepfake Serang Jurnalis Perempuan, Pembuat Konten Gunakan Perempuan sebagai Tools

Di Indonesia juga pernah terungkap kasus KBGO yang cukup terorganisir hampir seperti investigasi CNN. Pada pertengahan 2023, sebuah utas viral di Twitter mengungkap keberadaan Google Form dan grup-grup chat di Telegram yang digunakan untuk memanipulasi foto perempuan menjadi konten pornografi. Grup Telegram ini mereka namai “Rahasia Mantan”. Seperti penyebaran gambar intim non-konsensual (NCII) dan deepfake porn. Salah satu grup bahkan memiliki 10.000 pengikut.

Perempuan-perempuan yang fotonya dikirim melalui Google Form itu bahkan mungkin tidak tahu bahwa wajah mereka sedang dimanipulasi menjadi konten pornografi dan diperjualbelikan kepada orang asing. Setelah twit peringatan itu viral, grup Telegram tersebut sempat “rehat”. Namun aktivitas mereka terpantau segera berpindah platform, malam itu juga, muncul akun TikTok baru dengan konten serupa. 

Kita pernah melihat pola seperti ini. CNN menemukan hal yang sama pasca-kasus Pelicot. Pola demi pola muncul di mana-mana, di sekitar kita. Menutup satu pintu tidak menghentikan apapun selama rumahnya masih berdiri.

KBGO bukan hanya menyebabkan trauma psikologis yang dalam dan berkepanjangan. KBGO juga sangat sering menjadi pintu masuk, atau bahkan pendorong langsung, menuju kekerasan fisik di dunia nyata. Dalam kasus-kasus yang didokumentasikan CNN, ruang digital adalah tempat di mana kekerasan direncanakan sebelum dieksekusi. Grup “Zzz” adalah tempat di mana pelaku seperti Piotr mendapatkan instruksi, dosis obat, dan keberanian kolektif untuk melakukan apa yang kemudian mereka lakukan kepada istri-istri mereka yang sedang tidur.

KBG bisa mengarah juga kepada femisida. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mencatat lonjakan kasus pembunuhan perempuan oleh pasangan atau mantan pasangan. Komnas Perempuan dan berbagai lembaga pemantau mencatat bahwa sebagian besar kasus femisida diawali dari cemburu dan sakit hati, eskalasi KDRT, ekonomi, dan banyak lagi. 

Baca Juga: ‘Aku Gak Mau Asal Follback Akun’: Dampak Traumatis Korban KBGO yang Dikirim Foto Kelamin

Femisida adalah puncak dari sistem kekerasan yang terstruktur  yang dimulai dari cara pandang bahwa tubuh dan hidup perempuan adalah sesuatu yang bisa dikuasai, dikontrol, dan jika perlu, dihapuskan. Grup “Zzz” yang ditemukan CNN, grup “Rahasia Mantan” di Telegram, grup chat FH UI, semuanya adalah bagian dari sistem yang sama. Sistem yang mengajarkan bahwa perempuan adalah objek. Bahwa diam adalah consent. Bahwa kuasa atas tubuh perempuan adalah hak yang bisa dipelajari, dilatih, dan dibagikan. Ketika logika itu cukup mengakar, ia tidak berhenti di layar.

Psikolog Annabelle Montagne yang mengevaluasi para terdakwa dalam persidangan Pelicot menyebut dinamika komunitas online ini sebagai semacam “persaudaraan/brotherhood” yaitu ikatan yang dibangun di atas kekerasan bersama, yang memenuhi kebutuhan narsistik kolektif para pelaku. Apa yang ia temukan di ruang sidang Prancis itu, kita temukan juga bekasnya di grup-grup chat di Indonesia. Skala dan medannya saja yang berbeda. Tapi mekanisme sama yaitu kekerasan menjadi lebih mudah dilakukan ketika ada komunitas yang membuatnya terasa normal.

Indonesia sebenarnya memiliki perangkat hukum yang, di atas kertas, cukup untuk melawan semua ini. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS) adalah pencapaian legislatif yang diperjuangkan selama bertahun-tahun. UU TPKS secara eksplisit mengakui kekerasan seksual berbasis elektronik sebagai tindak pidana. Pasal 14 Ayat (1) menjerat pelaku perekaman, transmisi konten seksual tanpa persetujuan, hingga penguntitan digital untuk tujuan seksual. Ancaman hukumannya: empat tahun penjara dan denda hingga 200 juta rupiah.

Namun implementasinya, sayang, masih terasa asing.

Baca Juga: Kasus KBGO: di Medsos, Ibu Diminta Pelaku Cabuli Anaknya, Pelaku Harus Dihukum

Kita sudah melihat bagaimana prosedur legal bekerja—atau lebih tepatnya, tidak bekerja—dalam kasus-kasus yang sudah ada. Korban yang datang melapor dengan bukti konkret masih disambut dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyalahkan. Aparat yang tidak punya pemahaman tentang cara kerja KBGO tidak akan bisa menangani laporan KBGO dengan baik, sebagus apa pun regulasinya. Investigasi CNN mencatat hambatan yang sama persis. Amanda Stanhope datang ke polisi membawa bukti video dirinya diserang saat tidak sadar, dan polisi berkata kepadanya bahwa bukti itu tidak bisa digunakan karena ia “terlihat seperti pura-pura tidur.” Jika bukti sepersonal dan sekonkret itu masih bisa diabaikan, apa yang bisa diharapkan korban KBGO yang jejaknya jauh lebih abstrak—sebuah komentar di grup chat, sebuah tangkapan layar, sebuah frasa yang dinormalisasi dalam percakapan yang dianggap “bercanda”?

Di tingkat platform, situasinya tidak lebih baik. Ketika kasus grup Telegram “Rahasia Mantan” viral pada 2023, tidak ada penindakan sistemik. Tidak ada koordinasi antara platform dan aparat penegak hukum. Yang ada hanya permainan kucing-tikus, di mana pelaku selalu satu langkah lebih cepat.

Negara punya undang-undang. Tapi undang-undang yang tidak diimplementasikan dengan sungguh-sungguh adalah janji kosong kepada korban.

Situasi ini perlu direspon sebagai hal darurat. Pada 19 April 2026, misalnya, Aliansi Perempuan Indonesia mengeluarkan rilis pers berjudul Darurat Kekerasan Seksual di Kampus: Membongkar Relasi Kuasa dan Membangun Kekuatan Anti Kekerasan Seksual. Siaran pers ini menanggapi ramainya kasus kekerasan seksual yang berbasis di kampus pasca-pengungkapan kasus KBGO di Universitas Indonesia dan lembaga perguruan tinggi lainnya.  

Baca Juga: Maraknya KBGO dari AI: Pentingnya Semangat 16 HAKTP Terus Digerakkan

API menutup rilis pers mereka dengan delapan tuntutan. Pertama, pembentukan mekanisme pengawasan independen yang melibatkan organisasi mahasiswa, pendamping korban, dan masyarakat sipil. Kedua, pendidikan kritis tentang consent, relasi kuasa, dan keadilan gender sebagai bagian dari kurikulum inti—termasuk pelatihan perspektif korban dan UU TPKS No. 12 Tahun 2022 bagi seluruh sivitas akademika. Ketiga, protokol perlindungan khusus bagi pelapor, saksi, dan pendamping korban—karena selama melapor masih berarti mengancam karier akademik sendiri, keheningan akan selalu menjadi pilihan yang terasa lebih aman. Keempat, penghentian logika militeristik dalam struktur kampus dan larangan eksplisit terhadap objektifikasi tubuh perempuan dalam segala bentuk kegiatan.

Kelima, pengembalian fungsi Satgas PPKS yang spesifik dan berperspektif gender—bukan dilebur ke dalam satgas kekerasan umum yang kehilangan sensitivitasnya. Keenam, perlindungan khusus bagi perempuan dengan disabilitas psikososial yang kerap menghadapi berlapis-lapis diskriminasi ketika mengakses keadilan. Ketujuh, penolakan tegas terhadap standar “korban yang sempurna”—konstruksi yang selama ini digunakan untuk mendiskreditkan kesaksian korban. Konstruksi yang sama yang dihadapi Amanda Stanhope ketika polisi berkata ia “terlihat pura-pura tidur.” Korban yang sama-sama sendirian. Dan kedelapan, seruan kepada seluruh masyarakat untuk mengawal keseriusan semua pihak dan melindungi kerahasiaan data pribadi korban—karena terlalu sering, viralnya sebuah kasus justru menjadi trauma kedua bagi penyintas.

Dari investigasi CNN hingga grup chat FH UI, benang merahnya selalu sama.

Baca Juga: Riset TaskForce KBGO 2022: Sextortion Jadi Ancaman Paling Serius

Kekerasan seksual jarang berdiri sendiri. Ia tumbuh di ruang-ruang yang membiarkannya lewat begitu saja, di lingkungan yang memilih diam, dan di kebiasaan yang pelan-pelan membuatnya terasa biasa.

Mengubah keadaan tidak cukup hanya dengan aturan, walaupun itu tetap penting. Perubahan sering dimulai dari hal yang kelihatannya kecil. Pilihan untuk tidak ikut menertawakan, tidak ikut menyetujui, tidak ikut diam. Di grup chat, di ruang kelas, di rapat kampus, atau di lingkaran pertemanan, selalu ada momen ketika seseorang bisa memilih untuk berhenti dan bersikap berbeda.

Rasa malu juga sering salah tempat. Bukan korban yang seharusnya menanggungnya ketika mereka berani bicara. Rasa malu seharusnya ada pada mereka yang menyakiti dan bersembunyi di balik posisi atau kekuasaan. Juga pada lingkungan yang lebih sibuk menjaga citra daripada melindungi orang yang terluka. Dan mungkin, sedikit banyak, pada kita yang pernah melihat tanda-tandanya tapi memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.