Tue,11 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Magang Enam Bulan, Lalu Apa? Realita Maganghub di Tengah Janji Semu 19 Juta Lapangan Pekerjaan

Magang Enam Bulan, Lalu Apa? Realita Maganghub di Tengah Janji Semu 19 Juta Lapangan Pekerjaan

magang-enam-bulan,-lalu-apa?-realita-maganghub-di-tengah-janji-semu-19-juta-lapangan-pekerjaan
Magang Enam Bulan, Lalu Apa? Realita Maganghub di Tengah Janji Semu 19 Juta Lapangan Pekerjaan
service

Sebagai lulusan baru (fresh graduate), R (22) berjibaku mencari setidaknya satu dari 19 juta lapangan pekerjaan fana yang selama ini dijanjikan. Setelah menamatkan studi sarjana, ia menjadi seorang freelancer sembari mencari pekerjaan tetap. R juga menghadapi dilema sebagai fresh graduate. Baru lulus kuliah, tapi untuk mencari kerja, ia dituntut memiliki pengalaman, sedangkan untuk mendapatkan pengalaman itu ia harus punya pekerjaan. Ibarat lingkaran setan tak berujung.

Di tengah sulitnya mencari kerja, program magang nasional (Maganghub) mulanya muncul sebagai sebuah angin segar bagi para fresh graduate seperti R. Terutama karena program ini menawarkan kesempatan memperoleh pengalaman kerja sekaligus uang saku setara Upah Minimum Regional (UMR).

“Banyak banget teman-teman fresh graduate yang, karena tahu gimana susahnya lapangan pekerjaan di Indonesia, jadi menganggap Maganghub itu sebagai salah satu tujuan utama ketika mereka lulus,” ucap R (22) kepada Konde.co. R sendiri akhirnya mengikuti Maganghub batch 2.

Bagi sebagian fresh graduate seperti R, Maganghub tidak lagi dilihat sebagai kegiatan tambahan setelah lulus kuliah. Ia menjadi jalan alternatif ketika pekerjaan tetap sulit didapatkan. Proses magang ini kemudian menempati posisi yang semakin penting dalam perjalanan seseorang menuju dunia kerja. Peserta berharap mendapatkan pengalaman selama enam bulan berproses, lalu membawa pengalaman tersebut ketika kembali bersaing untuk mendapatkan pekerjaan.

Baca Juga: Tahukah Kamu, Di Balik Jajananmu Tersembunyi Peluh Pekerja Indomaret

Persepsi itu lagi-lagi muncul karena dilema kesulitan mencari kerja—yang bukan hal baru bagi para lulusan perguruan tinggi. 

Melansir data Statistik Pendidikan Tinggi 2025, setidaknya terdapat 2.547.717 lulusan perguruan tinggi yang tercatat di Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Angka ini bukan sekadar menunjukkan banyaknya orang muda yang menyelesaikan pendidikan tinggi setiap tahun. Tetapi juga memperlihatkan jumlah orang yang kemudian harus berebut masuk ke pasar kerja Indonesia.

Setelah menghabiskan waktu bertahun-tahun duduk di bangku kuliah, mereka keluar dari perguruan tinggi. Membawa selembar ijazah dengan harapan untuk segera memasuki dunia kerja. 

Namun, ijazah tidak selalu menjadi tiket untuk mendapat pekerjaan pertama. Di hadapan lowongan pekerjaan, fresh graduate kembali berhadapan dengan berbagai persyaratan. Pengalaman kerja menjadi salah satu yang paling sering dicari, sementara bagi mereka yang baru saja tamat perguruan tinggi, pengalaman tersebut justru belum banyak dimiliki.

Bagi para lulusan baru, pilihan yang tersedia tidaklah banyak. Antara mencari pekerjaan tetap, mengambil pekerjaan lepas, atau mencoba kesempatan lain yang setidaknya dapat memberikan pengalaman baru dan pemasukan.

Pada titik inilah persoalannya menjadi seperti lingkaran setan yang sulit diputus. Untuk mendapatkan pekerjaan, mereka membutuhkan pengalaman. Tetapi untuk memperoleh pengalaman, mereka membutuhkan kesempatan untuk bekerja terlebih dahulu. 

Baca Juga: Tentang Kopi Pahit dan Mimpi yang Manis: Cerita Mutia, Potret Pekerja Perempuan di Kota Kecil

Di tengah situasi seperti ini, program pemagangan kemudian hadir sebagai jalan keluar. Salah satunya adalah Maganghub, program Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker). Program ini menawarkan kesempatan bagi para fresh graduate untuk mendapatkan pengalaman kerja selama enam bulan sekaligus menerima uang saku.

Antusiasme terhadap Maganghub juga tidak hanya muncul dari pengalaman orang-orang yang mendaftar saja. Di media sosial, program ini turut menjadi bahan percakapan di antara para pencari kerja. Informasi bersirkulasi mengenai pembukaan program, perusahaan yang tersedia, proses pendaftaran, hingga pengalaman peserta pada batch sebelumnya.

Diskursus di media sosial pun memperlihatkan posisi Maganghub di mata pencari pekerja. Di satu sisi, program ini dilihat sebagai kesempatan yang menarik karena menawarkan pengalaman kerja dan uang saku. Di sisi lain, muncul pula pertanyaan mengenai proses seleksi, seberapa jelas informasi yang diberikan kepada peserta, dan apa yang akan mereka dapatkan setelah enam bulan pemagangan selesai.

Rupanya Maganghub juga dilematis. Program ini memang menawarkan jalan keluar dari persoalan klasik fresh graduate: sulit mendapatkan pengalaman karena belum pernah bekerja. Namun, jika pengalaman tersebut telah diperoleh melalui magang selama enam bulan, lalu apa yang terjadi setelahnya? Apakah peserta menjadi sepuluh langkah lebih dekat dengan pekerjaan tetap? Atau mereka hanya kembali ke pasar dengan tambahan pengalaman dalam CV mereka?

Pertanyaan di atas bukan tanpa alasan. Sebagai peserta Maganghub Batch 2 Angkatan 2 di 2026 ini, R (22) menceritakan persoalan sudah muncul sejak proses seleksi. Ia menemukan perusahaan yang kembali meminta CV meski dokumen tersebut telah dia masukkan dalam sistem. Selain itu, setelah proses wawancara, tidak semua peserta memperoleh informasi mengenai hasil seleksi. Sebagian mendapatkan kabar ketika dinyatakan lolos. Sementara peserta lain tidak mengetahui dengan jelas bagaimana kelanjutan proses mereka.

Baca Juga: Dipaksa Bekerja di Pub dan Dieksploitasi Seksual, Cerita di Balik TPPO di Maumere

“Pengalaman dari setelah interview itu menurutku lebih berantakan lagi,” sebut R. “Karena kalau dari perusahaan pertama yang aku apply, itu cara mereka nge-feedback setelah FGD adalah dengan call di hari itu juga, hari setelah FGD atau maksimal besok. Dan mereka call-nya itu ke kandidat peserta yang sudah lolos.”

Lanjut R, “Tapi kalau kandidat peserta yang belum lolos itu sama sekali nggak dikasih jawaban apa-apa. Pun juga dengan perusahaan kedua yang aku apply, aku sama sekali nggak ada follow up apapun setelah kirim CV dan portofolio.”

Bagi para pencari kerja, ketidakjelasan semacam itu bukan sekadar persoalan teknis. Mereka sedang berada dalam masa yang penuh ketidakpastian. Pengalaman R sebagai peserta Maganghub batch 2 menunjukkan bagaimana ketidakpastian itu masih menjadi bagian dari perjalanan peserta. Meskipun begitu, pengalaman peserta Maganghub lainnya juga turut memperlihatkan bahwa program ini juga memiliki kemungkinan lain. Misalnya, para pekerja magang dapat berlanjut menjadi pekerja kontrak.

Hal ini dialami I (24) sebagai alumni Maganghub batch 1. I menceritakan ketika ia menerima tawaran melanjutkan pekerjaan melalui skema PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu) setelah menyelesaikan enam bulan proses magang. Selama program berlangsung, ia mendapatkan pengalaman kerja sekaligus penghasilan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan menabung.

Pengalaman I menunjukkan bahwa Maganghub memang dapat menjadi jembatan menuju pekerjaan. Enam bulan yang ia habiskan tidak berhenti sebagai pengalaman yang hanya dapat ditambahkan ke dalam CV, melainkan berlanjut menjadi kesempatan bekerja. Namun, pengalaman tersebut juga tidak otomatis menjadi gambaran bagi seluruh peserta. Dirinya melihat sejumlah alumni Maganghub yang setelah menyelesaikan program magang harus kembali mencari pekerjaan lain.

Baca Juga: Cerita Buruh PT Amos Perjuangkan THR: Kami Mesti Mogok Kerja Dulu

Perbedaan pengalaman antara peserta Batch 1 dan Batch 2 ini membuat Maganghub tidak cukup dilihat hanya dari pertanyaan apakah program tersebut berhasil atau tidak. Pengalaman I menunjukkan bahwa program magang nasional ini dapat membuka jalan menuju pekerjaan. Sementara pengalaman R memperlihatkan persoalan yang muncul bahkan sebelum peserta masuk ke dalam tahap pemagangan. 

Keduanya sama-sama datang sebagai lulusan baru yang membutuhkan pengalaman dan kesempatan kerja. Tetapi menghadapi situasi yang berbeda dalam mengikuti program.

Di sisi lain, pengalaman I juga memperlihatkan batas antara pekerja magang dan pegawai tetap. Setelah mengetahui besaran gaji staf di departemennya, ia menyadari bahwa kompensasi yang ia terima berada pada angka yang sama seperti pekerja tetap. Hal itu kemudian membuatnya merasa memiliki beban moral untuk mengerjakan pekerjaannya. Ia juga memahami kekhawatiran bahwa program ini lebih menguntungkan pihak perusahaan karena upah sepenuhnya dibayarkan oleh Kemnaker.

“Waktu pertama kali aku masuk, itu memang staf-staf di Departemen aku tuh mikirnya, aku anak magang. Jadi memang workload yang diberikan ke aku itu benar-benar magang aja, gitu,” terang I kepada Konde.co.

“Cuma, at the same time, aku merasa itu gak fair untuk diriku pribadi. Artinya, memang staf-staf di departemen aku ini sangat berhubungan dengan gaji yang mereka dapatkan. Setelah melihat gaji yang mereka dapatkan, itu sama persis sama aku. Jadi kayak aku merasa, ada beban moral di situ,” lanjutnya.

Di sisi lain, R juga mempertanyakan sejauh mana pemerintah melakukan monitoring dan evaluasi terhadap perusahaan yang menerima peserta. Menurutnya, ada risiko peserta hanya menjadi sumber daya manusia yang dimanfaatkan selama program berlangsung.

Baca Juga: Eksploitasi Seksual Hingga Femisida: Realita Pekerja Seks yang Tak Banyak Dibicarakan

“Dan menurut aku pada akhirnya mahasiswa fresh graduate itu hanya sebagai SDM-SDM yang di capitalize aja. Bahwa dengan dikasih 5,7 (juta) per bulan selama 6 bulan itu dianggap ya udah, udah cukup,” jelas R.

Kritik ini justru menjadi penting terhadap Maganghub. Di satu sisi, program ini hadir di tengah persoalan nyata yang dihadapi oleh orang muda. Salah satunya, sulitnya mendapatkan pekerjaan pertama. Bagi fresh graduate seperti R, program ini menawarkan kemungkinan untuk memperoleh pengalaman ketika pekerjaan tetap belum didapatkan. Bagi I, kesempatan itu bahkan berlanjut menjadi pekerjaan mulai skema PKWT.

Namun, keberhasilan tersebut tidak semestinya membuat pembahasan berhenti pada jumlah peserta yang berhasil ditempatkan atau mereka yang memperoleh pekerjaan setelah program. Justru karena Maganghub menjadi penting bagi fresh graduate, ukuran keberhasilannya program perlu ditinjau lebih jauh.

Opini warganet tentang program Maganghub (sumber foto: tangkapan layar Konde.co)

Opini warganet tentang program Maganghub (sumber foto: tangkapan layar Konde.co)

Apa yang akan terjadi kepada peserta setelah enam bulan? Berapa banyak yang mendapatkan pekerjaan? Berapa banyak yang direkrut oleh perusahaan tempat mereka magang? Dan berapa banyak yang mesti kembali mengirim lamaran ke perusahaan setelah program selesai?

Baca Juga: Perempuan Cirebon Melawan dan Cabuti Sawit, Praktik Ekofeminisme Bekerja Merawat Bumi

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting. Sebab bagi fresh graduate, mereka tidak sedang mencari kegiatan untuk mengisi waktu setelah lulus. Mereka sedang mencari pekerjaan. Jika setelah magang enam bulan mereka tetap harus mencari kerja lagi, jangan-jangan justru program ini membuat perjuangan atas pertaruhan nasib mereka semakin panjang.

Opini warganet tentang program Maganghub (sumber foto: tangkapan layar Konde.co)

Opini warganet tentang program Maganghub (sumber foto: tangkapan layar Konde.co)

Pada akhirnya, realitas Maganghub tidak sesederhana antara program yang berhasil atau gagal. Program ini dibutuhkan karena orang muda kesulitan mendapatkan pekerjaan. Tetapi justru karena kebutuhan itu besar, program ini perlu terus dipertanyakan. 

Apakah enam bulan pemagangan benar-benar membuka jalan menuju pekerjaan yang layak? Atau hanya solusi sementara dengan efek domino di belakangnya? Lantas, orang muda masih harus bergulat dengan kebutuhan mencari kerja tetap dan layak di tengah kesulitan ekonomi, sedangkan 19 juta lapangan pekerjaan yang diagung-agungkan itu senantiasa menjadi angan-angan semu.

(Editor: Salsabila Putri Pertiwi)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.